29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Zakat dan Sedekah sebagai Ongkos Naik Haji

Zakat dan Sedekah sebagai Ongkos Naik Haji

Fiqhislam.com - Sudah berulang kali disiratkan bahwa di balik perjalanan fisiknya, sesungguhnya haji adalah perjalanan rohani menuju rumah Allah. Ibarat perjalanan fisiknya yang sangat melelahkan, begitulah perjalanan rohaninya.

Berbeda dengan piknik biasa ke tempat-tempat bersejarah lainnya. Perjalanan haji mengikuti prosesi fisik manasik yang sangat unik.

Nah, kalau bukan dimaksudkan untuk perjalanan rohani, untuk apa prosesi itu dibuat sedemikian berbeda?

Mengikuti momen-momen prosesinya, jelas akan terungkap bahwa perjalanan fisiknya menyimbolkan perjalanan rohani yang terkandung di dalamnya.

Tahap-tahap prosesinya seolah sengaja dibuat oleh Allah menyerupai tahap-tahap perjalanan setelah mati, momen-momen perjalanan rohani ketika ruh telah meninggalkan jasad.

Bak mayat yang harus dimandikan dan diwudhukan. Ketika hampir dalam setiap kali hendak memasuki satu dari sekian tahap prosesi haji, para jamaah pun dianjurkan untuk mandi dan sebagian wajib wudhu, hingga ada sembilan kali mandi yang disunahkan.

Saat mulai ihram yang mengharuskan jamaah memakai sehelai kain putih seperti kafan. Saat-saat mengelilingi Ka’bah untuk thawaf menyerupai siklus hidup kita. Berasal dari-Nya dan kembali jua kepada-Nya.

Saat-saat wukuf, ketika berkumpulnya jutaan bangsa yang mengingatkan peristiwa berkumpulnya seluruh manusia di Padang Mahsyar. Begitu seterusnya hingga momen-momen haji seolah tak lain dari momen-momen kembalinya seseorang kepada-Nya.

Mengiringi setiap langkah prosesi haji. Penafian demi penafian itu terlihat jelas. Antara lain dari keharusan membacakan talbiyah yang mengandung penafian terhadap segala bentuk kesyirikan termasuk ego diri.

Hampir sepanjang ihram, selalu diselang-seling doa-doa yang juga merupakan penegasan tauhid. Kemudian diakhiri dengan anjuran membaca takbir pula sepanjang lebaran haji berikut tiga Hari Tasyriq. Inilah antara lain yang ditegaskan Imam Khomeini ketika berkata, “Penafian berlaku sepanjang prosesi haji.”

Penafian sedemikian maraton itu tentunya sangat melelahkan. Namun, ibarat pendakian sebuah gunung yang justru karena melelahkannya akan membuahkan puncak kegembiraan saat mencapai puncak. Begitulah pendakian rohani saat berhaji.

Tahap demi tahap pendakian harus dilalui dan pada akhirnya, akan sampailah jiwa kepada kebahagiaan sejati, bebasnya ia dari segala ego dan impitan materi. Sehingga ia, kapan pun dipanggil, akan menyambut gembira.

Itulah sebabnya haji menjadi pertanda sempurnanya Islam seseorang. Yaitu kepasrahan total dan kecintaannya secara mutlak kepada Sang Khalik.

Dikarenakan haji adalah perjalanan rohani, maka ongkosnya pun di samping yang bersifat materi, adalah bersifat rohani. Zakat adalah ongkos kedua setelah shalat. Zakat adalah tahap kedua dari pendakian bernama haji.

Seperti halnya haji, zakat pun di balik pemberian yang bersifat materi, pada intinya dimaksudkan untuk membersihkan jiwa (QS. 9: 60). Paling ringan sekaligus paling berat dari cinta diri.

Jelas kiranya bahwa tak mungkinlah seseorang berserah diri secara total bila untuk mengeluarkan sedikit hartanya saja amat keberatan. Karena itu zakat mendahului haji.

Namun secara lebih detail, paling tidak ada dua aspek kenapa zakat sangat penting artinya buat haji. Pertama, zakat bukan saja membebaskan diri dari kekikiran. Tapi lebih jauh melalui penghayatan sufistik, dimaksudkan untuk mengikis cinta diri yang menjadi musuh bebuyutan dari kepasrahan total saat berhaji.

Menurut Al-Ghazali, salah satu adab batin zakat adalah terbebasnya si pembayar zakat dari minnah (QS. Al-Baqarah :264), yakni dari perasaan bahwa dirinya telah berbuat baik kepada si miskin dan telah berjasa kepadanya.

Perasaan minnah ini tidak boleh muncul karena dari segi hakikat, sebenarnya si miskinlah yang telah berbuat kebaikan kepada si pembayar zakat dengan mau menerima hak Allah (zakat) yang akan menyucikan dan menyelamatkannya dari api neraka.

Sekiranya si miskin tak mau menerima, tentulah si pemberi masih terikat oleh tanggungjawabnya di hadapan Allah. Karenanya dari segi ini, bukannya si pemberi yang berjasa, melainkan si penerima.

Karena itulah, untuk membendung perasaan minnah yang dari segi penghayatan sufistik sangat ekstrim, sebagian kaum arif berzakat dengan berbagai cara. Sebagian meletakkan zakatnya di hadapan si miskin seraya duduk dengan tawadhu, mengharapnya mau menerimanya.

Hal tersebut terlihat seolah-olah si pemberi itulah yang sangat membutuhkan kebaikan dari si penerima. Sementara, ia merasa cemas seandainya si miskin tak mau menerimanya.

Ada sebagian lagi yang membuka telapak tangannya di hadapan si miskin agar ia yang mengambil sedekah itu, sehingga tangan si miskin itulah yang berada di atas. Dengan adab batin seperti ini, jelaslah kiranya bahwa zakat akan mengikis cinta diri.

Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa adab batin ini memang menyerupai syarat khusyuk dalam shalat yang oleh para fukaha tidak dipersyaratkan. Dalam hal ini, sebagaimana zakat merupakan lanjutan dari shalat.

Kedua, dengan adab batin seperti ini, zakat pun pada alirannya akan mendorong pelakunya untuk banyak sedekah. Bukankah bila cinta diri seseorang telah luntur, atau setidaknya kekikirannya telah terkikis, maka ia akan terdorong untuk banyak bersedekah?

Dan pahala sedekah jelas akan sangat bermanfaat bagi ongkos (rohani) haji. Bahkan menurut Al-Ghazali, salah satu ciri mabrur adalah banyak sedekah.

jurnalhaji.com