29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

5 Langkah Meraih Umrah Makbul

5 Langkah Meraih Umrah Makbul

Fiqhislam.com - Pada dasarnya meraih haji dan umrah yang mabrur itu sama. Satu kata kuncinya yakni  menjadi tamu yang baik. “Kita hadir di Baitullah itu undangan Allah,  maka berlakulah sebagai  tamu. Allah itu tuan rumah yang baik dan hanya menerima tamu yang baik pula,” kata Ketua Yayasan Dinamika Umat KH Dr Hasan Basri Tanjung MA kepada Republika.co.id.

Menurut Hasan Basri Tanjung, ada lima  langkah menjadi  tamu yàng baik. Pertama, luruskan niat. Menunaikan umrah itu karena dan untuk  apa ? Lisan bisa berkata apa saja yang baik-baik tapi hati tahu tujuan yang sebenarnya. “Tak sedikit orang umrah  hanya untuk  jalan-jalan, shoping atau menaikkan status sosial. Tanya diri dengan jujur lalu luruskan niat karena dan untuk Allah semata,” ujar dosen Universitas Djuanda Bogor itu.

Langkah kedua, kata da’i yang akrab dipanggil Ustadz Tanjung itu, bersihkan harta. Allah itu Mahabaik dan hanya menerima yang baik-baik. “Meski niatnya sudah lurus lillahi ta’ala  (hanya karena Allah), namun biaya dari harta yang haram ( mencuri atau korupsi misalnya), maka tidak diterima,” tegas Ustadz Tanjung.

Selain itu, ia menambahkan, pastikan  biaya yang digunakan juga sudah dikeluarkan zakatnya dan infaknya. “Sehingga,  kenikmatan ibadah di Tanah suci  (ritual) dengan tanpa mengabaikan kewajiban sosial terhadap yatim dhuafa atau kaum kerabat,” tuturnya.

Langkah ketiga, kata Ustadz Tanjung,adalah berbekal ilmu. Setiap ibadah wajib dgn ilmu, yakni manasik haji atau umrah. Paling tidak seorang jamaah harus  tahu syarat, rukun, wajib dan sunnah haji atau umrah. Jangan menyerahkan atau ikut saja kepada pembimbing. “Ibadah umrah itu personal bukan kolektif (kifayah),” ujarnya.

Apalagi jika bisa berbekal ilmu lain seperti sejarah Islam, politik Islam dan lain-lain.  “Akan lebih terasa makna ibadah jika tahu lingkungan sosial budaya dan politik Islam di Tanah Suci,” kata Ustadz Tanjung.

Langkah keempat adalah beradab mulia. Ustadz Tanjung menegaskan, seorang tamu harus tahu diri atau menempakan diri. Itulah adab atau beradab. Semua langkah sebelumnya menjadi  tak berarti jika seorang jamaah tak beradab di hadapan Sang Tuan Rumah.
 
“Janganlah membawa ‘makanan’ dari  rumah untuk dimakan di rumah-Nya, karena tak suka dengan hidangan yang tersedia. Apapun hidangan yang ada meski tak suka, nikmatilah dan jangan mencelanya. Jangan pula berselisih atau bertengkar dengan sesama tamu di Rumah-Nya. Jagalah adab agar tuan rumah senang melihat tamu dan akan melayaninya dengan baik,” papar Ustadz Tanjung.

Langkah kelima adalah suka menolong sesama. “Niat untuk ibadah ke Baitullah bukan berarti menghalangi kita untuk menolong orang lain. Jangan karena ingin shalat berjamaah di Masjidil Haram, kawan serombongan ditinggal atau dibiarkan sakit,” ujar Ustadz Tanjung.

Ia menambahkan, Tuan Rumah senang melihat tamunya saling menolong dan berbagi. Jangan sampai pula menyakiti orang lain hanya karena ingin mencium Hajar Aswad atau untuk dapat tempat  di shaf pertama. Tuan Rumah melihat dengan jelas siapa tamunya yang suka menolong saudaranya hingga kadang ia hanya bisa dapat shaft belakang,” papar Ustadz Tanjung.
 
Insya Allah dengan lima  langkah ini ibadah akan terasa bermakna dan diterima Allah SWT. “Sekembalinya akan bercerita pengalaman yang luar biasa karena bisa mengantarkan orang lain untuk meraih kenikmatan ibadah bersamanya. Bukan cerita personal yang menumbuhkan keangkuhan spritual yang justru merusak ibadahnya,” tutur Hasan Basri Tanjung. [yy/ihram]