29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Serba-Serbi Kota Thaif

Serba-Serbi Kota Thaif

Fiqhislam.com - Thaif adalah sebuah kota yang terletak sekitar 65 kilometer di sebelah tenggara Kota Makkah. Kota ini berhawa sejuk karena berada di lembah pegunungan Asir.

Oleh kesejukan udaranya itu, Thaif cocok dijadikan tempat peristirahatan dan pariwisata pada musim panas.

Para raja dan kerabatnya banyak membangun tempat-tempat peristirahatan di kawasan ini, sehingga Thaif digelari juga dengan Qaryah Al-Mulk (desa para raja). Di Kota Thaif juga sering dilaksanakan pertemuan-pertemuan dan perjanjian-perjanjian bilateral, regional, dan internasional.

Kota Thaif juga terkenal dengan kekayaan produksi pertaniannya. Berbagai jenis buah-buahan, seperti anggur, kurma, dan lain-lain dihasilkan oleh daerah yang subur ini. Demikian juga beragam macam sayuran dan bunga-bungaan. Bunga-bungaan seperti ambar, misik, dan yasmin dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat minyak wangi. Hasil tanaman yang melimpah ruah tersebut sebagiannya diekspor ke berbagai negara.

Dalam lintasan sejarah Islam, Kota Thaif juga mengukir sejarah tersendiri. Kepada penduduk kota ini, Rasulullah SAW pernah menggantungkan harapannya agar kiranya dakwah Islam dapat mereka terima setelah ditolak, dan dihina oleh penduduk Makkah. Sayang dan tragisnya, penduduk Thaif pada waktu itu menolak mentah-mentah dakwah Nabi dan bahkan mengusir dan melempari Nabi dengan cara yang tidak kalah kejam dan menghinakan.


Serba-Serbi Kota Thaif

Peristiwa Thaif tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad dan kaum Muslimin. Mereka baru saja lepas dari boikot ekonomi yang dilancarkan kaum Quraisy yang membuat mereka menderita kelaparan selama lebih dari dua tahun.

Setelah lepas dari boikot tersebut, Nabi menerima ujian berat yang datang secara beruntun dengan meninggalnya sang istri, Siti Khadijah, pada bulan Desember 619 M dan pamannya, Abu Thalib, pada bulan Januari 620 M.

Kematian kedua orang pemberi perlindungan atas diri Nabi tersebut menimbulkan dampak yang besar dan luas.

Orang-orang kafir Quraisy lebih leluasa dan meningkatkan tekanan dan penganiayaan atas umat Islam karena tidak ada lagi sosok Abu Thalib dan Khadijah yang memang mempunyai kedudukan yang tinggi dan sangat mereka segani.

Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat itulah, secara diam-diam dan dengan berjalan kaki, Nabi Muhammad mencoba pergi ke Thaif untuk meminta pertolongan dan perlindungan kepada kaum Tsaqifah yang menjadi penduduk negeri tersebut.

Nabi Muhammad SAW tinggal selama sepuluh hari di Thaif untuk berdakwah dan meminta perlindungan serta memohon agar mereka tidak memberitahukan kepada orang-orang kafir Makkah tentang kedatangannya di Thaif. Nabi khawatir jika orang- orang kafir Makkah mengetahui hal itu, permusuhan mereka kepada umat Islam semakin keras.

Akan tetapi usaha beliau sia-sia belaka. Bahkan, Nabi Muhammad SAW mendapatkan penolakan dan perlakuan yang kasar. Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah yang menyertai beliau diusir dan dilempari dengan batu. Akibatnya, kepala dan betis Nabi luka dan mengucurkan darah segar sehingga beliau merasa lemas dan tidak mampu melarikan diri.

Rasulullah kemudian berlindung di balik pagar sebidang kebun kepunyaan Utbah dan Saybah bin Rabi’ah—keduanya tewas oleh pedang Ali dan Hamzah pada perang Badar beberapa tahun kemudian. Di bawah pohon-pohon kurma yang rindang Nabi beristirahat melepaskan lelah.

Setelah darah berhenti mengalir dan tenaga kembali pulih, Nabi SAW menengadah sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan berdoa:

“Ya Allah, hanya Engkau tempatku mengadukan kelemahanku. Ya Allah, Engkau Maha Penyayang, Engkaulah yang melindungi orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan aku. Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang akan menaklukkanku. Biarlah ya Allah, asal Engkau tidak memarahiku, aku tidak peduli.”

“Kemurahan dan rahmat-Mu lebih melapangkanku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan, yang memperbaiki dunia dan akhirat. Kiranya Engkau tidak memarahiku, aku hanya mengikuti keridhaan-Mu sampai Engkau meridhai. Tidak ada daya dan upaya bagiku selain dari kemurahan-Mu.”

Doa tersebut dimunajatkan Nabi dengan penuh kekhusyukan dan kepasrahan. Uthbah dan Saybah yang sejak semula mengintip peristiwa yang dialami Nabi, atas izin Allah, rupanya tersentuh hatinya. Keduanya menyuruh seorang remaja bernama Addas untuk mengambilkan makanan dan mengantarnya kepada Nabi.

Dengan penuh rasa syukur, Nabi menerimanya. Beliau membaca “Bissmillah” dan menyantapnya dengan lahap. Mendengar bacaan Nabi tersebut, Addas bertanya, “Perkataan tadi tidak pernah disebut di negeri ini.”

Lalu Nabi bertanya, “Engkau dari mana dan apa agamamu?”

Addas menjawab, “Saya berasal dari negeri Ninawa dan beragama Nasrani.”

Nabi menerangkan, “Dari negerimu itu ada orang saleh bernama Yunus bin Matta. Dia adalah Nabi dan saya juga Nabi.”

Dengan perlahan Addas mendekati Nabi dan langsung mencium tubuhnya. Utbah dan Syaibah yang mengawasi di luar pagar merasa heran menyaksikan kejadian itu, namun mereka sedikitpun tidak tertarik untuk masuk agama Muhammad SAW. Bahkan, mereka menasihati Addas agar tidak terpengaruh dengan dakwah Rasulullah.

Cuplikan sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika mengemban amanah dakwah Islam yang terjadi di daerah Thaif tersebut membuat kota ini mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Para peziarah banyak yang berminat untuk mengunjungi daerah ini guna mengambil pelajaran berharga dari sejarah perjuangan Rasulullah. Akan tetapi, para jamaah haji dan umrah biasanya kesulitan untuk berkunjung ke Thaif karena adanya kendala administrasi dan perizinan.

jurnalhaji.com