21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Prosesi Sai Bagi Perempuan

Prosesi Sai Bagi PerempuanFiqhislam.com - Setelah selesai mengerjakan tawaf beserta sunah-sunahnya, jamaah haji perempuan hendaknya langsung berniat sa’i dan bergegas pergi menuju bukit Shafa.

Dia harus suci dari hadas kecil dan besar jika memang tidak haid, dan menutup seluruh auratnya.

Hendaklah tidak memikirkan hal lain selain Allah SWT, menjaga lidah dan tangannya dari setiap bentuk kemaksiatan, dan menjaga pandangannya dari setiap hal yang diharamkan.

Setelah sampai di dekat Shafa, hendaknya dia membaca ayat, Sesungguhnya Shafa dan Marwah ialah bagian dari syiar (agama) Allah. Barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya untuk mengerjakan sa’i antara keduanya. Barangsiapa mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, Allah Mahamensyukuri dan Mahamengetahui.

Lalu, naik ke atas bukit Shafa, jika memang memungkinkan, untuk melihat Ka’bah dan menghadap kiblat seraya berkata, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu. Allahu Akbar ‘alama hadana walhamdulillahi ‘alama aulana la ilaha illalahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu biyadihil khairu wahuwa ‘ala kulli syai inqadir. La ilaha illallahu wahdahu lasyarika lah, anjaza wa’dahu wanasara ‘abdahu wahazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wala na’ buduilla iyyahu mukhilisina lahuddina walau karihal kafirun.

Kemudian turun dari bukit Shafa menelusuri medan sa’i menuju bukit Marwah. Saat dalam perjalanan menuju Marwah, disunahkan baginya untuk berdoa, berzikir, dan membaca Alquran.

Jika sudah sampai pada dua garis hijau, hendaknya dia membaca, Ya Tuhanku, berikanlah ampunan dan rahmat kepadaku. Engkaulah Dzat yang memuliakan dan yang tidak terbatas ilmunya. Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau Mahaagung dan Mulia.

Tidak disunahkan bagi jamaah haji perempuan untuk berjalan cepat (ramal). Berjalan cepat hanya disunahkan bagi jamaah laki-laki saja.

Ketika dia sudah dekat dengan bukit Marwah, hendaknya dia membaca ayat, Sesungguhnya Shafa dan Marwah ialah bagian dari syiar (agama) Allah. Barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya untuk mengerjakan sai antara keduanya.

Barangsiapa mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, Allah Mahamensyukuri dan Mahamengetahui. Lalu, naik ke atas bukit Marwah, jika memang memungkinkan.

Waktu di Bukit Marwah juga melakukan hal yang sama seperti ketika di bukit Shafa. Setelah selesai, berarti dia telah menyempurnakan satu putaran sa’i. Hal ini kemudian diulanginya lagi sampai tujuh putaran.

Hendaknya dia tidak menghentikan langkahnya di tengah-tengah sa’i kecuali untuk beristirahat sejenak atau untuk menunaikan shalat fardhu. Jika dia tidak mampu berjalan kaki, dia dibolehkan bersai dengan naik kendaraan (ditandu, digendong, dan semisalnya).

Dia juga dibolehkan bersa’i meski dalam sedang haid atau nifas, tapi harus masuk ke medan sa’i dari pintu selain pintu-pintu Masjidil Haram.

Setelah merampungkan seluruh putaran sa’i, hendaknya dia bertakbir, bertahmid, dan berdoa menurut keinginannya sambil menghadap kiblat. Sesudah itu, dia boleh bertahallul dan memotong rambutnya, jika dia berniat umrah atau Haji Tamattu’.

Kemudian, melakukan sa’i lagi setelah mengerjakan Tawaf Ifadhah. Tapi, jika dia berniat Haji Qiran, dia harus tetap menjaga keadaan ihramnya dan tidak boleh bertahallul sampai datang Hari Nahar. Dia juga tidak harus melakukan sa’i lagi setelah Tawaf Ifadhah.

 
Sumber: Buku Induk Haji dan Umrah untuk Wanita oleh Dr Ablah Muhammad Al-Kahlawi