fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Pembudayaan Takwa dalam Haji

Pembudayaan Takwa dalam HajiFiqhislam.com - Perjalanan ibadah haji dikatakan juga perjalanan untuk memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah (QS. Al Hajj: 27).

Panggilan itu diteruskan oleh Nabi kita Muhammad SAW, “Wahai manusia, Allah telah mewajibkanmu untuk melaksanakan ibadah haji. Kalian harus melaksanakannya.” (HR. Muslim).

Mengingat beratnya ibadah ini dan terbatasnya medan haji, kewajiban itu dibatasi hanya satu kali dalam seumur hidup. Apabila seseorang melakukannya lebih dari satu kali, maka sifat ibadah itu menduduki hukum sunah.

Seseorang yang bersiap pergi haji, di samping menghindari ketergantungan keuangan kepada orang lain (kesiapan material), seyogianya juga telah mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah haji dan memahami persoalan-persoalan penting secara mendalam (kesiapan spiritual).

Ia harus menetapkan dalam hatinya bahwa tujuan ibadah ini semata-mata memperoleh kebahagiaan Ilahiyah serta anugerah yang akan diraihnya di Hari Kemudian.

Tidak pada tempatnya seorang haji memiliki motif-motif lain. Misalnya, mencari kemasyhuran, bangga diri, dan menempatkan dirinya pada jalan yang buruk. Allah telah berfirman dalam QS. Huud: 15-16, bahwa orang yang hanya mengharapkan dunia dan perhiasannya dari hajinya, maka Allah hanya akan memberi kekayaan dunia. Dan mereka tak akan mendapatkan apa-apa di akhirat.

Kita harus menempatkan perjalanan haji sebagai panggilan ketakwaan yang diharapkan setelah pulang haji menjadi semakin takwa dalam cara hidup. Dan cara hidup itu, kita pahami sekarang ini adalah kebudayaan.

Pembudayaan takwa itu menjadi relevan kita angkat untuk mendorong terciptanya situasi kemasyarakatan kita yang lebih bermoral. Membudayakan berarti dimulai dari kesadaran dan pemahaman kita masing-masing.

Budaya takwa tidak dapat dipaksakan terhadap siapa pun, melainkan hanya dapat dimasyarakatkan agar hidup dan tumbuh subur dalam masyarakat, menjadi pandangan yang dihayati dalam sikap dan perilaku. Intinya adalah bersikap dan berakhlak mulia.

Ketakwaan sebagai ajaran dan cita-cita perlu kita kembangkan secara konsisten, dan para hujjaj (orang yang berhaji) sebagai lapisan masyarakat yang relatif tergolong lebih mampu dari yang lain tentunya diharapkan tampil sebagai pelopornya. Yaitu, memelopori tradisi-tradisi mulia di tengah-tengah masyarakatnya.

Format pergerakannya telah diajarkan oleh Alquran yaitu, “ta’awanu ‘alal birri wat-taqwa” (QS. Al-Maa’idah: 2), mendorong terciptanya iklim kerjasama di atas dasar kebaikan dan takwa, sehingga kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi berjalan dengan lebih baik, penuh dengan nuansa kejujuran, keadilan, dan penghargaan terhadap ilmu.

jurnalhaji.com