19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Haji sebagai Penyempurna Nikmat Allah

Fiqhislam.com - Ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang telah memberikan gelar istimewa kepada orang mukmin dengan gelar haji.

Anda tidak akan mengatakan “ahli shalat” kepada seseorang yang rajin shalat, atau “ahli zakat” kepada seseorang yang bersemangat mengeluarkan zakat. Akan tetapi anda mengatakan “haji fulan” kepada orang yang sudah menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Makkah.

Ibadah haji ibarat suatu pengumuman penyempurnaan nikmat Allah kepada seseorang, baik dalam bentuk karunia Rububiyah maupun dalam bentuk Uluhiyah. Anda tidak akan berhaji tanpa bantuan Allah berupa nikmat Rububiyah.

Ketika ada orang memanggil, “Hai Haji Fulan…” Maka tahulah kita bahwa Allah SWT telah memberikan karunia kenikmatan yang luar biasa besarnya kepada si haji tersebut. Allah memberikan kepadanya nikmat keimanan, suatu nikmat yang paling tinggi.

Kalau seorang Muslim sudah menyatakan diri akan menunaikan ibadah haji, sudah tentu orang itu sudah menunaikan semua rukun Islam yang lain dengan baik dan tertib, seperti shalat, zakat, dan puasa. Ia bertekad pergi haji untuk melengkapi rukun Islam yang kelima untuk memasukkan dirinya ke dalam kelompok orang yang diajak bicara oleh Rabb-nya dengan ayat di bawah ini.

Ayat Ini diturunkan pada Haji Wada’ Rasulullah SAW, “… pada hari (Arafah) ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).

Maksudnya, Allah sudah menyempurnakan semua rukun agama. Allah menyempurnakan shalat dengan kepergian kaum Muslimin ke Baitullah Al-Haram untuk shalat di sana. Dalam ibadah haji juga ada kewajiban berzakat.

Haji merupakan ibadah harta, sekaligus ibadah jasmani karena anda telah menginfakkan harta anda di jalan Allah. Dalam ibadah haji juga ada shaum karena anda diharuskan menjauhkan diri dari syahwat jasmani selama berihram.

Dalam ibadah haji (pada awal dan sebelum melakukan sesuatu) juga mengucapkan syahadat, “Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah”. Itulah kesempurnaan Islam bila anda pergi haji demi menyambut panggilan Allah SWT dan memenuhi manasik haji sesuai dengan yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Dalam beribadah kepada Allah SWT, kita harus menjauhkan diri dari sikap sombong terhadap sesama. Kalau kita pergi ke masjid untuk menunaikan shalat, maka kita harus menghayati jiwa persamaan dalam ajaran Islam. Yang datang lebih dulu duduk di shaf pertama tanpa melihat kedudukannya dalam masyarakat, apakah ia seorang yang kaya atau miskin, seorang pejabat tinggi atau pegawai rendah.

Persamaan dalam beribadah kepada Allah bertujuan untuk menyingkirkan rasa sombong dari jiwa kaum Muslimin, dan mendidik agar selalu bersikap tawadhu dan rendah hati terhadap sesama Muslim. Apalagi kepada Allah Ta’ala yang tidak pernah pilih kasih kepada makhluk-Nya, apa pun warna kulit, asal keturunan dan kedudukan sosialnya.

Allah hanya melihat kepada kalbu kita, karena kalbu itulah yang menjadi tolok ukur standar diantara manusia dengan manusia lain dengan tidak mengindahkan tingkat intelektual atau tingkat materialnya. Artinya, semua orang yang menunaikan shalat di masjid manapun harus menyadari benar bahwa mereka harus mematuhi aturan yang sudah ditetapkan bagi orang yang menghadapkan diri dan mengharapkan keridhaan Ilahi untuk bersikap tawadhu dan tidak sombong, merendahkan diri dan kalbunya di hadapan Allah yang Maha Besar!

Allah SWT ingin meningkatkan rasa persamaan dan tawadhu di kalangan kaum Muslimin bukan hanya di dalam pekarangan masjid-Nya saja, tetapi di seluruh alam- Nya dan diantara seluruh umat manusia, diantara yang kuat dan lemah, diantara umat yang kaya dan miskin, dan diantara para penguasa dan rakyatnya. Demikianlah, kaum mukmin diajari bersikap tawadhu dan menjunjung tinggi rasa kebersamaan dengan sesamanya dalam menunaikan ibadah haji.

Allah SWT ingin mendidik dan mengatakan kepada kita bahwa memang pakaian dan kursi kita berbeda sesuai dengan kedudukan tiap manusia dalam masyarakatnya. Berbeda selera dalam memilih jenis dan kualitas bahan, warna dan potongannya.

Namun dalam menunaikan ibadah haji, Allah  tidak ingin melihat ada perbedaan warna dan potongan pakaian yang dipakai, apakah ia seorang raja atau seorang penyapu jalanan. Semua harus bersaudara.

Dalam ibadah haji pakaian sama, tidak ada perbedaan di antara mereka. Duduk bersebelahan, tidak ada yang merasa tinggi dan rendah di hadapan Allah yang Esa. Bahkan adakalanya sang raja harus menerima duduk atau berjalan di belakang tukang sapu jalanan tanpa merasa rendah diri dan sakit hati.

Ia harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk Allah yang kelak di Padang Mahsyar pun akan dihadapkan di pengadilan-Nya bersama dengan tukang sapu jalanan itu lagi, seperti ia dikumpulkan di padang Arafah sekarang ini.

Allah juga menghendaki agar kita sebagai hamba-Nya memakai seragam yang sama, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Dalam beribadah haji kita dituntut untuk menanggalkan semua simbol dan lambang perbedaan kita, meskipun pada hakikatnya fungsi dan kedudukan sosial kita berbeda-beda dan tidak bisa dilenyapkan.

Namun, apabila kita sudah tiba di Miqat Al-Bait, maka semua perbedaan dan keistimewaan itu harus dihilangkan. Pakaian ihram yang tidak berjahit kita kenakan. Semua yang berhaji seragam memakai baju yang serupa.

Dengan mematuhi perintah yang difardhukan Allah itu, maka kita telah mengakhiri salah satu sikap membedakan diri dan mengistimewakan pribadi dengan pakaian dan kedudukan. Dengan sendirinya kita sudah menyatakan rela sebagai hamba Allah yang patuh dan bersaudara.

jurnalhaji.com