5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Kumpulan Hadits Keutamaan Shalat di Masjidil Haram

Kumpulan Hadits Keutamaan Shalat di Masjidil Haram

Fiqhislam.com - Banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Ketiga Masjid tersebut adalah tempat suci umat Islam dan dianjurkan untuk berziarah mengunjunginya.

Riwayat dari Abu Hurairah RA mengatakan, Nabi SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku (Masjid Nabawi) ini lebih baik daripada seribu kali shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari: 11/136).

Dan di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari Az-Zuhri dari Said bin Musayyib dari Abi Hurairah RA yang menyampaikannya kepada Nabi SAW beliau bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di tempat lain, selain Masjidil Haram.” (HR. Muslim: IV/124).

Ma’mar menceritakan dari Az-Zuhri dari Said bin Musayyib dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid-masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Muslim: IV/124).

Diceritakan juga dari Abu Hurairah, “Satu kali shalat di masjid Rasulullah SAW itu lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram, sebab Rasulullah adalah nabi yang terakhir dan masjid beliau adalah masjid yang terakhir.”

Abu Salamah dan Abu Abdillah berkata, “Kami tidak meragukan bahwa Abu Hurairah adalah orang yang (banyak/ bercerita tentang hadis Rasulullah SAW sehingga hal itu menghalangi kami untuk berististbat (menuntut kepastian) kepada Abu Hurairah mengenai hadis itu, sampai akhirnya dia wafat.

“Kami jadi saling mengingatkan akan hal itu, bahkan saling menyalahkan karena kami belum pernah berbicara kepada Abu Hurairah mengenai hal itu, sehingga dia mengunakannya kepada Rasulullah SAW untuk meyakinkan bahwa hadis itu berisnad kepada Nabi SAW.

“Maka kami menuturkan hadis itu berikut nash Abu Hurairah kepada Abdullah bin Ibrahim bin Qaridh. Lalu Abdullah bin Ibrahim berkata kepada kami, “Aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku adalah nabi yang terakhir dan masjidku adalah masjid yang terakhir.” (HR. Muslim: IV/124).

Atha’ meriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku lebih utama daripada seribu kali shalat di tempat lain, selain Masjidil Haram. Sedangkan satu kali shalat di Masjidil Haram itu lebih utama daripada seratus ribu kali shalat di tempat lain.” (HR. Ibnu Majah: 1/450).

Ibnu Majah mengatakan bahwa nash (teks) inilah yang kini diyakini validitas dan kesahihannya oleh para ulama, dan tidak ada kontradiksi antara hadis ini dengan hadis sebelumnya.

Yahya bin Said bertanya kepada Abu Shaleh, “Apakah engkau mendengar Abu Hurairah menuturkan keutamaan shalat di masjid Rasulullah SAW?”

Lalu dia menjawab, “Tidak, tetapi Abdullah bin Ibrahim bin Qaridh pernah bercerita kepadaku bahwa dia telah mendengar Abu Hurairah bercerita tentang sabda Rasulullah SAW, ‘Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat, atau seperti seribu kali shalat di masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram’.” (HR. Muslim: IV/125).

Diceritakan dari Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di tempat lain, selain Masjidil Haram.” (HR. Muslim: IV/125).

Diceritakan dari Ibnu Abbas, ada seorang perempuan mengeluh akan suatu penyakit sambil berkata, “Apabila Allah menyembuhkanku, sungguh aku akan pergi untuk menunaikan shalat di Baitul Maqdis.”

Tidak lama setelah itu, dia sembuh. Kemudian dia bersiap-siap hendak pergi. Dia mendatangi Maimunah, istri Nabi SAW, seraya mengucapkan salam kepadanya. Lalu dia menceritakan hal itu kepadanya.

Maimunah berkata, “Duduklah, dan makanlah makanan yang telah engkau buat, lalu shalatlah di Masjid Rasul SAW, sebab aku pemah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Satu kali shalat di sana lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid yang lain, kecuali Masjidil Ka’bah’.” (HR. Muslim: IV/126).

Di dalam Sunan Ibnu Majah disebutkan, Abi Abdillah Al-Aghar meriwayatkan dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di tempat lain, selain Masjidil Haram.” (HR. Ibnu Majah: 1/450).

Diriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid yang lain, selain Masjidil Haram.” (HR. Ibnu Majah: 1/450).

Di dalam Sunan Ad-Darimy disebutkan, Sulaiman Al-Aghar mendengar Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini seperti seribu kali shalat di masjid yang lain, selain Masjidil Haram.” (HR. Darimy: 1/330).

Dan dari Ibnu Umar dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di tempat lain, selain Masjidil Haram.” (HR. Darimy: 1/330).

Di dalam Musnad Al-Humaidy disebutkan bahwa Abu Hurairah mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid yang lain, selain Masjidil Haram.” (Musnad Al-Humaidy: 11/420).

Sulaiman bin Atiq mendengar Ibnu Zubair berkata di atas mimbar, “Satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus (barangkali seratus ribu) kali salat di masjid yang lain.”

Al-Humaidy mengatakan bahwa Sufyan berkata, “Maka mereka berpandangan karena satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus kali salat di masjid yang lain, kecuali Masjid Rasul, sebab keutamaannya adalah seratus kali salat.” (Musnad Al-Humaidy: 11/420).

Di dalam Akhbar Makkah karya Al-Azraqy disebutkan, bahwa Abdul Jabbar bin Ward Al-Makky telah mendengar Atha’ bin Abi Rabah berkata, “Masjidil Haram adalah Tanah Haram (baca: suci) secara keseluruhan.” (Al-Azraqy: 11/62).

Ali Al-Azdy juga mendengar Abu Hurairah berkata, “Sungguh, kami menemukan di dalam Kitab Allah Azza Wa Jalla bahwa batas Masjidil Haram adalah mulai dari bukit Hazwarah hingga Mas’a (tempat sa’i).” (Al-Azraqy: 11/62).

Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Dasar-dasar Masjidil Haram yang dibangun oleh Ibrahim adalah mulai dari bukit Hazwarah, hingga Mas’a sampai dengan muara Ajyad. Dan Khalifah Al-Mahdy telah membangun masjid di atas Mas’a.”

Said bin Musayyib menceritakan, seorang pria memohon izin kepada Umar bin Khathab RA untuk mendatangi Baitul Maqdis.

Maka Umar berkata kepadanya, “Pergi dan bersiap-siaplah. Jika engkau telah siap, beritahukanlah kepadaku.” Maka ketika dia telah siap, dia mendatangi Umar dan Umar berkata. “Pergunakanlah ia untuk menunaikan umrah.”

Dan dua orang pria melewatinya, sementara dia tengah menyerahkan unta sedekah (zakat), maka dia bertanya kepada mereka, “Kalian datang dari mana?”

Mereka menjawab, “Dari Baitul Maqdis.”

Kemudian Umar memukul mereka dengan cemeti sambil berkata, “Apakah itu haji sebagaimana haji ke Baitullah?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanya sekedar lewat.” (Al-Azraqy: 11/63).

Atha’ bin Abi Rabah mengatakan, seorang pria datang kepada Rasulullah Saw pada hari Fath, lalu berkata, “Aku telah bernazar bahwa aku akan melakukan salat di Baitul Maqdis.”

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Di sini lebih utama, maka shalatlah!”

Tetapi pria itu terus mengatakan hal itu sebanyak tiga kali. Maka Nabi SAW bersabda, “Demi Tuhan yang jiwa Abul Qasim berada di tangannya, satu kali shalat di sini lebih utama daripada seribu kali shalat di negeri yang lain.” (Al-Azraqy: 11/64).

Ismail bin Umayyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid lain kecuali di Masjidil Haram. Dan keutamaan Masjidil Haram itu sendiri adalah seratus kali shalat.” (Al-Azraqy: 11/64).

Atha’ bin Abi Rabah mendengar Ibnu Zubair mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan Masjidil Haram atas masjidku ini adalah seratus kali shalat.”

Lalu Khallad bertemu dengan Amr bin Syu’aib dan mengatakan bahwa Atha’ bin Abi Rabah telah bercerita kepadanya tentang perkataan Ibnu Zubair,

Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan Masjidil Haram atas masjidku adalah seratus kali shalat.” Lalu Amr bin Syu’aib berkata, “Atha’ menyangka bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Dan keutamaan Masjidil Haram atas masjidku adalah sebagaimana keutamaan masjidku atas masjid-masjid yang lain’.” (Al-Azraqy: 11/64).

Dan di dalam Akhbar Makkah karya Al-Fakihy disebutkan bahwa Jabir RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu, dan di masjidku sama dengan seratus, sedangkan di Masjid Baitul Maqdis sama dengan lima ratus.” (Al-Fakihy: 11/90).

Atha’ menceritakan dari Abdullah bin Zubair RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seratus ribu kali shalat di tempat lain, selain Masjidil Haram. Dan satu kali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus kali shalat di masjidku.” (Al-Fakihy: 11/90).

Salamah bin Wardan mendengar Abu Said bin Abil Ma’ally berkata, “Aku mendengar Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di tempat lain, selain Masjidil Haram’.” (Al-Fakihy: 11/90).

Ummi Darda’ RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu kali shalat di masjid yang lain, dan satu kali shalat di Baitul Maqdis lebih utama daripada seribu kali shalat di tempat lain.” (Al-Fakihy: 11/91).

Ibnu Abbas RA berkata, “Barangsiapa mengerjakan shalat di Masjidil Haram, di sekitar Baitullah yang dihormati, dengan berjamaah, maka Allah akan mencatat untuknya sebanyak dua puluh lima kali seratus ribu kali shalat.”

Lalu seorang tabi’in bertanya kepadanya, “Apakah ini pendapatmu, wahai Ibnu Abbas, ataukah dari Rasulullah SAW?” Dia menjawab, “Oh bukan pendapatku, melainkan dari Rasulullah SAW.” (Al-Fakihy: 11/92).

Said bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas RA, sesungguhnya Nabi SAW pernah membaca firman Allah, “Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam, (surah) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 106). Lalu beliau bersabda, “Itu adalah shalat lima waktu berjamaah di masjid ini.” (Al-Fakihy: 11/96).

Abi Amr Asy Syaibany mengatakan, Abdullah bin Mas’ud berkata, “Tidak ada (shalat) yang lebih utama bagi seorang perempuan daripada salatnya di rumahnya, kecuali (shalat) di Masjidil Haram.” (Al-Fakihy: 11/98).

Atha’ menceritakan, seorang pria bernazar untuk mengerjakan shalat di Baitul Maqdis, lalu Nabi SAW bersabda, “Di sinilah” maksudnya di Masjidil Haram. Ibnu Muqri berkata, “Hendaklah dia mengerjakan shalat di Makkah.” (Al-Fakihy: 11/101).

Abdullah bin Thawus menceritakan dari ayahnya RA, ada seorang pria mendatangi Nabi SAW sambil berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernazar apabila Allah menaklukkan Kota Makkah untuk engkau, aku akan mengerjakan shalat di Baitul Maqdis.”

Kemudian beliau bersabda, “Salatlah di sini.” Lalu dia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bernazar untuk mengerjakan shalat di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Baik, shalatkah engkau di Baitul Maqdis, (tetapi) sungguh, seandainya engkau mengerjakan shalat di sini, maka cukuplah itu bagimu.” (Al-Fakihy: 11/105).

Mujahid mengatakan bahwa shalat sunah seseorang di rumahnya itu lebih baik daripada shalat sunah (di masjid) selain Masjidil Haram dan Masjid Madinah. (Al-Fakihy: 11/105).

Ibnu Abbas RA berkata, “Tanah Haram secara keseluruhan adalah Masjidil Haram.” (Al-Fakihy: 11/106).

Mengenai firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram .” (QS. Al-Hajj: 25), Qatadah mengatakan bahwa Masjidil Haram adalah Makkah. (Al-Fakihy: II/106).

Atha’ menuturkan, “Masjidil Haram adalah apa yang dikitari oleh batas-batas Al-Haram (Tanah Suci). (Al-Fakihy: 11/106).

Dalam Sunan Ibnu Majah disebutkan bahwa Anas bin Malik mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Shalat seorang pria di rumahnya sama dengan satu kali shalat, sedangkan salatnya di masjid kabilah sama dengan dua puluh lima kali shalat, lalu shalatnya di masjid yang ditempati shalat Jumat sama dengan lima ratus kali shalat, kemudian salatnya di Masjidil Aqsha sama dengan lima puluh ribu kali shalat, berikutnya salatnya di Masjidku sama dengan lima puluh ribu kali shalat, dan salatnya di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu kali shalat.” (HR. Ibnu Majah: 1/452).

Abdullah bin Umar mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Satu kali shalat di masjidku lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram.” Dan diceritakan bahwa Maimunah, istri Nabi SAW berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW mengatakan bahwa satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid yang lain, selain Masjidil Ka’bah.” (HR. Nasa’i: V/213). [yy/jurnalhaji]

Sumber: Menguak Misteri Tempat-tempat Suci, Keutamaan Kota Makkah, oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi