29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Ironi Ibadah Haji

Ironi Ibadah Haji

Fiqhislam.com - Rasulullah SAW berpesan dalam Haji Wada’, “Wahai sekalian manusia, dengarlah nasihat-nasihat dariku. Aku hendak menerangkan kepadamu, karena sesungguhnya aku tidak tahu pasti barangkali aku sudah tidak akan bertemu lagi denganmu sesudah tahun ini.

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya darah dan harta-harta kalian haram dirusak sesama kalian, sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu, sebagaimana haram bagi kalian untuk merusak harimu, di bulan suci ini di negerimu.”

Pesan universal tentang hak-hak kemanusiaan itu (yang sekarang lebih dikenal sebagai HAM) diucapkan Nabi pada khutbah di haji terakhirnya (Haji Wada’).

Kata-kata pertama yang meluncur dari lisan beliau setelah beliau memanjatkan puji syukur kepada Allah serta syahadat. Jadilah untaian wasiat manusia teladan ini seakan episode klimaks seluruh rangkaian ibadah haji, sebagaimana memang telah dipertontonkan dalam seluruh ibadah Nabi sebelumnya.

Dalam berbagai bentuk ibadah (penghambaan) manusia kepada Tuhannya, pemenuhan “hak” Tuhan selalu beriringan dengan pemenuhan hak kemanusiaan. Bahkan pemenuhan hak kemanusiaan tak jarang mengalahkan “hak” Tuhan sendiri yang mengambil bentuk berbagai aturan yang merupakan rukun-rukun dan syarat-syarat kesahihan ibadah-ibadah itu sendiri.


Ironi Ibadah Haji

Suatu kali Nabi bersujud lama sekali dalam shalatnya. Ketika hal ini ditanyakan para sahabat, beliau menjawab, “Cucuku waktu itu sedang menunggang di punggungku. Aku tidak mau bangun sebelum ia puas.”

Di saat lain, malah beliau mengerjakan shalat dengan cepat. Para sahabat pun kembali bertanya. Beliau menjawab bahwa tadi beliau mendengar suara anak kecil menangis. “Aku tidak ingin tangis itu mengganggu ibunya. Jangan sampai pikirannya risau karenanya,” kata beliau.

Demikian juga ketika tiba-tiba seekor kalajengking merayap mendekat pada saat beliau sedang shalat, beliau pun segera mengambil tindakan untuk menghindarkan bahaya itu. Dan baru setelah itu melanjutkan shalatnya.

Atau di saat akan melakukan shalat malam, beliau tak segan meminta izin kepada istrinya. Kiranya itu semua sejalan belaka dengan kehendak Tuhan. Betapa tidak? Bahkan, Allah lebih mengutamakan kepentingan binatang di atas “hak-Nya”.

Sebagaimana disebutkan sebuah riwayat yang sangat populer, bahwa Allah mengampuni seorang wanita pezina lantaran menolong seekor anjing. Tentu setelah ia tobat.

Maka, tak heranlah bila dalam seluruh rangkaian ibadah haji orang dilarang memburu binatang atau merusak pepohonan.

Sayangnya, kenyataan tidak sama dengan semestinya. Pemenuhan berbagai teknik prosedural ibadah (manasik) haji malah tak jarang seperti mengalahkan hak manusia.

Misalnya, ketika lautan manusia berdesak-desakan demi mencium Hajar Aswad, atau mendekati lokasi jumrah, atau memasuki Raudhah Nabi, tak jarang orang mengalami luka-luka ringan atau bahkan jatuh berguguran karena terinjak sesamanya.

Padahal, sudah jelas bahwa Nabi sendiri telah menyiapkan keringanan-keringanan (rukhshah) untuk mengantisipasi semuanya itu. Misalnya, kita diajarkan untuk sekadar melambaikan tangan dari jarak jauh ke Hajar Aswad jika menciumnya tak mungkin dilakukan.

Demikian pula, Nabi telah memberikan alternatif waktu lain untuk melakukan jumrah jika sulit melakukannya di waktu utama (afdhal). Kenyataan bahwa banyak jamaah tak mau memanfaatkan keringanan-keringanan ini.

Kita hanya menunjukkan bahwa kita sebagai kaum Muslim masih belum menyadari esensi ajaran Islam mengenai pentingnya memprioritaskan hak-hak manusia. Kenyataan yang sama bahkan menunjukkan kejahilan kita akan persoalan teknis prosedural ibadah (manasik) haji itu sendiri.

Di luar persoalan kesadaran jamaah adalah perilaku sebagian penyelenggara haji.

Tak jarang penyelenggaraan haji dijadikan sebagai ajang untuk menangguk untung sebesar-besarnya tanpa memerhatikan kenyamanan jamaah.

Hal inilah yang sepertinya sudah membudaya dari hulu sampai hilir pelaksana haji. Mulai biro perjalanan sampai institusi-institusi terkait di lingkungan pemerintahan.

Seperti yang terlihat dari banyaknya biro perjalanan haji yang masuk dalam black list Kementerian Agama. Banyaknya dugaan kasus korupsi dalam penggunaan dana ibadah haji, dan sebagainya.

Institusi-institusi terkait mengenakan pu­ngutan-pungutan tak semestinya sehingga menambah beban biaya haji. Di bawahnya lagi, oknum-oknum biro perjalanan menangguk sebesar-besarnya keuntungan dengan taruhan mengorbankan pelayanan jamaah.

Pada gilirannya, sebagian jamaah dengan penuh nafsu berupaya mengejar keutamaan teknis prosedural ibadah haji sehingga seperti lupa diri sampai menginjak-injak sesamanya.

Bisa dibayangkan, bila untuk kepentingan penyelenggaraan haji pun orang bisa senekat itu, lalu bagaimanakah halnya dengan penyelenggaraan layanan-layanan publik lainnya?

Berbagai sisi gelap dalam penyelenggaraan haji boleh dibilang merupakan puncak gunung es dari tumpukan kasus penyalahgunaan dalam penyelenggaraan layanan-layanan publik lainnya.

Kalau sudah begini, di mana lagi hikmah ibadah haji yang sangat mementingkan nilai-nilai kemanusiaan ini?

jurnalhaji.com