29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Hadits-Hadits tentang Keutamaan Thawaf di Baitullah

Hadits-Hadits tentang Keutamaan Thawaf di Baitullah

Fiqhislam.com - Tawaf merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang harus dilaksanakan untuk kesempurnaan keduanya.

Cara melakukan tawaf dengan menghadap ke arah Hajar Aswad dari arah terbitnya matahari, kemudian mengangkat kedua tangan seraya bertakbir, lalu berjalan mengitari Ka’bah dengan menempatkannya di sebelah kiri sebanyak tujuh putaran yang berakhir di depan Hajar Aswad (sudut Ka’bah bagian timur). Demikian tawaf yang sempuma yang disebut juga subu’ atau usbu’.

Allah SWT berfirman, “Dan (Ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.”

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang temak.

“Maka, makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untiik dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian mereka hendaklah menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj: 26- 30).

Kemudian Allah berfirman pula, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf dan yang i’tikaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125).

Kata tawaf adalah bentuk jamak dari kata taif, artinya orang yang bertawaf di sekeliling Baitul Haram. Kata ‘akifun maksudnya adalah orang-orang yang mengkhususkan diri untuk salat dan beribadah di masjid. Sedangkan kata rukka’ issujud berarti mereka yang melakukan shalat.

Muhammad bin Munkadir, menceritakan bahwa yang pertama dilakukan Adam AS ketika dia turun dari langit adalah bertawaf di sekeliling Baitullah. Lalu para malaikat menemuinya dan berkata, “Semoga nusuk (ibadah haji)mu mabrur wahai Adam, sedang kami telah melakukan tawaf di Baitullah ini sejak dua ribu tahun sebelum kamu.” (Al-Azraqy: 1/45).

Sufyan bin Uyainah menceriterakan pula dari Haram bin Abi Labid Al-Madany, katanya, “Adam AS melakukan ibadah haji, kemudian para malaikat menemuinya dan berkata, “Wahai Adam, semoga hajimu mabrur, sedang kami telah berhaji sejak dua ribu tahun sebelum kamu.” (Al-Azraqy: 1/45).

Utsman bin Sa’aj berkata, “Said memberitahuku bahwa Adam AS melaksanakan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali dengan berjalan kaki, kemudian para malaikat menemuinya di jalan setapak (di antara dua gunung) dan berkata, “Semoga hajimu mabrur wahai Adam, sedang kami telah berhaji sejak dua ribu tahun sebelum kamu.” (Al-Azraqy: 1/45).

Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Adam AS pernah melaksanakan ibadah haji, dan bertawaf di sekeliling Baitullah sebanyak tujuh putaran.

Kemudian para malaikat menemuinya pada waktu tawaf, dan berkata, “Semoga hajimu mabrur wahai Adam! Sesungguhnya kami telah melaksanakan ibadah haji di Baitullah ini sejak dua ribu tahun sebelum kamu.”

Adam bertanya, “Pada zaman dahulu, apakah yang kalian baca pada saat tawaf?” Mereka menjawab, “Dahulu kami mengucapkan Subhanallah wal hamdu lillah wa la ilaha illa, Allahu Akbar.”

Adam berkata, “Tambahkanlah dengan ucapan Wa la haula wa la quwwata illa billah.” Selanjutnya, para malaikat pun menambahkan ucapan itu.

Setelah membangun Baitullah, Ibrahim AS melaksanakan ibadah haji. Kemudian para malaikat menemuinya pada saat tawaf, seraya mengucapkan salam kepadanya. Ibrahim bertanya kepada mereka, “Dahulu, apakah yang kalian baca dalam tawaf kalian?”

Mereka menjawab, “Dahulu sebelum bapakmu (Adam), kami membaca Subhanallah wal hamdu lillahi wa la ilaha illallah wallahu akbar. Kemudian kami memberitahukan hal itu kepada­nya dan dia menyuruh kami menambahkannya dengan bacaan Wa la hawla wa la quwwata illa billah.”

Selanjutnya Ibrahim berkata, “Tambahkanlah bacaan kalian dengan Al aliyyi al adzim.” Kemudian para malaikat pun melaksanakannya. (Lihat Al-Azraqy: 1/45).

Ibnu Umar RA menceritakan seorang pria yang telah melaksanakan tawaf dalam umrah tetapi belum melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Seseorang bertanya. “Apakah dia boleh mendatangi istrinya (berhubungan suami istri)?”

Ibnu Umar menjawab, “Nabi SAW datang dan melakukan tawaf di sekeliling Baitullah sebanyak tujuh putaran. Kemudian beliau melangsungkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim Berikutnya beliau melakukan sa’i di antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh putaran. ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al- Ahzab: 21).

Dan kami telah bertanya kepada Jabir bin Abdillah RA, kemudian dia menjawab, “Jangan sekali-kali pria itu mendekati istrinya (berhubungan badan dengan istrinya) sehingga dia melakukan tawaf dan sa’i di antara Shafa dan Marwah.” (HR. Bukhari: 11/308).

Ali RA menyebutkan dalam musnad Imam Zaid, bahwa yang pertama dilakukan dalam manasik haji adalah memasuki Makkah, mendatangi Ka’bah, mengusap Hajar Aswad sambil bertakbir dan berdzikir kepada Allah, kemudian bertawaf.

Apabila telah sampai pada Hajar Aswad itu berarti satu syauth (putaran). Maka hendaklah melakukan yang demikian itu sebanyak tujuh kali. Jika memungkinkan untuk mengusap Hajar Aswad pada setiap kali putaran, hendaklah melakukannya.

Tetapi jika tidak, cukuplah mengusapnya pada putaran yang pertama dan yang terakhir. Apabila telah selesai melaksanakan tawaf, hendaklah mendatangi Maqam Ibrahim untuk melangsungkan shalat dua rakaat. (Musnad Imam Zaid: 202).

Ibnu Umar menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan tawaf di Baitullah, maka Allah Azza Wa Jalla akan mencatat satu kebaikan dan menghapus satu keburukan untuk setiap langkahnya.” (Al-Azraqy: II/3).

Hassan bin Athiyah juga mengatakan bahwa Allah Azza Wa Jalla menciptakan seratus dua puluh rahmat untuk Baitullah ini, yang diturunkan-Nya setiap hari. Enam puluh di antaranya untuk orang-orang yang bertawaf, empat puluh untuk orang-orang yang shalat, dan dua puluh untuk orang-orang yang memandang (Baitullah).

Apabila kita perhatikan, ternyata semua rahmat itu untuk orang-orang yang bertawaf, karena dalam melakukan tawaf, dia juga melaksanakan shalat, sekaligus memandang (Baitullah). (Al-Azraqy: II/8).

Anas bin Malik dan Said bin Musayib mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dua macam tawaf, yang apabila seorang hamba Muslim dapat memenuhinya, niscaya seluruh dosanya akan diampuni seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Dua macam tawaf itu adalah tawaf setelah shalat fajar (Subuh) yang selesai bersamaan dengan terbitnya matahari, dan tawaf setelah shalat Ashar yang selesai bersamaan dengan terbenamnya matahari.” (Al-Azraqy: 11/22).

Abdullah bin Amr RA meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah tawaf tujuh (putaran) di Baitullah dan shalat dua rakaat.” (Al-Fakihy: 1/186-188).

Abdullah bin Amr juga mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan tawaf tujuh (putaran) di Baitullah sambil menghitungnya dan melakukan shalat dua rakaat, maka dia telah menyamai (pahala) memerdekakan seorang budak.” (Al-Fakihy: 1/186-188).

Ibnu Umar RA mendengar Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan tawaf tujuh (putaran) di Baitullah, lalu dia menghitungnya, dan melakukan shalat dua rakaat, maka dia telah menyamai (pahala) memerdekakan seorang budak yang baik.” (Al-Fakihy: 1/189).

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan tawaf seraya menghitungnya, hal itu sama seperti memerdekakan seorang budak. Dan setiap orang yang mengangkat sebelah kakinya dan meletakkan sebelah kakinya yang lain, niscaya satu keburukannya akan dihapus, dan dicatat untuknya satu kebajikan, serta diangkat satu derajat untuknya.” (Al-Fakihy: 1/189).

Abbas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Di Baitullah tawaf merupakan shalat, hanya saja Allah Azza Wa Jalla telah memperbolehkan kalian untuk berbicara di dalamnya. Maka, barangsiapa yang berbicara, hendaklah dia berbicara tentang kebaikan semata.” (Al-Fakihy: 1/191).

Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa tawaf di Baitullah merupakan shalat, maka hendaklah kalian menyedikitkan pembicaraan. (Al-Fakihy: 1/192).

Atha’ menceritakan bahwa salah seorang amir pernah memberikan hadiah untuk Ka’bah sebanyak seratus wasaq, terdiri dari kiswah, parfum (wewangian), dirham, dinar, dan hamba sahaya, sebagai wujud pelayanan terhadap Ka’bah.

Lalu aku berkata kepada Ibnu Umar, “Aku belum pernah melihat hadiah yang semewah dan seagung hari ini!”

Kemudian Ibnu Umar RA berkata, “Sungguh, suatu tawaf yang dilakukan seseorang sebanyak tujuh putaran di sekitar Baitullah ini, dengan akal yang baik dan niat yang sungguh-sungguh, lebih utama beberapa kali lipat daripada apa yang telah engkau lihat.” (Al-Fakihy: I/ 192).

Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada setiap hari, Allah Azza Wa Jalla menurunkan seratus dua puluh rahmat kepada Baitullah ini. Enam puluh untuk orang-orang yang bertawaf, empat puluh untuk orang- orang yang salat, dan dua puluh untuk orang-orang yang memandang (Baitullah).” (Al-Fakihy: 1/198).

Diceriterakan pula dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Allah SWT setiap hari menurunkan seratus dua puluh rahmat kepada para penduduk Makkah. Tujuh puluh di antaranya untuk orang-orang yang bertawaf, tiga puluh untuk orang-orang yang salat, dan dua puluh untuk orang-orang yang memandang Baitullah.” (Al-Fakihy: 1/198).

Al-Hasan RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Bani Ahdul Daar, janganlah kalian mencegah siapa pun untuk melakukan tawaf di Baitullah, siang maupun malam.” (Al- Fakihy: 1/256).

Thawus berkata, “Sungguh, aku terbiasa melakukan tawaf tujuh (putaran), dan tidak seorang pun berbicara kepadaku, maka aku pergunakan (kesempatan itu) sebaik-baiknya.” (Al- Fakihy: 1/256).

Atha’ menceritakan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah melakukan tawaf dan tidak seorang pun berbicara kepadanya hingga dia selesai melakukannya. Kemudian ada seseorang yang mengikutinya untuk mendengarkan apa yang sedang dibacanya.

Ternyata dia membaca, “Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina adzaban nar. (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaihan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka).” (QS. Al-Baqarah: 201).

Ketika dia selesai membaca doa itu, orang itu berkata kepadanya, “Semoga Allah memperbaikimu, aku telah mengikutimu dan aku tidak mendengar kamu membaca selain bacaan itu. Itukah yang engkau baca?” Abdurrahman berkata, “Bukankah itu (mencakup) seluruh kebaikan?” (Al-Fakihy: 1/201).

Atha’ berkata, “Aku pernah tawaf di belakang Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, dan aku tidak mendengar mereka berbicara ketika sedang melakukan tawaf.” (Al-Fakihy: 1/201).

Nafi’ maula Ibnu Umar berkata, “Sungguh aku pernah menyaksikan orang-orang yang bertawaf di Baitullah ini, seolah-olah di atas kepala mereka terdapat burung, mereka sangat khusyuk.” (Al-Fakihy: 1/202).

Ali bin Abi Thalib RA mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Hurairah RA, “Wahai Abu Hurairah, barangkali engkau akan mendapati orang-orang yang melakukan tawaf dalam keadaan lalai dan bercanda, maka tawaf yang demikian itu tidak diterima dan merupakan amal perbuatan yang tidak diangkat (tidak bernilai).”

Wahai Abu Hurairah, apabila engkau melihat mereka berbaris-baris, sibaklah barisan mereka dan katakan kepada mereka, ‘Tawaf seperti ini tidak akan diterima dan merupakan amal perbuatan yang tidak diangkat (tidak bernilai).” (Al-Fakihy: 1/203).

Abu Bakar Saraj berkata, “Aku mendatangi Said bin Jubair dan menyampaikan salam kepadanya. Aku mengabarkan kepadanya bahwa aku hendak mengunjungi Kota Madinah.”

Maka Said berkata, “Sungguh, satu kali tawaf dan shalat dua rakaat lebih disukai untuk kulakukan daripada mengunjungi Kota Madinah delapan kali.” (Al-Fakihy: 1/285).

Atha’ juga mengatakan, “Sungguh, melakukan tawaf tujuh putaran di sekeliling Baitullah lebih aku sukai daripada pergi ke Tan’im untuk berumrah dari sana.” (Al-Fakihy: 1/285).

Mujahid berkata, “Apabila engkau memasuki Tanah Haram (suci), jangan sekali-kali engkau mendorong seseorang, dan jangan sekali-kali pula menyakiti, serta janganlah mendesak- desak.” (Al-Fakihy: 1/259).

Atha’ menceritakan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Barangsiapa melakukan tawaf di Baitullah sebanyak tujuh putaran, dan tidak berbicara apa pun selain dzikir kepada Allah, kemudian melaksanakan shalat dua atau empat rakaat, maka dia seperti orang yang memerdekakan empat orang budak.” (Al-Azraqy: II/8).

Ibnu Abbas juga menceritakan, ketika Rasulullah SAW keluar dari Makkah, beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar keluar darimu, sementara aku tahu bahwa engkau adalah negeri yang paling dicintai dan paling dimuliakan oleh Allah.”

“Seandainya pendudukmu tidak mengusirku darimu, aku pun tidak akan keluar. Wahai Bani Abdi Manaf, seandainya sepeninggalku kalian menjadi penguasa dalam urusan ini, janganlah sekali-kali mencegah seseorang melakukan tawaf di Baitullah Azza Wa Jalla pada waktu apa saja, siang maupun malam.”

“Dan seandainya kaum Quraisy tidak berbuat zalim, niscaya aku akan memberitahukan kepadanya tentang apa yang, dimilikinya di sisi Allah. Ya Allah, Engkau telah menimpakan bencana kepada generasi pertamanya, maka berikanlah anugerah kepada generasi yang kemudian.” (Lihat Al-Azraqy: 11/155).

Diceritakan pula, bahwa Anas bin Malik datang ke Madinah. Lalu Umar bin Abdul Aziz pergi menemuinya dan bertanya kepadanya, “Manakah yang lebih utama bagi orang-orang asing, tawaf ataukah umrah?” Dia menjawab, ‘Tawaf.” (Al-Azraqy: H/3)

Ma’mar Abi Said bertanya kepada Atha’, “Apakah orang asing (bukan penduduk Makkah) sebaiknya memanjangkan shalatnya di Masjidil Haram?” Dia menjawab, “Sebaiknya melakukan tawaf di Baitullah, sebab dia (dapat) melakukan salat di kotanya.” (Al- Fakihy: 1/241).

Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, dan Mu’adz bin Jabal RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dua macam tawaf yang apabila seorang hamba dapat memenuhinya, maka dosa-dosanya akan diampuni Allah.”

Dalam riwayat itu ditambahkan bahwa seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, seandainya dia selesai melaksanakan tawaf sebelum itu?”

Beliau menjawab, “Tidak mengapa, Allah akan menyampaikan keutamaan itu kepadanya.”

“Lalu mengapa dianjurkan pada dua waktu itu?”

Beliau menjawab, “Sebab dua waktu itu tidak pernah dilewatkan oleh para malaikat.” (Al-Fakihy: 1/254). [yy/jurnalhaji]

Sumber: Menguak Misteri Tempat-Tempat Suci, Keutamaan Kota Makkah, oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi