15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Ibadah Haji, Mematikan Diri Sebelum Mati

Ibadah Haji, Mematikan Diri Sebelum MatiFiqhislam.com - Ibadah haji memiliki persamaan-persamaan mendasar dari segi filosofinya dengan ibadah puasa. Hadis-hadis Nabi tentang ibadah puasa dan haji menunjukkan fakta ini.

Pertama, di antara pahala yang diterima bagi pelaksanaan dengan baik kedua ibadah haji tersebut adalah penghapusan dosa dan pada puncaknya, pembebasan dari jilatan api neraka.

Namun yang lebih mendasar lagi, haji sebagaimana puasa adalah ibadah yang harus dilaksanakan dengan fokus total kepada Allah.

Mengenai puasa, sebuah hadis termasyhur telah mengajarkan kepada kita mengenai keharusan melandaskan ibadah ini pada intisab. Intisab berarti penyerahan secara total segala sesuatunya kepada Allah SWT.

Puasa adalah pengejawantahan anjuran Nabi untuk “mati sebelum mati” (Mutu qabla an tamutu). Maknanya, ibadah puasa yang sempurna adalah upaya untuk mematikan keberadaan fisikal bahkan mental kita.

Hal itu demi memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada ruh kita untuk “terbang” kembali ke haribaan sumber azalinya, yakni Allah SWT. Seperti diajarkan oleh Imam Al-Ghazali, puasa kaum khawwash Al-khaunvash adalah puasanya gerak-gerik hati kita dari sesuatu selain Allah.

Biar beda dalam tata caranya, persis seperti itulah filosofi ibadah haji. Inilah ungkapan Imam Ja‘far Al-Shadiq, sang guru para imam mazhab, “Apabila Engkau akan melakukan ibadah haji, maka konsentrasilah sepenuhnya kepada Allah. Campakkan setiap penghalang dan tabir yang akan melalaikanmu dari-Nya.

Serahkan urusanmu sepenuhnya kepada sang Khaliq. Bertawakallah pada-Nya dalam segala gerak-gerikmu, yang tampak dan yang tersembunyi. Terimalah ketentuan dan takdir-Nya. Tinggalkanlah dunia, kesenangan, dan makhluk ciptaan-Nya!”

Kiranya, ucapan Imam Ja’far itu hanyalah merupakan penjabaran dari firman-Nya sendiri, “Sempurnakan Haji dan Umrah untuk Allah semata-mata.” (QS. Al-Baqarah: 196).

Begitu pentingnya makna pematian keberadaan fisikal dan mental serta kepasrahan total kepada Allah ini sehingga banyak orang mengasosiasikan keharusan memakai selembar pakaian putih dalam ihram. Hal itu adalah momen pernyataan niat berhaji ini dengan kain kafan yang menjadi pembalut jenazah.

Dengan memakai ihram, seperti dikatakan antara lain oleh Imam Ali Zainal Abidin, kita “mengikat diri dalam ibadah haji dan, pada waktu yang sama, melepaskan segala ikatan selain Allah.”

Seperti pesan Imam Ja‘far Al-Shadiq kepada orang yang ingin berhaji tertuang di dalam syair-syairnya: “Keluarlah dari kelalaian dan ketergelinciranmu ketika engkau berangkat ke Mina dan janganlah mengharap apa pun yang (kamu ketahui) tidak halal dan tidak layak bagimu.

Akuilah segala kesalahanmu di tempat pengakuan (Arafah). Perbaruilah perjanjianmu dengan Allah seraya mengakui keesaan-Nya. Dekatkanlah dirimu kepada Allah di Muzdalifah.

Sembelihlah leher hawa nafsu dan keserakahan ketika engkau menyembelih dam (hewan kurban). Campakkanlah syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala amal tercela ketika melempar Jamarat.

Pangkaslah aib-aib lahir dan batin ketika tahalul (mencukur rambut). Tinggalkanlah kebiasaan menuruti kehendakmu, dan masuklah ke dalam perlindungan Masjid Al-Haram.

Ya Allah, aku tidak keluar untuk mencari pangkat atau kedudukan, tak juga lantaran riya dan popularitas. Aku keluar semata-mata karena takut akan murka-Mu, mengharap ridha-Mu, mengikuti sunnah Nabi-Mu, dan rindu pada pertemuan dengan-Mu.”

Sumber: Adversity Spiritual Quotient (ASQ) oleh C Ramli Bihar Anwar