22 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 25 Januari 2022

basmalah.png
TUNTUNAN UMRAH dan HAJI

Berapa Kali Nabi Muhammad Menunaikan Ibadah Haji?

Berapa Kali Nabi Muhammad Menunaikan Ibadah Haji?Fiqhislam.com - Berapa kali Nabi Muhammad SAW  berhaji dalam hidupnya? Diriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Berapa kali kamu berperang menyertai Rasulullah SAW?”

Dia menjawab, “Tujuh belas kali.” Kata Abu Ishaq, “Kemudian Zaid bin Arqam bercerita kepadaku bahwa Rasulullah SAW pernah berperang sembilan belas kali, dan beliau berhaji sekali setelah beliau berhijrah, yaitu haji wada’.” (Muslim bab Haji Nabi SAW).

Sementara itu Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah tinggal di Madinah selama sembilan tahun namun beliau belum berhaji. Kemudian pada tahun kesepuluh beliau mengumumkan bahwa beliau akan berhaji, sehingga banyak orang yang hadir ke Madinah yang kesemuanya ingin turut serta bersama Rasulullah SAW dan melakukan amal ibadah seperti beliau.” (Muslim bab haji Nabi SAW)



Inilah haji Wada’ atau haji perpisahan. Beliau melakukannya di akhir hayatnya seolah-olah menjadi isyarat bahwa tugas beliau menemani dan membimbing umat akan segera selesai. Rasul yang penuh kasih akan segera bertemu Sang Kekasih. Dengan diikuti kurang lebih 90.000 orang, Rasulullah SAW berangkat dari Madinah pada lima atau empat hari terakhir dari bulan Dzulqa’dah.

Haji Wada’ merupakan kesempatan yang penting bagi Rasulullah SAW untuk mengajarkan manasik haji kepada umatnya. Kaum muslimin telah belajar tata cara shalat, puasa, zakat dan segala hal yang berkaitan dengan ibadah, hak dan kewajiban. Kini saatnya bagi beliau untuk menjelaskan kepada mereka tata cara pelaksanaan ibadah haji. Mulai dari apa itu haji tamattu, qiran dan ifrad. Menjelaskan mana yang rukun, wajib dan sunah haji. Mana larangan dan apa saja hukumannya.

Penjelasan tentang hal ini bisa kita lihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA yang terdapat dalam Shahih Muslim. Haji Wada’ memiliki nilai yang agung berkaitan dengan dakwah Islam dan nilai-nilai hidup bagi seorang muslim. Hal ini bisa kita simak dalam khutbah yang beliau sampaikan ketika wukuf di Arafah. Di antara nilai-nilai penting tersebut adalah: Pertama, Terjaganya darah, nyawa, harta dan kehormatan manusia. Kedua, Dihapusnya segala macam bentuk riba dan tingkah laku jahiliyah.

Ketiga, Peringatan agar waspada terhadap bujuk rayu setan. Keempat, Perintah berbuat baik kepada wanita. Kelima, Perintah berpegang kepada Al-Qurían dan Sunnah. Keenam, Hubungan penguasa dan rakyat. Keagungan yang lain dari haji Wada’ ini adalah dengan turunnya ayat 3 Surat Al-Maidah, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Ayat yang menjelaskan tentang paripurnanya risalah Islam. [yy/ihram]

Oleh Ustaz H Bobby Herwibowo, Lc

Berapa Kali Nabi Muhammad Menunaikan Ibadah Haji?Fiqhislam.com - Berapa kali Nabi Muhammad SAW  berhaji dalam hidupnya? Diriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Berapa kali kamu berperang menyertai Rasulullah SAW?”

Dia menjawab, “Tujuh belas kali.” Kata Abu Ishaq, “Kemudian Zaid bin Arqam bercerita kepadaku bahwa Rasulullah SAW pernah berperang sembilan belas kali, dan beliau berhaji sekali setelah beliau berhijrah, yaitu haji wada’.” (Muslim bab Haji Nabi SAW).

Sementara itu Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah tinggal di Madinah selama sembilan tahun namun beliau belum berhaji. Kemudian pada tahun kesepuluh beliau mengumumkan bahwa beliau akan berhaji, sehingga banyak orang yang hadir ke Madinah yang kesemuanya ingin turut serta bersama Rasulullah SAW dan melakukan amal ibadah seperti beliau.” (Muslim bab haji Nabi SAW)



Inilah haji Wada’ atau haji perpisahan. Beliau melakukannya di akhir hayatnya seolah-olah menjadi isyarat bahwa tugas beliau menemani dan membimbing umat akan segera selesai. Rasul yang penuh kasih akan segera bertemu Sang Kekasih. Dengan diikuti kurang lebih 90.000 orang, Rasulullah SAW berangkat dari Madinah pada lima atau empat hari terakhir dari bulan Dzulqa’dah.

Haji Wada’ merupakan kesempatan yang penting bagi Rasulullah SAW untuk mengajarkan manasik haji kepada umatnya. Kaum muslimin telah belajar tata cara shalat, puasa, zakat dan segala hal yang berkaitan dengan ibadah, hak dan kewajiban. Kini saatnya bagi beliau untuk menjelaskan kepada mereka tata cara pelaksanaan ibadah haji. Mulai dari apa itu haji tamattu, qiran dan ifrad. Menjelaskan mana yang rukun, wajib dan sunah haji. Mana larangan dan apa saja hukumannya.

Penjelasan tentang hal ini bisa kita lihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA yang terdapat dalam Shahih Muslim. Haji Wada’ memiliki nilai yang agung berkaitan dengan dakwah Islam dan nilai-nilai hidup bagi seorang muslim. Hal ini bisa kita simak dalam khutbah yang beliau sampaikan ketika wukuf di Arafah. Di antara nilai-nilai penting tersebut adalah: Pertama, Terjaganya darah, nyawa, harta dan kehormatan manusia. Kedua, Dihapusnya segala macam bentuk riba dan tingkah laku jahiliyah.

Ketiga, Peringatan agar waspada terhadap bujuk rayu setan. Keempat, Perintah berbuat baik kepada wanita. Kelima, Perintah berpegang kepada Al-Qurían dan Sunnah. Keenam, Hubungan penguasa dan rakyat. Keagungan yang lain dari haji Wada’ ini adalah dengan turunnya ayat 3 Surat Al-Maidah, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Ayat yang menjelaskan tentang paripurnanya risalah Islam. [yy/ihram]

Oleh Ustaz H Bobby Herwibowo, Lc

Berapa Kali Nabi Muhammad Melaksanakan Umrah?

Berapa Kali Nabi Muhammad Melaksanakan Umrah?


Fiqhislam.com - Nabi Muhammad, berdasarkan riwayat melaksanakan ibadah umrahnya sebanyak empat kali. Ini dilakukan dalam empat tahun yang berbeda setelah beliau hijrah ke Madinah.

Dikutip dari buku Panduan Pelestarian Haji Mabrur yang diterbitkan Kementerian Agama, empat umrah Nabi itu adalah:

1. Umrah Nabi Muhammad pada tahun keenam Hijriyah dengan miqat di Bir Ali (Zul Hulaifah) beserta para sahabatnya sebanyak 1.400 orang. Akan tetapi, perjalanan umrah Nabi ini tidak terlaksana dan hanya berakhir di Hudaibiyah.

Karena, pada saat itu penduduk Makkah tidak mengizinkan Nabi memasuki Kota Makkah, meskipun hanya bertujuan untuk umrah saja. Dan ini yang menyebabkan terjadinya perjanjian Hudaibiyah yang terkenal dalam sejarah.

2. Umrah Nabi Muhammad pada bulan Zulqaidah tahun ketujuh Hijriyah sebagai umrah qadha (pengganti) dengan mengambil miqat di Ya'jij, suatu tempat dekat kota Makkah. Dan, Nabi beserta para sahabatnya tinggal di Makkah selama tiga hari.

3. Umrah Nabi Muhammad pada bulan Zulqaidah tahun kedelapan Hijriyah sekembali dari penaklukan daerah Thaif. Beliau singgah di kampung bernama Ji'ronah. Di kampung ini, Nabi mengambil miqat ihram umrah. Karena Nabi bersama sahabatnya memasuki Kota Makkah pada bulan Ramadhan (Fathu Makkah) tanpa ihram umrah, maka sebagian sahabat mengatakan umrah Nabi di Ji'ronah ini juga adalah umrah qadha (pengganti).

4. Umrah Nabi pada saat pelaksanaan ibadah haji wada sekaligus melaksanakan umrah (haji qiran) yang terjadi pada bulan Zulhijah, dengan miqat ihram dari Zul Hulaifah (Bir Ali) pada 25/26 Dzulqaidah tahun kesepuluh Hijriyah. [yy/ihram]

 

Tags: Ibadah Haji | Haji | Umrah