8 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 02 Desember 2022

basmalah.png

Syarat dan Rukun Umrah

Syarat dan Rukun Umrah

Fiqhislam.com - Syarat-syarat umrah tentu tidak sama dengan syarat-syarat haji. Syarat atau ketentuan yang berkenaan dengan sah tidaknya ibadah umrah disebut dengan syarat sah.

Sedangkan ketentuan yang berkaitan dengan kewajiban atau kemanduban (sunah) melaksanakannya disebut dengan syarat wajib atau syarat disunatkan umrah.

Syarat-syarat bagi orang yang diwajibkan atau disunahkan untuk melaksanakan umrah adalah sebagai berikut:

Pertama, Islam. Orang kafir tidak disyariatkan melaksanakan umrah dan ibadah-ibadah lainnya karena dia tidak mengakui dan menganut agama Islam. Demikian menurut pendapat ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat bahwa Islam bukanlah syarat disyariatkannya umrah, melainkan syarat sah umrah. Orang kafir tetap disyariatkan untuk melaksanakan umrah. Akan tetapi, jika mereka melaksanakan umrah, umrah mereka tidak sah karena tidak masuk Islam.

Kedua, mencapai usia baligh. Anak kecil yang belum baligh tidak disyariatkan melaksanakan umrah, meskipun umrahnya sah jika dia telah mumayyiz.

Ketiga, berakal sehat. Tidak ada perintah melaksanakan umrah bagi orang gila dan tidak pula sah haji yang dilakukan oleh orang gila.

Keempat, merdeka. Hamba sahaya (budak) tidak diperintahkan melaksanakan ibadah umrah karena umrah memerlukan waktu yang panjang sehingga kepentingan tuannya akan terabaikan. Kelima, istitha’ah atau memiliki kemampuan dari segi fisik, harta, dan keamanan.

Disamping menetapkan syarat pensyari’atan, ulama Hanafiyah juga menetapkan syarat pelaksanaan ‘umrah (syarat ada’).

Syarat pelaksanaan umrah menurut mereka adalah sebagai berikut: 1) Berbadan sehat; 2) Aman selama di perjalanan. Maksudnya, diyakini bahwa tidak ada gangguan atau kekhawatiran yang kuat akan adanya gangguan dalam perjalanan; 3) Ada suami atau mahram bagi perempuan selama dalam perjalanan umrah apabila perjalanan ke Makkah mencapai tiga hari perjalanan atau lebih; dan 4) Tidak dalam masa ‘iddah bagi wanita yang dicerai atau kematian suaminya.

Adapun yang termasuk syarat-syarat sah umrah adalah sebagai berikut:

Pertama, Islam. Orang kafir tidak sah umrahnya karena mereka tidak cakap untuk melaksanakan seluruh ibadah dalam Islam. Demikian pula, tidak sah umrah orang yang mewakilkan pelaksanaan hajinya kepada orang kafir.

Kedua, mumayyiz. Oleh sebab itu, tidak sah ibadah umrah yang dilaksanakan oleh anak kecil dan orang gila. Karena mereka belum cakap untuk bertindak hukum. Demikian pendapat yang dikemukakan oleh ulama mazhab Hanafi.

Menurut ulama mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan mazhab Hanbali, ibadah umrah yang dilaksanakan anak kecil adalah sah. Akan tetapi, bagi ulama yang menetapkan hukum umrah adalah wajib, maka anak kecil tetap berkewajiban mengulang kembali ibadah umrahnya setelah ia dewasa.

Ulama Hanafiyah menambahkan syarat-syarat sah ibadah umrah, yaitu: 1) Melaksanakan ihram; 2) Melaksanakan kegiatan umrah pada tempat- tempat yang telah ditentukan.

Rukun-Rukun Umrah
Menurut mazhab Maliki dan Hanbali, ibadah umrah itu mempunyai tiga rukun, yaitu: ihram, thawaf, dan sa’i antara Shafa dan Marwah. Ulama Syafi’iyah menambahkan dua rukun lain sehingga menjadi lima, yaitu: ihram, thawaf, sa’i, potong rambut, dan menertibkan antara rukun-rukun tersebut.

Ulama Hanafiyah berpendapat, umrah itu hanya mempunyai satu rukun saja, yaitu melaksanakan sebagian besar dari thawaf (empat kali putaran dari tujuh putaran). Adapun ihram merupakan syarat sah bagi umrah, bukan rukun umrah. Sedangkan sa’i antara Shafa dan Marwah adalah wajib umrah. Yang sama seperti sa’i adalah memotong rambut atau memendekkan, maka ini wajib sa’i, bukan rukun. [yy/jurnalhaji.com]