21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Keajaiban Haji Rasulullah Saw

Keajaiban Haji Rasulullah SawFiqhislam.com - Beberapa ulama mengomentari berbagai keajaiban dalam haji Rasulullah. Di antara keajaiban haji Rasulullah sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah berkhutbah kepada lebih dari 100.000 jamaah haji. Itu semua tidak termasuk kaum wanita dan anak-anak kecil.

Meskipun beliau tidak menggunakan pengeras suara atau semisal mikrofon seperti sekarang, tetapi Allah memperdengarkan khutbah beliau kepada setiap orang di sana.

Suara beliau terbawa angin dan menyebar ke segala penjuru. Seolah-olah beliau berada dekat dengan semua orang.

Kedua, peristiwa luar biasa lain adalah tatkala beliau hendak menyembelih kurban. Beliau membawa 100 ekor unta betina untuk disembelih sebagai tebusan sebagaimana yang pernah dilakukan kakeknya, Ibrahim AS, saat menyembelih Ismail AS. Beliau adalah orang yang paling mengerti segala bentuk sikap teladan dan terpuji.

Rasulullah mengambil golok (alat penyembelih binatang). Beliau mendekati unta yang hendak disembelih. Anehnya, unta tersebut mendahului beliau untuk segera disembelih.

Subhanallah! Hewan itu tidak lebih dari sekadar binatang biasa, namun bisa merasakan kesenangan untuk menjemput maut. Sampai ketika berada di hadapan beliau, sungguh itu menunjukkan betapa cinta sejati dan hakiki benar-benar telah ditanamkan Allah dalam hati seorang Muhammad Rasulullah. Unta-unta itu mencintainya.

Begitulah, unta-unta itu saling mendahului untuk berebut tempat sembelihan. Masing-masing menempatkan diri pada tempat penyembelihan. Hingga Rasulullah cukup saja mengucap, “Bismillah.”

Beliau menyembelih 63 ekor, kemudian berhenti. Mengapa tidak meneruskan hingga 100 ekor unta? Karena usia beliau hanya sampai 63 tahun saja. Setelah 63 tahun, beliau akan meninggalkan dunia ini sebagaimana orang lain.

Setelah genap 63 menyembelih unta-unta itu, selanjutnya beliau memberikan golok sembelihan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali melanjutkan sembelihan hingga 100 ekor. Dari sini para sahabat yang memiliki pengetahuan bisa menangkap pesan bahwa usia Rasulullah tidak akan melampaui jumlah tersebut.

Beliau akan meninggalkan umatnya di dunia. Para sahabat yang mengerti ini mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). (QS. Al-Baqarah: 156).

Ketiga, saat beliau berkata kepada para sahabatnya, Bisa jadi aku tidak lagi berhaji setelah hajiku kali ini. (HR Muslim 2/943).

Para sahabat memahami bahwa beliau telah mengucapkan kata perpisahan. Teriak dan tangis meramaikan suasana. Dan benar, setelah itu mereka tidak lagi menyaksikan Rasulullah berhaji bersama mereka.

Adapun kita, insya Allah akan menyaksikan beliau. Orang-orang yang jujur dan tepercaya dalam menegakkan sunnah beliau akan bisa menyaksikan kehadiran Muhammad SAW.

Orang-orang yang ikhlas, orang-orang yang terus menggali ajarannya dan tidak membawa jalan lain selain daripada jalan Muhammad SAW adalah orang-orang yang akan sanggup menyaksikan kehadiran Rasulullah kembali.

Sementara mereka yang gemar berbuat keburukan dengan berbuat fasik, menempuh jalan selain yang dibuka Rasulullah, maka sesungguhnya mereka tidak akan pernah merasakan tetesan dari tangan Rasulullah.

Dan kepada mereka itu akan dikatakan, “Binasalah kalian. Binasalah kalian.” Kita memohon kepada Allah agar mengaliri kita dengan telaga yang segar yang tiada akan meninggalkan dahaga selamanya.

Adapun hal-hal yang berkaitan dengan selesainya masa Rasulullah adalah saat beliau berada di Arafah dan bermunajat kepada Allah. Saat itu, beliau mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas.

Setelah selesai berdoa, beliau menangis. Jibril mendatangi beliau dengan membawa wahyu dari Allah. Pada hari ini telah Ku-sempumakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-ukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maa’idah: 3).

Para sahabat senior bisa memahami bahwa ayat tersebut menandakan ajal Rasulullah telah dekat. Juga menandakan bahwa masa perpisahan dengan Rasulullah telah nyaris tiba. Mereka menangis dan menangis.

Keempat, Ahmad meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah hendak mencukur rambut, beliau berkata kepada Muammar bin Abdullah, “Wahai Muammar, apakah engkau membawa pisau pencukur?

Muammar menjawab, “Ya, Rasulullah!

Kemudian beliau berkata lagi, “Bacalah basmallah lalu cukurlah kepalaku!” Beliau menyodorkan kepala sebelah kanan ke hadapan Muammar.

Itulah bagian kepala yang mencerminkan keadilan, kebenaran, dan kepastian. Beliau berkata, “Adakah engkau pernah bermimpi Rasulullah menyodorkan kepalanya ke hadapanmu sedangkan engkau membawa pisau cukur?

Muammar menjawab, “Demi Allah, ini adalah nikmat Allah yang sangat besar hingga saya berkesempatan mencukur rambut Rasulullah.

Setelah sebagian selesai dicukur, Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Berbagilah kalian!” Serentak para sahabat berebut kesempatan untuk mencukur kepala beliau. Semuanya ingin mendapatkan kesempatan berharga tersebut. Namun, yang terjadi justru kegaduhan karena saling berebut. Di antara mereka ada yang hanya mendapat sepotong rambut Rasulullah.

Sesungguhnya yang demikian bukan berarti penyembahan kepada selain Allah. Hal itu tidak lain karena kecintaan yang sejati kepada Rasulullah sang kekasih Allah. Karena melalui beliau, Allah menyelamatkan umat manusia dari kesesatan dan kegelapan. Melalui beliau, Allah menunjukkan manusia pada cahaya kebenaran.

Kemudian Rasulullah memerintahkan Muammar untuk mencukur sebagian yang masih tersisa. Muammar melanjutkan apa yang diperintahkan Rasulullah. Setelah selesai kepala beliau tercukur, beliau berkata, “Di manakah Abu Talhah al-Anshari?” Abu Talhah segera mendekat dan Rasulullah berkata kepadanya, “Ambillah semua rambut ini!” Abu Talhah hanya bisa menangis karena bahagia.

Itulah tadi beberapa makna haji dan kenangan bersama Rasulullah. Haji adalah salah satu dari rukun Islam. Barangsiapa berniat untuk mengunjungi rumah Allah, hendaklah ia mengikhlaskan niatnya. Hendaklah ia menyucikan segala usahanya dari perkara haram. Sesungguhnya Allah adalah Maha Baik. Dia tidak menerima sesuatu melainkan yang baik lagi halal.

 
Sumber: Al-Misk wa Al-Anbar oleh Syekh Aidh Al-Qarni