29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Keutamaan Arafah

Keutamaan Arafah

Fiqhislam.com - Abdurrahman bin Ya’mur Al-Daily telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Al-hajju Arafah, (puncak ibadah haji adalah Arafah). Barangsiapa yang mendapati Arafah sebelum (terbit) fajar, maka dia telah mendapati haji.” (Musnad Al-Humaidy, 11/399).

Di dalam hadis ini terdapat beberapa masalah, di antaranya: Sabda beliau, Al-hajju Arafah, merupakan hukum qath’iy (pasti) bahwa tidak ada haji (yang sah) bagi orang yang tidak berwukuf di Arafah, pada siang maupun pada malam hari. Tetapi bukan berarti bahwa Arafah itu adalah ibadah haji secara utuh (keseluruhan).

Sabda beliau, “Barangsiapa yang mendapati Arafah sebelum (terbit) fajar…”, maksudnya adalah fajar hari Nahar (Idul Adha).

Diceritakan dari Ali RA, “Ketika pada sore hari Arafah, Rasulullah SAW berdiri seraya menghadap ke arah orang-orang, lalu beliau bersabda, “Selamat datang para tamu Allah (beliau mengulanginya tiga kali). Orang-orang yang jika meminta (sesuatu) kepada Allah niscaya Dia akan memberikannya kepada mereka, dan orang- orang yang diberikan pengganti biaya belanjanya di dunia, serta menjadikan setiap satu dirham di akhirat kelak sejuta dirham untuknya. Bukankah aku memberikan kabar gembira bagi kamu sekalian?”

Mereka berkata, “Benar, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sebab sesungguhnya pada sore hari ini Allah SWT turun ke langit dunia, kemudian Dia menyuruh para malaikat-Nya pun turun ke bumi. Maka seandainya sebuah jarum dilemparkan, niscaya tidak akan jatuh selain di atas kepala malaikat.”

“Lalu Allah SWT berfirman, ’Wahai malaikat-Ku, lihatlah hamba-hamba-Ku dalam keadaan dekil dan kumal, mereka telah mendatangi-Ku dari ujung-ujung bumi, apakah kamu mendengar apa yang mereka ucapkan?’

“Para malaikat menjawab, ‘Mereka memohon ampunan-Mu, wahai Tuhan.’ Allah berfirman, ‘Aku persaksikan kepada kamu sekalian, bahwa aku telah mengampuni (dosa-dosa) mereka—tiga kali! Maka pergilah dari tempat wukuf kamu sekalian dosa-dosa terdahulu yang telah diampuni.” (Musnad Imam Zaid: 198).

Ali RA juga berkata, “Pada hari Nafar salah seorang sahabat Rasulullah SAW terkena musibah (mati). Lalu beliau memandikannya, mengafaninya, dan menshalatinya. Kemudian dengan wajahnya yang mulia beliau menghadap ke arah kami, lalu bersabda, “Orang suci ini akan menjumpai Allah Azza Wa Jalla tanpa disertai dosa (sama sekali).” (Musnad Imam Zaid: 199).

Disebutkan di dalam Ihya Ulumuddin, Rasulullah SAW bersabda, “Setan tidak pernah tampak sekecil, sejauh, sehina, dan semarah pada hari Arafah. Hal itu tidak lain disebabkan oleh turunnya rahmat dan pengampunan Allah SWT atas dosa-dosa yang besar. Dikatakan, bahwa sesungguhnya di antara dosa-dosa itu terdapat beberapa dosa yang tidak dapat dihapus kecuali oleh wukuf di Arafah.” Ja’far bin Muhammad telah mengisnadkannya kepada Rasulullah SAW.

Usamah RA berkata, “Aku membonceng Nabi SAW ketika matahari terbenam, beliau bertolak (dari Arafah), seraya bersabda, ‘Tenanglah wahai manusia.” (HR. Abu Daud: 11/191).

Diceritakan dari Muhammad bin Ishak, ketika Ibrahim (kekasih Allah) telah menyelesaikan pembangunan Baitul Haram, Jibril AS mendatanginya dan berkata, “Thawaflah di sekelilingnya sebanyak tujuh kali putaran.”

Maka dia bersama-sama Ismail melakukan thawaf di sekelilingnya sebanyak tujuh kali putaran. Keduanya menyentuh seluruh rukun (sudut Ka’bah) dalam setiap kali putaran. Setelah menyempurnakan tujuh kali putaran, mereka mengerjakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.

Kemudian Jibril bangkit bersama Ibrahim, lalu dia memperlihatkan manasik haji secara keseluruhan; Shafa, Marwah, Mina, Muzdalifah, dan Arafah. Ketika dia memasuki Mina dan turun dari Aqabah, mendadak iblis menampakkan dirinya di sisi Jumrah Aqabah. Lalu Jibril berkata kepadanya, “Lemparilah dia!” Ibrahim pun melemparinya dengan tujuh butir kerikil, maka iblis menghilang darinya.

Kemudian iblis itu muncul kembali pada Jumrah Wustha, dan Jibril berkata kepadanya, “Lemparilah dia!” Lalu Ibrahim pun melemparinya dengan tujuh butir kerikil, maka iblis menghilang darinya.

Kemudian iblis itu muncul kembali pada Jumrah Ula, dan Jibril berkata kepadanya, “Lemparilah dia!” Ibrahim pun melemparinya dengan tujuh butir kerikil seperti semula. Maka iblis pun menghilang darinya, kemudian Ibrahim melanjutkan ibadah hajinya.

Jibril menghentikan Ibrahim di atas Arafah (tempat wukuf) dan mengajarinya manasik haji sehingga berakhir di Arafah. Ketika Ibrahim telah sampai di Arafah, Jibril berkata kepadanya, “Sudahkah engkau mengerti akan manasik hajimu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Dengan demikian, tempat itu disebut Arafah, diambil dari ucapan Jibril, Arafta (sudahkah engkau mengerti?). (Al-Azraqy: 1/66-67).

Thariq bin Syihab mengatakan bahwa seorang Yahudi pernah berkata kepada Umar, “Seandainya ayat, Al-yauma akmaltu lakum dinakum (QS. Al-Maidah: 2) diturunkan kepada kami, niscaya kami akan menjadikannya sebagai Id (hari raya).”

Umar berkata, “Sungguh, aku mengetahui hari di mana ayat itu diturunkan, dan juga malam di mana ayat itu diturunkan, yaitu malam Jumat, ketika kami bersama Rasulullah SAW tengah berada di Arafah.” (Sunan Nasa’i: V/251).

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiada hari yang melebihi hari Arafah, karena pada hari itu Allah Azza Wa Jalla memerdekakan hamba pria dan wanita dari neraka. Dan sesungguhnya Dia mendekat, lalu berbangga atas mereka kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Apakah yang mereka kehendaki?” (Sunan Nasa’i: V/251).

Muhammad bin Bakr Al-Tsaqafy bertanya kepada Anas bin Malik, pada tengah hari Arafah, “Apakah yang engkau ucapkan di dalam talbiyah pada hari ini?”

Anas menjawab, “Aku telah menjalani hal ini bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya, di mana dahulu di antara mereka ada yang mengucapkan tahlil dan ada pula yang mengucapkan takbir, lalu tidak satu pun di antara mereka yang menegur temannya (yang berlainan bacaan).” (Sunan Nasa’i: V/251).

Said bin Jubair mengatakan dia bersama Ibnu Abbas tengah berada di Arafah, lalu dia berkata, “Mengapa aku tidak mendengar orang-orang membaca talbiyah?” Said menjawab, “Mereka takut kepada Mu’awiyah.”

Kemudian Ibnu Abbas keluar dari kemahnya, seraya mengucapkan, “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika (Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah), sungguh mereka telah meninggalkan surmah (ajaran Nabi SAW)  lantaran kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib.” (Sunan Nasa’i: V/253).

Mempersingkat Khutbah di Arafah
Diceritakan dari Salim bin Abdullah, bahwa Abdullah bin Umar pernah mendatangi Hajjaj bin Yusuf pada hari Arafah ketika matahari telah tergelincir (condong ke arah barat). Dia berkata, “Sore hari, jika memang engkau menghendaki sunnah.”

Lalu Hajjaj berkata, “Inikah saatnya?” Abdullah menjawab, “Ya.” Salim berkata, “Maka aku berkata kepada Hajjaj, “Jika engkau ingin menepati sunnah, persingkatlah khutbah dan bersegeralah mengerjakan shalat.’” Kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Dia benar,” (Sunan Nasa’i: V/254).

Berdoa di Arafah
Atha’ mengatakan bahwa Usamah bin Zaid pernah membonceng Nabi SAW di Arafah, lalu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, sehingga untanya menjadi miring dan tali kendalinya terjatuh. Beliau mengambil tali kendali itu dengan sebelah tangannya, sementara beliau tetap mengangkat sebelah tangannya lagi. (Sunan Nasa’i: V/254).

Aisyah berkata, “Kaum Quraisy mengerjakan wukuf di Muzdalifah dan mereka menyebutnya Al-Hums, sementara orang- orang Arab lainnya berwukuf di Arafah. Lalu Allah SWT menyuruh Nabi-Nya agar mengerjakan wukuf di Arafah, kemudian bertolak darinya, maka Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat, “Tsumma afidhu min haitsu afadhannas (Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak) (QS. Al-Baqarah: 199).” (Sunan Nasa’i: V/255).

Diceritakan dari Amr bin Abdillah bin Sofwan, bahwa Yazid bin Syaiban berkata, “Kami dahulu mengerjakan wukuf di Arafah pada tempat yang jauh dari Mauqif.

Maka Ibnu Mirba’ Al-Anshari mendatangi kami seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah SAW untuk kamu. Hendaklah kamu berada di Masy’ar kamu, sebab kamu tengah melaksanakan salah satu warisan dari bapak kamu Ibrahim AS.” (Sunan Nasa’i: V/255).

Kewajiban Wukuf di Arafah
Abdurrahman bin Ya’mur mengatakan, “Aku tengah bersama Rasulullah SAW ketika sekelompok orang mendatangi beliau. Lalu mereka bertanya kepada beliau mengenai ibadah haji.

Maka Rasulullah SAW bersabda, “(Puncak) ibadah haji adalah Arafah, maka barangsiapa mendapati malam Arafah sebelum terbit fajar dari malam Jama’ (Idul Adha), maka sempurnalah hajinya.” (Sunan Nasa’i: V/256).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah SAW bertolak dari Arafah sementara aku membonceng beliau.

Lalu beliau menarik tali kekang untanya sehingga kepalanya hampir menyentuh bagian depan pelananya. Beliau bersabda, “Wahai manusia, kalian harus tenang dan berjalan perlahan, sebab kebajikan itu tidak terdapat pada tindakan mempercepat unta.” (Sunan Nasa’i: V/257).

Sumber: Menguak Misteri Tempat-tempat Suci, Keutamaan Kota Makkah oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi |jurnalhaji.com