27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Pemimpin Masjidil Haram Pra-Islam: Qusay bin Kilab

Pemimpin Masjidil Haram Pra-Islam: Qusay bin Kilab

Fiqhislam.com - Qusay bin kilab adalah kakek Nabi yang tercinta. Ia mempunyai beberapa anak laki-laki; Abdu Manaf, Abdu Ad-Dar, Abdu Al-Uzza dan Abdu Qusay.

Namanya adalah Zaid dan julukannya Abdul Mughiroh atau Mujamma’ (julukan ini diberikan karena tanggung jawabnya mengurusi Ka’bah).

Setelah ayahnya mening­gal dunia, ibunya yang bernama Fatimah dikawini oleh Ra’biah bin Harun Al-Udhri, lalu Qusay dibawa ke kota ayah tirinya. Usaha menjauhkan Zaid dari kampung aslinya inilah sehingga ia disebut Qusay yang berarti ‘di ujung sana’.

Ketika berusia 25 tahun, ia pergi ke Makkah di bulan Haram bersama para jamaah haji Qodhoah untuk melaksanakan haji. Sejak itu, bertambah tinggilah derajat dan kemuliaannya. Dia dikaruniai anak yang banyak.

Pengurusan Ka’bah pada waktu itu berada pada kekuasan Qabilah Khuza’ah setelah terjadi pengusiran orang-orang Jurhum. Dan pelaksanaan ibadah haji pada waktu itu atas izin dari Qabilah Shufah (anak Ghoust bin murib).

Qusay membangkang pada Shufah, yang berujung pada pertikaian yang lama sekali, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Qusay. Ketika Bani Khuza’ah dan Bani Bakr melihat bahwasanya Qusay sangat membahayakan bagi mereka, maka mereka menyingkirkannya.

Setelah terjadi peperangan yang sangat dahsyat, mereka mengusulkan adanya perdamaian (sulh) lalu mereka memilih Ya’mur bin Auf bin Ka’ab sebagai penengah, hanya saja dia berpihak pada Qusay, akhirnya mereka memberi nama Syaddah (berpaling dari tujuan).

Sejak itu Qusay memegang tali kendali Makkah dan urusan Ka’bah. Sementara Khuza’ah tidak lagi mempunyai kekuasaan atas Makkah. Dengan demikian, Qusay telah mengangkat derajat kaumnya dan meningkatkan kehormatannya dan dia juga sebagai pemerintah orang-orang Arab.

Qusay adalah orang pertama kali menjadi hakim (pemimpin) kaumnya dan penanggung jawab rifadah (pemberi makan) dan pemberi minnm jamaah haji.

Suku Quraisy manganggap sirah (perjalanan hidup Qusay) adalah seperti hukum syar’i yang harus diikuti karena dia adalah pertama kali yang mengangkat derajat orang-orang arab dan dia pula yang mengharuskan suku Quraisy untuk menjamu para jamaah haji.

Qusay membagi-bagi tugas kepada anak-anaknya. Abdu Manaf sebagai pemberi minum, Abdu-Dar sebagai penjaga rumah, Abu Uzza sebagai (rifadah) penjamu tamu dengan menyodorkan makanan yang telah disiapkan orang-orang Quraisy setiap tahun.

Abdu Qusay sebagai penjaga dua tepi lembah, Qusay adalah orang yang beragama Islam (hanif) itu terlihat dari syi’ir- syi’irnya yang mengajak menyembah Allah dan melarang menyembah berhala-berhala.

Kemudian di satu pihak, setiap orang dari Bani Sa’ad bin Abdil Uzza, Bani Zuhra bin Kilab, Bani Tamin bin Murroh dan Bani Haris bin Fihr telah mengadakan aliansi (kerjasama) dengan Bani Abdu Manaf, dan mereka mengadakan perjanjian yang diberi nama Perjanjian Al-Muthoyyibin.

Di pihak lain, Bani Mahzum, Bani Sahm, Bani Lamakh, Bani Uday telah mengadakan aliansi dengan Bani Abdu Dar. Mereka ini dinamai Al-Ahlaf dengan demikian tumbuhlah benih-benih permusuhan antara kabilah-kabilah Quraisy.

Akan tetapi setelah terwujudnya perdamaian antara kedua belah pihak, mereka sepakat untuk memberikan tugas siqoyah (memberi minum) dan rifadah (memberi makanan) kepada Abdu Dar.

Lalu Hasyim yang berasal dari Bani Abdu Manaf, memangku jabatan sebagai rifadah dan siqoyah yang bertugas memberi makan jamaah haji yang berada di Makkah, Mina, Arafah, dan Masy’ar, oleh karenanya diberi nama Hasyim (yang berarti memotong-motong roti yang diberi kuah).

Hasyim adalah orang yang pertama kali menetapkan perjalanan musim panas dan dingin bagi orang-orang Quraisy sebagaimana disinyalir dalam Alquran Surah Quraisy, “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu mereka bepergian pada musim dingin dan panas, maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah (Ka’bah) ini.”

Di waktu musim dingin mereka akan pergi ke Yaman dan Habasyah, sementara di musim panas mereka pergi ke Syam (Suriah, Palestina, Lebanon) dan Irak. Hasyim wafat dalam satu perjalanannya ke Syam di Kota Ghazah. Setelah itu, wafatlah kakeknya Abdu Syams dari Bani Umayyah.

Setelah itu, tampuk pemerintahan diberikan kepada Abdul Muthalib yang diberi julukan Abu Harits, sementara nama aslinya adalah Syaibah Al-Hamd dan Amir. Anak-anaknya adalah Abu Thalib, Abdullah, Abbas, Hamzah, Abu Jahal dan Harits.

jurnalhaji.com