29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Menjadi Mabrur tidaklah Mudah

Menjadi Mabrur tidaklah Mudah

Fiqhislam.com - Tujuan ibadah yang diwajibkan pada setiap diri umat Islam, termasuk haji adalah mencari rida Allah. Orang yang mampu meraih rida Allah dalam melaksanakan haji itulah yang mendapatkan haji mabrur (diterima). Dan, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW bahwa tidak ada balasan lain bagi haji mabrur, kecuali surga.

Menjadi haji mabrur tidaklah mudah. Banyak godaan dan rintangan yang siap menghadang. Karena itulah, setiap Muslim diperintahkan untuk senantiasa tulus dan penuh keyakinan mengharapkan rida Allah dalam menjalankan ibadah.

Dalam ibadah haji, Ali Syariati dalam bukunya Al-Faridhah al-Khamisah, menekankan pentingnya memahami nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim yang selesai menunaikan ibadah haji sudah semestinya perilakunya menjadi lebih baik dibandingkan saat belum berhaji. Perilaku positif ini diterapkan ketika telah kembali ke negaranya masing-masing.

Pelaksanaan ibadah haji merupakan penempaan fisik dan mental. Ia telah memenuhi panggilan Allah melalui lisan Ibrahim dengan jawaban Labbaik Allahumma Labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah). Pernyataan ini bukan sekadar jawaban biasa, melainkan perjanjian terbuka dengan Allah yang disaksikan oleh jutaan manusia lainnya.

Sebab, dengan jawaban itu pula, ia telah memasrahkan dirinya untuk senantiasa patuh dan tunduk pada perintah Allah, serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Setiap jamaah juga telah berjanji melepaskan semua atribut keduniawian dan senantiasa bermunajat kepada Allah, sebagaimana ia berjanji dalam shalatnya, Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh. (Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah, Pencipta langit dan bumi).

Pertanyaannya, mengapa sepulang haji hal itu tak membekas dihatinya? Lupakah dengan janji yang telah diucapkannya? Melalui penempaan individu seperti inilah, jelas Ali Syariati, seorang jamaah haji akan menjadi Mukmin sejati. Dia akan menyebarkan nilai-nilai luhur setelah berhaji. Sebab, dirinya telah menebus dosa-dosanya dengan menyembelih hewan kurban. Karena itu, tak pantas perjanjian yang telah diucapkan, kemudian dikhianati saat kembali ke Tanah Air.

Berkurban bukan semata-mata menyembelih hewan, tapi menyembelih nafsu duniawi (amarah dan kesombongan). Berkurban adalah bentuk kepedulian sosial. Berkurban adalah berbagi dengan sesama. Berkurban merupakan ujian untuk memberikan sebagian harta yang dicintai. Inilah arti dari kesalehan sosial yang semestinya diperoleh dari rentetan manasik haji. “Makanlah sebagian daripadanya. Dan, sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS Al-Hajj [22]: 28).

Setelah merampungkan manasik, jelas Ali Syariati, jamaah haji ibarat Nabi Ibrahim. Karena itu, perlu menanamkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari agar memberikan efek positif dalam diri.

Melalui karyanya ini, Ali Syariati juga menekankan pentingnya setiap Muslim dalam menjaga tiga pilar utama akidah, yakni tauhid, jihad, dan haji. Ketiga fondasi tersebut merupakan motor penggerak bagi umat Islam untuk menjadi seorang Muslim yang peka, terhormat, dan punya tanggung jawab. [yy/ihram]

 

Menjadi Mabrur tidaklah Mudah

Fiqhislam.com - Tujuan ibadah yang diwajibkan pada setiap diri umat Islam, termasuk haji adalah mencari rida Allah. Orang yang mampu meraih rida Allah dalam melaksanakan haji itulah yang mendapatkan haji mabrur (diterima). Dan, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW bahwa tidak ada balasan lain bagi haji mabrur, kecuali surga.

Menjadi haji mabrur tidaklah mudah. Banyak godaan dan rintangan yang siap menghadang. Karena itulah, setiap Muslim diperintahkan untuk senantiasa tulus dan penuh keyakinan mengharapkan rida Allah dalam menjalankan ibadah.

Dalam ibadah haji, Ali Syariati dalam bukunya Al-Faridhah al-Khamisah, menekankan pentingnya memahami nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim yang selesai menunaikan ibadah haji sudah semestinya perilakunya menjadi lebih baik dibandingkan saat belum berhaji. Perilaku positif ini diterapkan ketika telah kembali ke negaranya masing-masing.

Pelaksanaan ibadah haji merupakan penempaan fisik dan mental. Ia telah memenuhi panggilan Allah melalui lisan Ibrahim dengan jawaban Labbaik Allahumma Labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah). Pernyataan ini bukan sekadar jawaban biasa, melainkan perjanjian terbuka dengan Allah yang disaksikan oleh jutaan manusia lainnya.

Sebab, dengan jawaban itu pula, ia telah memasrahkan dirinya untuk senantiasa patuh dan tunduk pada perintah Allah, serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Setiap jamaah juga telah berjanji melepaskan semua atribut keduniawian dan senantiasa bermunajat kepada Allah, sebagaimana ia berjanji dalam shalatnya, Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh. (Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah, Pencipta langit dan bumi).

Pertanyaannya, mengapa sepulang haji hal itu tak membekas dihatinya? Lupakah dengan janji yang telah diucapkannya? Melalui penempaan individu seperti inilah, jelas Ali Syariati, seorang jamaah haji akan menjadi Mukmin sejati. Dia akan menyebarkan nilai-nilai luhur setelah berhaji. Sebab, dirinya telah menebus dosa-dosanya dengan menyembelih hewan kurban. Karena itu, tak pantas perjanjian yang telah diucapkan, kemudian dikhianati saat kembali ke Tanah Air.

Berkurban bukan semata-mata menyembelih hewan, tapi menyembelih nafsu duniawi (amarah dan kesombongan). Berkurban adalah bentuk kepedulian sosial. Berkurban adalah berbagi dengan sesama. Berkurban merupakan ujian untuk memberikan sebagian harta yang dicintai. Inilah arti dari kesalehan sosial yang semestinya diperoleh dari rentetan manasik haji. “Makanlah sebagian daripadanya. Dan, sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS Al-Hajj [22]: 28).

Setelah merampungkan manasik, jelas Ali Syariati, jamaah haji ibarat Nabi Ibrahim. Karena itu, perlu menanamkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari agar memberikan efek positif dalam diri.

Melalui karyanya ini, Ali Syariati juga menekankan pentingnya setiap Muslim dalam menjaga tiga pilar utama akidah, yakni tauhid, jihad, dan haji. Ketiga fondasi tersebut merupakan motor penggerak bagi umat Islam untuk menjadi seorang Muslim yang peka, terhormat, dan punya tanggung jawab. [yy/ihram]

 

Pesan Agung di Balik Ritual Haji

Pesan Agung di Balik Ritual Haji


Fiqhislam.com - Bagi Ali Syariati, ibadah haji adalah gambaran kehidupan umat manusia pada masa lalu, sekarang, dan pada masa yang akan datang, yakni di akhirat kelak. Semuanya telah diatur sesuai dengan skenario, yang sutradaranya adalah Allah SWT.

Aktor dan aktrisnya adalah Adam, Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Dan, tokoh antagonisnya adalah setan. Setting tiap adegan meliputi Masjidil Haram, wilayah Makkah, Shafa dan Marwah, Arafah, serta Mina. Sedangkan, latar waktu pertunjukannya, yaitu siang, malam, dan petang.

Lantas, siapakah aktor utama yang menjadi penentu pertunjukan sukses itu di saat sekarang ini? Tak lain adalah tiap-tiap jamaah haji. Tiap Muslim yang berhajilah yang akan melakukan pementasan ini. Umat Islam yang datang dari penjuru dunia turut bergabung dalam aksi pementasan kolosal tersebut.

Masing-masing mempunyai peran yang sama. Perbedaan suku, warna kulit, dan daerah atau negara tak lantas membedakan lakon yang harus diperankan. Aturan ini sesuai dengan prinsip kesetaraan dan persamaan antarindividu dalam Islam.

Karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan oleh Muslim yang hendak berhaji adalah melepaskan hasrat duniawi dan menggantinya dengan semangat mencari ridha Allah. Itulah yang ditekankan Ali Syariati dalam catatan perjalanannya dalam berhaji yang berjudul Al-Faridhah al-Khamisah (rukun Islam yang kelima atau haji).

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris dan Indonesia. Dalam bahasa Inggris berjudul Hajj, sedangkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Haji atau Makna Haji.

Mengubah kepekaan. Begitulah Ali Syariati seorang cendekiawan Muslim asal Iran menekankan akan pentingnya melaksanakan ibadah haji. Menurutnya, ibadah haji bukan hanya sekadar ibadah ritual dengan memakai ihram, melakukan tawaf (mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran), sai (berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah), melempar jumrah (dengan batu kerikil ke tiang jamarah), wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah, lalu bertahalul (memotong rambut).

Menurutnya, seorang manusia penting untuk memahami fungsi dan perannya masing-masing. Manusia sebagai khalifah di muka bumi berkewajiban melaksanakan segala amanah yang diberikan oleh Allah, termasuk dalam melaksanakan ibadah haji. Bukan hanya sekadar ritual, melainkan juga memahami makna di balik setiap prosesi ibadah haji.

Misalnya, ketika seseorang telah melepaskan pakaiannya kemudian berganti dengan pakaian ihram, seharusnya mereka juga melepaskan seluruh atribut keduniaan untuk mengabdi hanya kepada Allah. Mereka harus tunduk pada aturan yang telah diputuskan.

Di sini juga dapat dipahami bahwa manusia harus berani dan rela melepaskan kedudukan, jabatan, dan semua formalitas di dunia ini di hadapan Allah. Semua manusia sama, berpakaian sama, ibadah yang dilaksanakan juga sama.

Lalu, ketika mereka melaksanakan tawaf, kata Syariati, semestinya manusia, dan umat Muslim khususnya, dapat memahami bahwa dia sedang menjalani putaran waktu yang amat cepat. Karena itu, seorang manusia harus bisa memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab, bila salah, akibatnya akan fatal, yakni akan berhadapan dengan gelombang mahadahsyat yang siap menenggelamkannya.

Demikian pula saat mengerjakan sai, yakni berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah. Ritual lari-lari kecil yang merupakan simbol usaha dari Siti Hajar itu harusnya dipahami sebagai sebuah usaha yang harus dilakukan. Sai adalah perjuangan, demikian tulis Syariati. Yakni, perjuangan atau usaha mencari kehidupan yang diridhai oleh Allah.

Saat melempar jumrah, jamaah haji harus memahami bahwa banyak godaan yang dialami setiap manusia. Karena itu, dengan tegas mereka harus berani menolaknya dengan usaha melempar simbol penggoda tersebut.

Ketika melaksanakan wukuf di Padang Arafah, jamaah haji harus memahami bahwa itu adalah gambaran saat-saat manusia akan dibangkitkan di Padang Mahsyar ketika kiamat terjadi.

Tak ada dapat bisa menolong. Seluruh umat manusia hanya memfokuskan dirinya sendiri. Karena itu, mereka harus banyak merenung, bermunajat, dan memohon ampun kepada Allah atas beragam macam perbuatannya selama di dunia.

Padang Arafah juga merupakan gambaran saat manusia akan ditimbang segala amal perbuatan baik dan buruk. Mereka harus bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah.

Maka, ketika semua prosesi ini telah dilaksanakan dan catatan amal diterima, manusia hendaknya segera membersihkan diri dengan bertahalul, yakni memotong rambutnya.

Makna filosofis inilah yang tampaknya diharapkan oleh setiap jamaah haji ketika mereka melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. Sebab, tanpa memahami makna di balik ritual tersebut, ibadah yang dilaksanakan pun akan terasa hambar tanpa kesan.

Refleksi pribadi

Ali Syariati mencoba menuangkan pemikiran dan refleksi manasik haji dengan bahasan yang mendalam setelah sang penulis melaksanakan tiga kali umrah dan sekali berhaji. Karya ini diakui banyak kalangan sebagai buku terbaik yang membahas masalah-masalah haji.

Tampak jelas dalam bahasan di atas bahwa Syariati ingin mendudukkan masalah haji ini dari perspektif tauhid. Ia tidak mengungkapkan pembahasannya dari sisi hukum atau fikih.

Namun, kitab ini tak bisa dikategorikan sebagai inovasi manasik haji. Sebab, tuntunan haji merupakan ketetapan syariah yang tak boleh dibongkar pasang berdasarkan keinginan pribadi.

Satu hal lagi yang menjadi keprihatinan Ali Syariati yang dituangkannya dalam kitab ini adalah banyaknya hal penting yang terlupakan, bahkan terabaikan, termasuk oleh pemegang kebijakan. Dalam hal ini, bisa ulama ataupun pemerintah sebagai penyelenggara haji, termasuk orang-orang yang berhaji.

Mengapa demikian? Itu karena ibadah haji yang merupakan puncak dari rukun Islam hanya dilaksanakan apa adanya tanpa memahami makna terdalam dari setiap prosesi haji yang dilaksanakan.

Syariati juga menekankan bahwa pelaksanaan ibadah haji seharusnya menjadi kesempatan bagi setiap jamaah untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Sebab, itulah tujuan dari pelaksanaan ibadah haji, yakni menggapai haji mabrur.

Bila ibadah haji berhasil dilaksanakan dengan baik, sesuai dengan syarat dan rukunnya, niscaya dirinya akan menjadi seorang Muslim yang baik, patuh, dan taat dalam menjalankan ibadah. Di sinilah, tegas Syariati, pentingnya seorang Muslim memahami dan mengambil manfaat dari manasik haji.

Menggapai Predikat Mabrur Dunia dan Akhirat

Menjadi haji mabrur tidaklah mudah. Banyak godaan dan rintangan yang siap mengadang. Karena itulah, setiap Muslim diperintahkan untuk senantiasa tulus dan penuh keyakinan mengharapkan ridha Allah dalam menjalankan ibadah.

Orang yang mampu meraih ridha Allah dalam melaksanakan haji itulah yang mendapatkan haji mabrur (diterima). Dan, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW bahwa tidak ada balasan lain bagi haji mabrur, kecuali surga.

Dalam ibadah haji, Ali Syariati dalam bukunya al-Faridhah al-Khamisah, menekankan pentingnya memahami nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang Muslim yang selesai menunaikan ibadah haji sudah semestinya perilakunya menjadi lebih baik dibandingkan saat belum berhaji. Perilaku positif ini diterapkan ketika telah kembali ke negaranya masing-masing.

Pelaksanaan ibadah haji merupakan penempaan fisik dan mental. Ia telah memenuhi panggilan Allah melalui lisan Ibrahim dengan jawaban Labbaik Allahumma labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah). Pernyataan ini bukan sekadar jawaban biasa, melainkan perjanjian terbuka dengan Allah yang disaksikan oleh jutaan manusia lainnya.

Sebab, dengan jawaban itu pula, ia telah memasrahkan dirinya untuk senantiasa patuh dan tunduk pada perintah Allah serta menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Setiap jamaah juga telah berjanji melepaskan semua atribut keduniawian dan senantiasa bermunajat kepada Allah, sebagaimana ia berjanji dalam shalatnya, Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh. (Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah, Pencipta langit dan bumi). Pertanyaannya, mengapa sepulang haji hal itu tak membekas di hatinya? Lupakah dengan janji yang telah diucapkannya? Melalui penempaan individu seperti inilah, jelas Ali Syariati, seorang jamaah haji akan menjadi mukmin sejati. [yy/republika]