15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Maqam Ibrahim dan Keutamaannya

Maqam Ibrahim dan KeutamaannyaFiqhislam.com - Maqam secara bahasa berarti tempat kaki orang yang berdiri. Maqam Ibrahim adalah batu yang dibawa oleh Nabi Ismail tatkala membangun Ka’bah sebagai tempat pijakan Nabi Ibrahim membangun Ka’bah.

Nabi Ismail mengambilkan batu dan Nabi Ibrahim yang meletakkan batu-batu tersebut. Maka semakin tinggi bangunan semakin tinggi pula batu pijakan (maqam Ibrahim) itu.

Keutamaan Maqam Ibrahim

Pertama, Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat (mushola). Dalam riwayat Bukhari, Umar RA berkata, “Saya bertanya pada Rasulullah, “Maukah engkau jadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat untuk mengerjakan shalat?” Maka turunlah firman Allah surat Al-Baqarah ayat 125, “Dijadikanlah sebagian Maqam Ibrahim itu sebagai tempat shalat.”

Dalam haji, Rasulullah juga melakukan shalat di Maqam Ibrahim setelah beliau melaksanakan thawaf.

Jabir bin Abdullah, dalam Shahih Muslim, berkata, “Hingga tatkala kami tiba di Baitullah bersama Rasulullah, beliau menyentuh rukun lalu berjalan cepat tiga kali dan berjalan biasa sebanyak dua kali. Kemudian beliau menuju Maqam Ibrahim lalu membaca surat Al-Baqarah ayat 125, “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat” Maka, Rasulullah menempatkan Maqam Ibrahim antara dirinya dan Baitullah.”

Kedua, Maqam Ibrahim adalah sebuah batu yaqut dari surga. Rasulullah bersabda, “Rukun Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah yaqut dari yaqut-yaqut surga. Andaikata Allah tidak menghilangkan cahayanya, pastilah ia akan memancarkan cahaya antara timur dan barat.”

Dalam riwayat Imam Baihaqi disebutkan bahwa, andaikata Maqam Ibrahim tersebut tidak tersentuh oleh kesalahan-kesalahan Bani Adam, niscaya ia akan memancarkan cahaya antara timur dan barat.

Ketiga, Maqam Ibrahim adalah tempat dikabulkannya doa. Imam Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa berdoa di belakang maqam itu mustajab (terkabul). Demikian sebagaimana tercantum dalam Akhbar Makkah karangan Al-Fakihi.

Sumber: Sejarah Kota Makkah Klasik dan Modern oleh Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani