27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Tanda Kebesaran Allah pada Maqam Ibrahim

Tanda Kebesaran Allah pada Maqam Ibrahim

Fiqhislam.com - Salah satu keistimewaan Maqam Ibrahim dalam Alquran bahwa Allah menyebutnya terdapat tanda-tanda yang nyata.

Sebagaimana Firman Allah SWT, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim.” (QSAli Imran : 96-97)

Keistimewaan tersebut adalah:

Pertama, bekas telapak kaki Ibrahim di atas batu itu. Suatu Keajaiban bila batu yang keras tersebut bisa membekaskan telapak kaki seseorang.

Tanda Kebesaran Allah pada Maqam IbrahimHal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, “Tapak kaki Ibrahim berada di atas batu cadas yang keras. Di atas dua kaki yang telanjang tanpa alas.”

Sehubungan dengan itu pula, ternyata kedua telapak kaki Rasulullah juga menyerupai kedua telapak kaki kakeknya, yaitu Nabi Ibrahim AS. Hal tersebut sebagaimana yang diceritakan oleh Jahm bin Hudzaifah Alqurasyi.

Ia menceritakan, seorang sahabat yang ikut hadir pada saat pembangunan Ka’bah oleh orang-orang Quraisy dan juga ketika Abdullah Ibnu Zubair hadir dalam  pembangunan Ka’bah. Dia berkata, “Saya tidak pernah melihat keserupaan telapak kaki seseorang lebih dari keserupaan kaki Rasulullah dengan kaki Ibrahim yang kami dapatkan di maqam.”

Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Saya adalah anak Ibrahim yang paling mirip dengannya.”

Sejarawan Thahir Al-Kurdi yang meninggal pada tahun 1400 H menerangkan kedalaman salah satu kaki di batu itu adalah 10 cm, sedangkan yang satu lagi adalah 9 cm. Di situ tidak tampak bekas jari jemari karena maqam tersebut terbuka. Hal tersebut disebabkan karena bekas-bekas jemari itu hilang akibat lamanya waktu dan banyaknya tangan yang menyentuh.

Sedangkan panjang setiap kaki itu adalah 22 cm dan lebar 11 cm. Satu hal yang menunjukkan bahwa postur Nabi Ibrahim itu adalah laksana postur orang-orang di zaman kita saat ini.

Kedua, meningginya maqam tatkala bangunan Ka’bah semakin tinggi.

Sejarawan Thahir Al-Kurdi menyebutkan bahwa tinggi Maqam Ibrahim adalah 20 cm. Hal ini merupakan tanda-tanda kebesaran-Nya karena maqam akan selalu meninggi sesuai dengan tingginya bangunan hingga sempurna bangunan Ka’bah.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair, “Setiap kali bangunan Ka’bah meninggi dia (maqam) meninggi pula, Dia meninggi seiring dengan meningginya bangunan ke udara.” (At-Tarikh Al-Qawiim: 3/308-312).

Ketiga, kelestarian Maqam Ibrahim setelah bekas-bekas para nabi yang lain telah hilang.

Inilah keistimewaan penjagaan Allah walaupun telah demikian banyak upaya jahat yang dilakukan untuk mencuri dan merusaknya. Bahkan Maqam Ibrahim tetap terpelihara walaupun telah demikian banyak banjir besar melanda Masjidil Haram selama ribuan tahun. Padahal, pada masa lalu dia tidak dijaga dengan menggunakan tutup dari besi.

Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah Nomor 991 meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa seorang laki-laki yang berada di Mekahbernama Juraij (seorang Yahudi atau Kristen) mencuri maqam Ibrahim pada suatu malam.

Seketika itu juga dicarilah maqam itu dan didapatkan ada pada orang tersebut. Dia ingin mengambil Maqam Ibrahim dan menyerahkannya kepada Raja Romawi. Akhirnya Maqam Ibrahim tersebut dikembalikan lagi ke tempatnya dan Juraij si pencuri tersebut dipenggal lehernya.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathab juga terjadi banjir yang menghanyutkan Maqam Ibrahim. Tatkala air telah surut dan kering, maqam itu didapatkan di bawah Ka’bah. Lalu dibawalah maqam tersebut. Kemudian tak berapa lama datanglah Umar, ia meletakkan maqam tersebut pada tempatnya yang semula.

Keempat, Maqam Ibrahim terjaga dari sesembahan oleh orang-orang musyrikin. Kebodohan orang-orang Arab di zaman jahiliyah adalah penyembahan mereka kepada batu-batu. Namun, tidak ada seorang pun yang menyembah Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Walaupun demikian, mereka menghormati keduanya dan menjaga kedua batu tersebut.

Ini merupakan perlindungan Allah SWT kepada Maqam Ibrahim. Sebab, syariat Islam mengagungkan Maqam Ibrahim dengan menganjurkan untuk menyentuh atau mencium Hajar Aswad berikut shalat di belakangnya. Maqam Ibrahim tidak pernah dijadikan berhala karena ia menjadi suatu tempat beribadah bagi umat Islam.

Sumber: Sejarah Kota Makkah Klasik dan Modern oleh Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani | jurnalhaji.com