16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Fikih Muslimah: Bolehkah Berhaji tanpa Pendamping?

Fikih Muslimah: Bolehkah Berhaji tanpa Pendamping?Fiqhislam.com - Menunaikan ibadah haji menjadi dambaan setiap umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun remaja. Bahkan, tak jarang anak usia di bawah 10 tahun pun diajak serta.

Melaksanakan ibadah haji merupakan perintah Allah yang termaktub dalam surah Al-Maidah ayat 97. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj: 27).

Sebagaimana penjelasan surah Al-Maidah ayat 97, berhaji adalah kewajiban bagi setiap Muslim, khususnya mereka yang sudah mampu pergi ke Baitullah (Ka’bah).

Syarat mampu di sini, sebagaimana pendapat mayoritas ulama adalah kemampuan dari segi materi (biaya), sehat, aman, dan ada alat transportasi. Sebagian ulama lainnya menambahkan syarat kemampuan, memahami prosesi manasik haji dengan baik dan benar.

Setiap tahun, jumlah umat Islam yang menunaikan ibadah haji mencapai jutaan orang. Dari Indonesia jumlahnya pada tahun 2011 lalu sekitar 221 ribu orang. Sebagian besar jumlahnya adalah perempuan. Baik yang berangkat bersama orang tua, suami, saudara, atau lainnya. Namun, sebagian lainnya tanpa ada pendamping, alias tidak ada mahramnya. Bagaimanakah hukumnya perempuan yang berhaji tanpa didampingi mahramnya?

Dalam sebuah riwayat, Rasul SAW memuji seorang perempuan yang tidak keluar dari rumah, bila tidak ada izin dari suaminya. Bahkan, banyak riwayat yang mengharamkan seorang perempuan keluar rumah tanpa izin suaminya. Jangankan untuk berhaji yang memerlukan biaya besar dan keamanan yang terpelihara, keluar rumah pun ada aturannya.

Apakah alasannya hingga bila keluar rumah harus bersama suami atau ada sanak familinya? Sebab, bila tanpa ada pendamping yang terdekat dengannya, dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya, dan keamanannya pun tidak terjamin. Jadi, kalaupun harus atau terpaksa keluar rumah, maka hendaknya disertai dengan pendamping atau keluarganya yang terdekat.

Karena itu, pengharaman tersebut bukan karena semata-mata kepergiannya (safar), tapi pendamping (mahram), demi menjaga keamanan diri si perempuan agar terhindar dari fitnah.

Persoalannya kemudian, jika kita percaya perjalanan (haji) itu aman, karena si perempuan juga tidak sendirian—sebab ia bersama rombongan yang bisa menjamin keamanannya—apakah tetap diharamkan?

Banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai masalah ini. Ada yang membolehkan, namun ada pula yang melarangnya.

Yang melarang perempuan bepergiaan tanpa mahram beralasan pada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu Abbas RA. Janganlah seorang wanita pergi (lebih dari) tiga hari kecuali bersamanya seorang mahram. (HR. Muslim).

Menurut Imam Nawawi, pengarang kitab Riyadhus Shalihin, kata tiga hari dalam hadits di atas bukanlah pembatasan untuk bisa dinamakan bepergian. Artinya bisa setengah hari, satu hari, dua hari, maupun lebih, tanpa disertai dengan mahramnya. Demikian pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA.

Al-Qadhi mengatakan, para ulama telah bersepakat tidak memperbolehkan perempuan bepergian selain haji dan umrah, kecuali bersama seorang mahram kecuali hijrah dari Darul Harb (negeri kafir yang memeranginya).

Kalangan ulama lainnya berpegang pada penjelasan surah Al-Ahzab ayat 59. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat di atas memang menegaskan supaya istri Nabi dan istri orang yang beriman, hendaknya mereka memakai jilbab dengan baik, agar terjaga keamanannya. Walaupun tidak spesifik, namun itu sama halnya dengan memberikan penegasan supaya seorang perempuan tidak menampakkan diri kepada orang lain yang bukan suaminya maupun anggota keluarganya.

Sementara itu, para ulama lain berpendapat, berhaji merupakan perintah Allah, maka ia harus dipenuhi. Sebab, perintah berhaji itu ditujukan kepada setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan selama mereka mampu.

Para ulama seperti Abu Hanifah, Hasan Al-Bashri, dan Ibrahim An-Nakha’i, menentukan sejumlah syarat dalam berhaji. Salah satunya adalah aman (termasuk bagi perempuan), yakni dengan disertai suaminya atau anggota keluarganya (mahram).

Ulama Mazhab Syafi'i seperti Ibnu Sirrin, Al-Auza’i, dan lainnya, tidak menentukan persyaratan mahram, akan tetapi adanya keamanan bagi dirinya. Dan keamanan yang lebih terjamin dan terhindar dari fitnah adalah pemeliharaan dari suaminya. Jika tidak ada pendamping dari anggota keluarganya, maka tidak wajib baginya untuk berhaji.

Ada pula yang menambahkan, dari kalangan ulama Syafi'iyah, bahwa berhaji diperbolehkan bagi perempuan Muslim, asal dalam kepergiannya ditemani oleh beberapa orang perempuan yang terpercaya. Seandainya hanya seorang saja, maka tidak wajib baginya untuk berhaji. Akan tetapi, ia diperbolehkan pergi bersamanya.

Apalagi di zaman sekarang ini, banyak jamaah haji yang bepergian dengan banyak rombongan, yang di dalamnya terdapat sekelompok perempuan serta para laki-laki yang pergi bersama-sama. Dengan demikian, insya Allah, keamanannya lebih terjaga. Wallahua’lam.

republika.co.id