19 Muharram 1444  |  Rabu 17 Agustus 2022

basmalah.png

Mengapa Dinamakan Masjid Al-Ghamamah?

Mengapa Dinamakan Masjid Al-Ghamamah?

Fiqhislam.com - Selain disebut sebagai Al-Mushalla, masjid ini juga dinamakan dengan Masjid Al-Ghamamah. Kata Al-Ghamamah artinya adalah awan yang menaungi (mendung). Menurut sejumlah riwayat, di tempat inilah Rasul mendirikan shalat Istisqa’, yakni shalat yang didirikan untuk minta hujan kepada Allah. Permintaan Nabi SAW itu langsung dikabulkan Allah.

Begitu Nabi SAW selesai berdoa, awan-awan (al-Ghamamah) datang, lalu turunlah hujan lebat. (Khalil Ibrahim Malla Kathir, Fadhail al-Madinah al-Munawarah, cetakan ke-1 jilid II [Madinah: Maktabah Dar at-Turats, 1993], hlm 100).

Tentu saja, hujan yang dimaksudkan adalah hujan yang memberi rahmat bagi umat manusia. “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]: 22).


 

Mengapa Dinamakan Masjid Al-Ghamamah?

“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Apakah mereka tidak memperhatikan?” (QS As-Sajadah [32]: 27).

Ayat serupa juga terdapat dalam surah Ibrahim [14] ayat 32, Ar-Rum [30]: 48, Al-Fathir [35]: 27, Thaha [20]: 53, Al-Jatsiyah [45]: 5, Al-Anfal [8]: 11, dan masih banyak lagi. 

Sejarah Penting Masjid Al-Ghamamah

Pelaksanaan shalat hari raya disunnahkan untuk dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid. Sebab, yang demikian itulah dilakukan Rasul SAW setiap tiba hari raya.

Dan, salah satu tempat yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW mendirikan shalat Id adalah di lapangan yang terletak di kawasan al-Manakha. Lokasi ini terletak sekitar 300 meter dari Masjid Nabawi.

Sebagai bentuk penghormatan atas kebiasaan Rasul SAW mendirikan shalat di tempat tersebut, didirikanlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Mushalla, yakni masjid tempat shalat. Di Masjid inilah Rasul mendirikan shalat Idul Fitri atau Idul Adha.

Abu Hurairah berkata, Setiap kali Rasulullah melalui Al-Mushalla, Baginda akan menghadap ke arah kiblat dan berdoa.

Masjid Al-Musalla yang sekarang dikenal sebagai Masjid Al-Ghamamah terletak di sebelah timur Madinah, yaitu berhadapan dengan Pasar Tamar sekarang. Letak masjid ini berdampingan dengan Masjid Nabawi di sebelah barat. Dari arah Babus Salam, bila kita melihat ke arah barat akan terlihat masjid yang memiliki kubah-kubah kecil. Warnanya kelabu dan berkubah putih.

Disebut dengan Al-Mushalla yang berarti tempat shalat karena Rasulullah mengerjakan shalat hari raya di sekitar kawasan terbuka, yang menjadikan kawasan ini sebagai tempat khas shalat hari raya. Konon, peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriyah.

Karena itu, masjid ini memiliki sejarah penting dalam kehidupan umat Islam.

Menurut riwayat, Khalifah Umar bin Khattab adalah orang yang membangun masjid ini persis di tempat shalat Nabi SAW. Adapun bangunan masjid yang ada sekarang ini adalah peninggalan pembangunan Sultan Abdul Majid al-Utsmani. Masjid ini pernah direnovasi kembali pada masa Raja Fahd (1411H). [yy/republika]