30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Tata Cara Berkunjung ke Masjid Nabawi

Tata Cara Berkunjung ke Masjid Nabawi

Fiqhislam.com - Untuk memperoleh kemuliaan menziarahi Rasulullah SAW dan menziarahi masjidnya, hendaklah mengikuti adab-adab berikut:

1. Disunahkan berniat taqarrub
Disunahkan kepada orang yang ingin ke Madinah dengan niat menziarahi Rasulullah SAW dan berniat ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT dengan bermusafir ke masjid Rasulullah SAW dan mengusahakan dapat shalat di dalamnya.

2. Disunahkan untuk menguatkan azam serta memperbanyak shalawat
Disunahkan untuk menguatkan azam (kemauan) ketika menuju ke Madinah untuk menziarahi Nabi SAW dan menziarahi masjid Rasulullah SAW. Hendaknya pula memperbanyak bershalawat dan taslim atas Rasulullah SAW di sepanjang perjalanan menuju ke sana.

3. Mendahulukan kaki kanan dan membaca doa ketika memasuki masjid
Apabila sampai di pintu masjid hendaklah kita mendahulukan kaki yang kanan pada waktu masuk seraya berdoa;

“Aku berlindung kepada Allah yang Mahabesar dan dengan wajah-Nya yang mulia, dengan kekuasaannya yang qadim dari setan yang dirajam. Dengan nama Allah dan segala pujian bagi Allah. Ya Allah, rahmatilah Nabi Muhammad SAW dan ahli keluarga Muhammad. Ya Allah, ampunilah akan segala dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu rahmat-Mu.”

Imam Nawawi berkata, “Doa dan zikir ini adalah mustahab bagi setiap masjid. Diriwayatkan banyak hadis mengenainya di dalam kitab sahih dan selainnya.

4. Berjalan menuju Raudhah
Setelah melakukan hal-hal di atas, kemudian hendaklah masuk menuju ke Raudhah. Raudhah ini terletak di antara mimbar dan rumah Rasulullah SAW.

5. Mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid
Disarankan mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid di sisi mimbar. Sebab menurut riwayat, Rasulullah SAW berdiri di sisi ini ketika shalat. Sesuai yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari Jabir bin Abdullah RA, “Aku telah kembali dari satu perjalanan lalu aku menemui Rasulullah SAW yang ketika itu berada di halaman masjid.

Rasulullah SAW bersabda, “Adakah kamu telah memasuki masjid dan bershalat di dalamnya?

Jabir menjawab, “Tidak.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Pergilah masuk ke dalam masjid dan shalat di dalamnya dan kemudian datanglah berjumpa denganku dan memberi salam kepadaku.

6. Mendatangi Makam Rasulullah SAW
Apabila selesai mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, maka hendaklah menuju ke Makam Rasulullah SAW. Adab-adabnya adalah membelakangi kiblat dan menghadap ke arah dinding makam, jaraknya dari bagian kepala makam sejauh empat hasta.

Berdirilah dengan melihat ke arah bawah dinding makam. Sebaiknya, di tempat itu, segala pikiran dan nafsu duniawi diletakkan. Sebaliknya, bermunajat dan berusaha taqqarub kepada Allah SWT Kemudian dengan suara yang perlahan hendaklah memberi salam kepada Rasulullah SAW.

Kemudian berpaling ke arah kanan mengarah ke makam Umar bin Khathab RA seraya mengucapkan, “Kesejahteraan atas engkau, ya Umar bin Al-Khathab.

Kemudian kembali ke tempatnya yang semula lalu menghadap ke arah kiblat dan berdoa sebab di lokasi tersebut adalah saat-saat istijabah (penerimaan doa).

7. Tidak boleh tawaf di sekitar makam Rasulullah SAW
Tidak dibolehkan tawaf di makam Rasulullah SAW sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi. Makruh menempelkan badannya ke dinding makam atau mengusap dan menciumnya sebagaimana yang sering dilakukan oleh orang-orang yang jahil.

Bahkan sebaliknya, adab ziarah hendaklah menjauhkan diri dari makam sebagaimana para sahabat menjauhkan diri mereka dari makam Rasulullah SAW ketika berziarah.

8. Shalat di Masjid Nabawi
Tidak dapat tidak tinggal dalam waktu di Madinah Al-Munawwarah, hendaklah ia mengerjakan semua shalat di dalam masjid Rasulullah SAW dan keluar pada setiap hari untuk menziarahi pemakaman Baqi’, pemakaman para syuhada di Uhud.

Begitu juga sebagaimana yang sunah muakkad untuk mendatangi Masjid Quba seperti yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW pada setiap hari Sabtu yang telah tsabit di dalam Kitab Sahih Bukhari dan Muslim, dan selain dari keduanya.

Sumber: Rahasia dan Keutamaan Kota Makkah oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi | republika.co.id