27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Adab Memasuki Masjidil Haram

Adab Memasuki Masjidil Haram

Fiqhislam.com - Kemuliaan Tanah Suci Makkah haruslah disertai kemuliaan akhlak orang yang berziarah ke dalamnya.

Kemuliaan akhlak tersebut berasal dari adab dan sopan santun seorang peziarah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Sebagaimana sabda beliau, “Jadikanlah aku (sebagai tuntunan) manasik hajimu.”

Terkait dengan adab seseorang memasuki Kota Makkah, ada enam hal yang harus menjadi perhatian, yaitu;

1. Melaksanakan sembilan jenis mandi yang sangat dianjurkan dalam haji. Sembilan jenis tersebut yaitu:

  • Mandi ketika memulai ihram di tempat miqat,
  • Ketika hendak memasuki Kota Makkah (sebaiknya di tempat yang bernama Dzu Thuwa).
  • Ketika hendak melakukan Tawaf Qudum (yakni tawaf pertama kali ketika memasuki Masjidil Haram).
  • Menjelang wukuf di Arafah
  • Menjelang berhenti di Muzdalifah
  • Tiga kali mandi ketika hendak melempar ketiga jumrah. Namun, tidak disunahkan mandi menjelang melempar Jumrah Aqabah.
  • Dan yang terakhir adalah mandi untuk Tawaf Wada’ (tawaf “perpisahan” yang terakhir sebelum meninggalkan Kota Makkah).

Akan tetapi, menurut Imam Syafi’i, dalam mazhab jadid-nya, tidak disunahkan mandi menjelang tawaf, baik pada saat pertama ataupun terakhir. Bagi yang mengikut mazhab ini, berarti jenis mandi yang disunahkan hanya berjumlah tujuh saja.

2. Ketika sampai di perbatasan Haram (Tanah Suci), yakni sejenak sebelum memasuki batas Kota Makkah, hendaknya mengucapkan doa berikut: “Allahumma hadza haramuka wa aninuka, fa harrim lahmi wa sya’ari wa basyari alan nar. Wa aminni min adzabika yauma tab’atsu ibadaka, waj’alni min auliya’ika wa ahli tha’atik.”

Artinya, “Ya Allah, inilah Haram, Tanah Suci-Mu dan jaminan keselamatan dari-Mu. Maka haramkanlah dagingku, darahku, rambutku dan kulitku dari api neraka. Selamatkanlah aku dari azab-Mu pada hari ketika Engkau membangkitkan kembali hamba-hamba-Mu. Dan masukkanlah aku ke dalam kelompok orang-orang kecintaan-Mu serta mereka yang senantiasa taat kepada-Mu.

3. Hendaknya memasuki Makkah dari arah yang disebut Abthah, melalui jalan tanjakan Kada’.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika beliau memasuki Kota Makkah, beliau keluar dari jalan lurus yang biasa dilalui dan menuju ke arah Kada’.

Mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah tentunya adalah sunnah. Apabila keluar dari kota Makkah, hendaknya melalui jalan Kada’ (yang letaknya di bawah bukit Kada’, jalan yang pertama).

4. Apabila telah memasuki Kota Makkah dan sampai di tempat (bukit) yang dikenal sebagai Ras Ar-Radm, Maka hendaklah ia berdoa dari tempat mana ia dapat memandang Masjidil Haram. Doa tersebut adalah “La ilaha illallah wallahu akbar. Allahumma antas salam wa minkas salam, wa daruka darus salam. Tabarakta ya dzal jalali wal ikram. Allahumma inna hadza baituka, azzhamtahu wa karramtahu wa syarraftahu.

“Allahumma fazidhu ta’zhiman, wa zidhu tasyrifan wa takrima. Wa zidhu mahabatan, wa zid man hajjahu birran wa karamatan. Allahumma iftah li abwaba rahmatika wa adkhilni jannatak. Wa a‘idzni minas syaitha nirrajim.”

Artinya, “Tiada tuhan selain Allah, Dialah Yang Mahabesar. Ya Allah, Engkaulah (sumber) kedamaian, dan dari-Mu segala kedamaian, dan rumah-Mu adalah rumah kedamaian. Engkaulah sumber segala kebaikan, wahai Tuhan Pemilik segala keagungan dan penghormatan. Ya Allah, ini adalah rumah-Mu, yang telah Kau-limpahkan kepadanya keagungan, kemuliaan dan kehormatan.”

“Ya Allah, maka tambahkanlah baginya keagungan, kemuliaan dan kehormatan. Tambahkanlah baginya kewibawaan, dan tambahkan pula bagi siapa saja yang berhaji kepadanya, segala kebaikan dan kemuliaan. Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu dan masukkanlah aku ke dalam surga-Mu dan lindungilah aku dari syaitan terkutuk.”

5. Apabila hendak memasuki Masjidil Haram, hendaknya melalui Bab (pintu) Bani Syaibah (yakni nama salah satu pintu dalam Masjidil Haram). Dan hendaknya mengucapkan doa ini, “Bismillah wa billah wa minallah wa ilallah wa fi sabilillah wa ala millati Rasulillah (shallallahu alaihi wa sallam).

Artinya, “Dengan nama Allah, atas perkenan Allah, dari Allah, kepada Allah, di jalan Allah dan di atas lintasan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW.”

Selanjutnya, apabila sudah berada dekat dengan Ka’bah, hendaknya membaca doa ini, “Alhamdulillah, wa salamun ala ibadihil ladzina ishtafa. Allahumma shalli ala Muhammadin, abdika wa rasulika wa ala Ibrahima, khalilika, wa jami‘i anbiya’ika wa rusulika.”

Artinya, “Segala puji bagi Allah, salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang telah dipilih oleh-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat atas Muhammad, hamba-Mu dan utusan-Mu, juga atas Ibrahim, kekasih-Mu, serta atas sekalian Nabi dan Rasul-Mu.

Kemudian mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Allahumma inni as’aluka fi maqami hadza, fi awwali manasik an tataqabbala taubati, wa an tatajawaza an khathiati, wa tadhaa anni wizri. Alhamdulillah alladzi ballaghani baitahul haram, alladzi ja’alahu matsabatan linnasi wa amna. Wa ja’alahu mubarakan wa hudan lil alamin.”

“Allahumma inni abduka, wal baladu baladuka, wal haramu haramuka, wal baitu baituka. Ji’tuka athlubu rahmataka, wa as’aluka mas’alatal mudhtarri al-khaifi min uqubatik, ar-raji li rahmatik, atthalibi mardhatik.”

Artinya, “Ya Allah, aku sungguh-sungguh memohon dari-Mu, di tempat berdiriku ini, di permulaan manasik hajiku ini kiranya Engkau berkenan menerima taubatku, mengampuni segala kesalahanku, dan meringankan beban dosa-dosa yang memberatiku. Segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan aku ke rumah suci-Nya yang dijadikan-Nya tempat kembali manusia serta keselamatan mereka; dan dijadikan-Nya sebagai rumah yang diberkati serta sarana hidayah bagi seluruh penghuni alam semesta.”

“Ya Allah, sungguh aku adalah hamba-Mu, negeri ini adalah negeri-Mu, tempat suci ini adalah milik-Mu, dan Ka’bah ini adalah kepunyaan-Mu. Inilah aku, datang mendambakan rahmat-Mu. Dan aku memohon dan meminta dari-Mu, sebagai seorang yang amat sangat membutuhkan pertolongan-Mu, yang amat sangat mencemaskan hukuman-Mu, yang mengharapkan rahmat-Mu dan yang mencari keridhaan-Mu.”

6. Jika memungkinkan untuk menuju Hajar Aswad untuk menyentuh dengan tangan kanan atau menciumnya seraya mengucapkan, “Allahumma amanati addaituha, wa mitsaqi wafaituhu, isyhad li bil mufawah.”

Artinya, “Ya Allah, inilah amanat yang kutanggung, telah kutunaikan dan janjiku (untuk tidak menyembah selain-Mu) telah kupenuhi, maka saksikanlah bahwa aku telah memenuhinya.”

Apabila situasi tidak memungkinkan untuk menciumnya, berdirilah dihadapannya seraya mengucapkan ikrar seperti tersebut di atas. Kemudian jangan melakukan sesuatu selain tawaf.

Tawaf yang demikian itulah yang disebut Tawaf Qudum (yakni tawaf kedatangan). Kecuali pada saat itu orang banyak sedang melaksanakan shalat fardhu berjamaah. Maka yang harus dilakukan adalah ikut shalat fardhu tersebut. Setelah shalat, barulah melakukan tawaf.

Sumber: Rahasia Haji dan Umrah oleh Abu Hamid Al-Ghazali | jurnalhaji.com