16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Ibadah Haji, Perjalanan Kembali ke Hati

Ibadah Haji, Perjalanan Kembali ke HatiFiqhislam.com - Secara syariat-lahiriah, haji adalah perjalanan menuju rumah Allah, Tanah Haram, dalam rangka melaksanakan berbagai peribadatan yang diwajibkan pada waktu yang ditentukan.

Wajib melaksanakan haji paling kurang satu kali seumur hidup, dan lebih dari itu hukumnya sunah.

Namun, melampaui pemahaman syariat-lahiriah seperti itu adalah pemahaman batiniah para sufi.

Menurut mereka, berbarengan dengan perjalanan fisiknya menuju rumah Allah yang berada di alam lahiriah ini, secara ruhani haji adalah perjalanan ke rumah Allah yang hakiki di alam batiniah.

Hal ini karena menurut mereka, rumah Allah yang menjadi tujuan perjalanan haji itu dalam makna seutuhnya memiliki dua dimensi yang berbeda. Pada sisi fisik­nya ia adalah Ka‘bah yang di Makkah itu, tapi pada sisi batiniahnya ia adalah Ka‘bah batiniah, yakni hati kita sendiri.

Konsekuensinya, berbagai tahap manasik yang secara fisik wajib ditempuh itu pun, wajib pula dijalani sebagai perjalanan kembali ke hati. Berikut adalah keterangan menakjubkan dari Sayyid Haidar Amuli, tokoh sufi abad ke- 10 M.

Tentang tahap-tahap perjalanan kembali ke hati berbarengan dengan tahap-tahap manasik tersebut. Menakjubkan karena ternyata melalui pemahaman ini, berbagai tempat suci di sekeliling Ka‘bah tempat terselenggaranya manasik haji memiliki “padanan-batiniahnya” di sekitar wilayah hati.

Sayyid Haidar Amuli pernah berujar, “Siapa yang menginginkan melaksanakan haji ini maka wajib baginya pertama sekali untuk mengenakan ihram. Atau menempatkan dirinya di dalam keadaan terlarang (terhadap hal-hal yang haram).”

Artinya, orang yang melaksanakan haji ini melarang dirinya untuk melakukan hal-hal yang menimbulkan hasrat-hasrat sensual, baikyang pada hakikatnya terlarang maupun yang diperbolehkan.

Dia hanya memperbolehkan dirinya melakukan apa-apa yang mutlak diperlukan sesuai dengan firman Allah, “Siapa saja yang memerlukan sesuatu, maka janganlah berlebihan ataupun melampaui batas.”

Selanjutnya, wajib bagi orang yang berhaji menghadap Allah dengan mengucapkan talbiyah “labbaika Allahumma labbaika.” Dengan menggunakan lidah ahwal (bahasa perilaku-batin) ketimbang dengan pengucapan lisan, agar hakikat kehambaan benar-benar terasa baginya. Yakni, bahwa Tuhan tidak memerlukan apa pun dari pengabdian atau kepatuhannya atau siapa pun juga.

Sebaliknya, dia harus menyadari bahwa setiap makhluk membutuhkan Tuhan.

Dia kemudian masuk ke dalam dada, yakni Masjid Al-Haram di sekeliling hati. Dia kemudian berthawaf. Bermakna introspeksi diri tujuh kali (berkali-kali atau terus menerus).

Hal tersebut bertujuan supaya dia tahu ihwal dirinya sendiri dan supaya tabir-tabir yang menutupi dirinya terangkat.

Tabir-tabir ini adalah berbagai kualitas perilaku yang tercela dan perbuatan-perbuatan manusiayang hina, yang bersesuaian dengan jumlah gerbang jahannam, yakni kecongkakan, kesombongan, iri hati, ketamakan, kekikiran, kemarahan, dan hasrat seksual yang berlebihan.

Ketujuh kualitas ini dicampakkan dari hati dengan melakukan tujuh thawaf, satu demi satu. Ketujuh thawaf ini juga menyebabkan hati meraih tujuh sifat terpuji, yakni ilmu, hikmah, kesucian, keberanian, keadilan, kemurah-hatian, dan kerendah-hatian.

Selanjutnya manusia melakukan shalat di Maqam Ibrahim yang berada di dalam alam akal, dengan kesucian spiritual dan penglihatan yang terbuka baginya oleh takwanya kepada Allah. Orang yang melakukan haji kemudian berlari-lari kecil di antara Shafa dan Marwah. Dengan demikian dia melakukan perjalanan di antara dunia lahiriah dan dunia batiniah.

Dalam kedua alam tersebut dan mengkaji tanda-tanda yang terdapat di dalamnya. ini sejalan dengan firman Allah, “Tidakkah cukup bagimu Tuhan, bahwa Dia menjadi segala sesuatu? Sesungguhnya mereka berada dalam keragu-raguan akan pertemuan dengan Tuhan mereka. Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu.”

Kemudian orang yang berhaji memotong rambutnya di Marwah, yakni bahwa dia merontokkan sisa-sisa keakuan atau dualitas yang masih tersisa di dalam dirinya. Orang yang berhaji itu kemudian mengenakan pakaian ihram lagi ketika hendak melakukan manasik haji.

Baru setelah itu ia melakukan perjalanan ke “Arafah-pikir an” dan “gunung-makrifat”, dalam rangka memandang tanda-tanda, makrifat-makrifat, dan hakikat-hakikat yang terdapat di sana.

Demi alasan inilah bahwa maqam ini disebut Arafat (dari akar kata ‘arafa yang di dalam bahasa Arab berarti mengetahui/mengenal), sesuai sabda Nabi Muhammad, “Siapa saja yang mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya.”

Orang yang melakukan haji kemudian berdiri-tenang (berwukuf) di Arafah dalam kedekatan terhadap perasaan-perasaannya sendiri, baik yang bersifat ragawi maupun batiniah, dalam rangka mendorong masing-masingnya supaya berlaku berdasarkan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Karena, sepanjang indra-indra berada di bawah kekuasaan hamba, maka mereka patuh kepada jiwa yang menyuruh kepada kejahatan dan (patuh) kepada setan.

Jika indra-indra itu berada di bawah kekuasaan Tuhan dan patuh kepada apa yang telah diperintahkan-Nya, maka mereka terkendali oleh jiwa yang tenang (al-nafs al-muthma’innah) dan mengikuti akal.

Dalam hal yang disebut terakhir ini, maka akal pun akan menjadi amir dan penguasa di kota dan wilayah indrawi. Orang yang melakukan haji selanjutnya kembali ke Mina dalam rangka melemparkan batu-batu kepada berbagai kualitas tercela dan hina di dalam diri mereka.

Ini merupakan ihwal keikhlasan dan maqam yang tinggi dan amat berat, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad, “Semua manusia ditentukan untuk mati, kecuali perbuatan-perbuatan mereka; semua amal akan sia-sia kecuali yang dilakukan dengan ikhlas, dan orang-orang yang ikhlas berada dalam risiko besar.”

Oleh karena itu, orang yang berada pada maqam ini, setelah menghancurkan kualitas-kualitas buruk di dalam perilakunya selama mengenakan pakaian ihram, mesti berhati-hati supaya tidak kembali lagi kepada kualitas-kualitas tersebut ketika dia kembali ke maqam kesempurnaan puncak.

Sebagaimana dijelaskan di dalam kata-kata ahli makrifat, “Tujuan akhir adalah kembali kepada awal” yaitu kembali kepadah fitrah.

Orang yang berhaji selanjutnya memotong rambut di kepalanya, yakni menanggalkan segala sifat tercela dari kepala jiwanya (kali ini merupakan maqam yang lebih tinggi ketimbang pemotongan rambut pertama).

Selanjutnya dia kembali ke Ka‘bah untuk melaksanakan thawaf yang kedua. Arti dari perbuatan ini adalah dia menguji lagi hatinya dalam rangka menyucikannya dari kotoran karena melihat yang lain (dari Allah) dalam cara apa pun.

Satu-satunya kesalahan yang diperbuat oleh orang yang berada pada maqam ini di dalam perjalanan-perjalanan mereka di sepanjang jalan spiritual adalah penyaksian yang selain Tuhan, bahkan walaupun itu hanya dalam sesaat saja. Ini terjadi ketika dunia manusia dan kekuatan hewani yang berhubungan dengan itu mengatasi maqam spiritual ini.

“Selanjutnya, orang yang melakukan haji melaksanakan shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, sebagai ungkapan rasa syukur atas sampainya dia pada Sang Tercinta dan tujuan keberadaannya sendiri.

Kemudian dia berlari-lari kecil sekali di antara Shafa yakni alam jiwa dan Marwah yang merupakan alam badaniah, atau kita bisa juga mengatakan antara Shafa sebagai hati dan Marwah sebagai diri dalam rangka menyaksikan di sana tanda-tanda kesempurnaan dari perwujudan-perwujudan ilahiah.

Hal itu juga untuk menyaksikan tanda-tanda keindahan dan keagungan-Nya. Setelah selesai, dia pun melaksanakan pemotongan rambut yang ada dalam Marwah diri dengan jalan melepaskan segala sesuatu selain Allah.

Dia selanjutnya kembali ke Mina untuk melempar setan-setan selama tiga hari setelah Arafah pada tiga hari Tasyriq. Ketiga hari ini melambangkan tiga aspek dalam tauhid ilahiah (tauhid perbuatan, tauhid sifat, tauhid zat).

Dengan demikian, dia mengabaikan apa pun selain ketiga hal ini, dan bahwa tidak satu pun yang tersisa di dalam dirinya kecuali “Yang Maha Nyata”. Pada maqam ini dia menyadari bahwa sesungguhnya tak ada yang nyata di alam ini bahwa sesungguhnya segala makhluk, termasuk dirinya sendiri, tidak nyata kecuali Tuhan Yang Maha Nyata.”

Dari uraian Sayyid Haidar Amuli ini, dapat dipahami bahwa seseorang belum dianggap menjalankan haji (yang hakiki) apabila ia tak melakukan perjalanan kembali ke hati selama perjalanan hajinya. Karena perjalanan haji yang hakiki sesungguhnya bukanlah perjalanan haji yang bersifat fisik, melainkan justru yang bersifat ruhani.

Meskipun perjalanan fisik itu dibutuhkan sebagai kendaraan untuk melakukan perjalanan ruhani tersebut. Karena itu, haji yang sesungguhnya adalah perjalanan untuk menaklukkan rintangan-rintangan besar yang mengambil bentuk tirai-tirai (hijab-hijab) yang menghalangi diri kita dari hati kita sendiri.

Hijab-hijab itu, tak lain dan tak bukan, adalah segala macam bentuk nafsu angkara-murka yang cenderung menguasai diri kita. Demikianlah, memang pada puncaknya haji adalah upaya menanggalkan semua ego manusiawi kita agar jiwa kita bisa terbang kembali menuju asal muasalnya, yaitu (Ruh) Allah SWT.

Sumber: Adversity Spiritual Quotient (ASQ) oleh C Ramli Bihar Anwar