15 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 25 Juli 2021

basmalah.png

Menyikapi Kebijakan Kuota Haji

Menyikapi Kebijakan Kuota HajiFiqhislam.com - Untuk pertama kali dalam sejarah perhajian di Tanah Air, calon jamaah haji Indonesia untuk tahun 1995 melebihi kuota. Akibatnya, lebih dari 30 ribu jamaah tidak bisa diberangkatkan ke Tanah Suci.

Menunaikan rukun Islam kelima bagi yang mampu hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup bagi setiap mukallaf, yakni setiap Muslim yang sudah mencapai usia akil balig. Sedangkan mereka yang lebih dari satu kali disebut ibadah haji tathawwu’ (sunah).

Adalah merupakan kenyataan bahwa banyak umat Islam yang karena kemampuan ekonominya dapat menunaikan ibadah haji lebih dari satu kali. Bahkan, ada yang berkali-kali.

Ibadah tathawwu’ atau nafilah memang termasuk amalan-amalan ibadah yang disukai Allah SWT dan mendekatkan manusia pada keridhaan-Nya.

Dalam sebuah Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Allah memberitahu Rasul-Nya, “Hamba-Ku yang telah (berusaha) mendekatkan diri kepada-Ku dengan menunaikan apa yang telah Ku-wajibkan atas dirinya, dan ia masih (juga berusaha lebih) mendekatkan diri kepada-Ku dengan (amalan-amalan) nawafil (tathawwu’) hingga Aku mencintainya. Bila ia telah Kucintai, Aku menjadi pendengar yang dengan itu ia mendengar, (dan Aku pun) menjadi penglihatannya yang dengan itu ia melihat.

Namun, seperti dikemukakan oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi, seorang ulama mujtahid masa kini dari Mesir dalam sebuah fatwanya, jika umat yang melakukan kan ibadah haji terlalu banyak hingga mengganggu dan menyulitkan umat Islam yang melakukan ibadah haji wajib, keadaan seperti ini harus dikurangi.

Bagaimana pun suasana berjubel dan berdesak-desakan yang melampaui batas, disamping terbatasnya sarana dan prasarana di Tanah Suci, tidak hanya meresahkan, bahkan membahayakan para jamaah. Termasuk mereka yang telah berulang-ulang menunaikan ibadah haji.

Untuk mencegah hal itu, sebagaimana difatwakan ulama Mesir itu dan juga MUI, langkah terbaik yang harus ditempuh adalah agar orang yang sudah menunaikan ibadah haji dapat menahan diri, memberikan kesempatan kepada yang belum pernah menunaikan ibadah haji.

Islam sendiri telah menegaskan bahwa mencegah mafsadat atau keburukan, bencana dan kerusakan harus didahulukan dari usaha meraih maslahat, terutama sekali jika kemafsadatannya itu akan mengganggu orang banyak. Sedangkan kemaslahatan yang hendak diraih itu hanya menguntungkan orang seorang.

Dan bagi yang telah lebih satu kali menunaikan badah haji, harus diingat bahwa Islam memberikan kesempatan yang sangat luas bagi mereka untuk meraih berbagai kebajikan seperti memberikan kesempatan kepada kaum fakir miskin, yayasan dan lembaga keagamaan di Tanah Air yang sangat membutuhkan dana.

Bukankah Nabi telah bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang Muslim, baginya memperoleh ganjaran seperti ganjaran haji yang mabrur.

Oleh: Alwi Shahab