14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Kisah Perjalanan Haji Rasulullah Saw

Kisah Perjalanan Haji Rasulullah Saw

 

Fiqhislam.com - "Ikutilah cara ibadah hajiku." Demikian sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umat Islam pada umumnya.

Cara ibadah haji Rasulullah itu sudah barang tentu merupakan tuntunan paling afdal bagi umat Islam dalam melaksanakan ibadah haji. Jabir bin Abdullah dalam riwayatnya, berkata:

"Ketika Rasulullah melakukan haji, para sahabat termasuk kami sendiri ikut berhaji bersama Beliau. Kami bersama Rasul meninggalkan Madinah pergi miqat ke Bier Ali (Zulhulayfah)."

Dengan memakai pakaian ihram, di dalam perjalanan, tepatnya di Zulhulaifah (Bier Ali), Rasulullah dan rombongan bertemu Asma binti Umais yang baru saja melahirkan putrinya. Kemudian Muhammad bin Abubakar menyuruhnya menanyakan kepada Rasulullah apa yang harus dilakukan seseorang yang baru saja melahirkan bayinya. Rasulullah kemudian memerintahkan Asma binti Umais mandi dan memakai kembali ihramnya.

Setelah salat di masjid setempat, Rasulullah menaiki unta kemudian menuju tempat dekat masjid bernama Al-Baida, dan disinilah Rasulullah mulai membaca Talbiyah dengan suara keras dan diikuti yang lainnya.

"Labbaik Allahuma labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni'mata laka wal mulk, Laa syariika laka".

Artinya:
"Aku datang memenuhi panggilan-Mu
Aku datang memenuhi perintah-Mu, ya Allah
Sesungguhnya segala puji dan nikmat itu adalah milikMu.
Tidak ada sekutu bagimu."


Nabi Muhammad SAW hanya berniat untuk haji karena belum mengetahui tentang ibadah umrah, sebagaimana hadisnya:

"Waktu itu kami hanya niat haji, sebab kami belum tahu tentang umrah."

Setelah memenuhi perjalanan jauh Madinah-Mekah, Rasulullah dan rombongan sampai ke Kabah. Pada waktu itu sebelum memulai tawaf, Rasulullah memegang dan mencium Hajar Aswad. Rasulullah berjalan cepat (raml) pada tiga putaran pertama dan setelah itu berjalan biasa (masyi). Sehabis tawaf selanjutnya Beliau pergi ke Maqam Ibrahim, serta membaca surah Al-Baqarah ayat 125 yang artinya:

Dan ingatlah ketika kami jadikan Baitullah itu tempat berhimpun manusia untuk beribadat, dan tempat yang aman. Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Dan kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, 'Hendaklah kalian bersihkan RumahKu ini untuk orang-orang yang tawaf iktikaf, rukuk dan sujud". Dan jadikanlah Maqam Ibrahim ini sebagai tempat sembahyang.

Kemudian Rasulullah melaksanakan salat sunah dua rakaat di antara Maqam Ibrahim dan Kabah, pada rakaat pertama membaca surah Al-Kafirun dan rakaat kedua Al-Ikhlas. Sesudah salam, Rasulullah kembali lagi ke rukun Hajar Aswad dan mengusap serta menciumnya, lalu ke luar menuju Bukit Shafa untuk sa'i. Begitu mendekati Bukit Shafa, Rasulllah membaca surah Al-Baqarah ayat 158:

Bahwasanya Shafa dan Marwah sebagai dari tanda-tanda keagungan agama Allah. Barang siapa yang menemukan ibadah haji dan umrah, tidak ada salahnya kalau ia berlari-lari antara kedua tempat itu. Dan barang siapa yang berbuat kebaikan, maka Allah maha mpembalas budi dan maha mengetahui.

Selanjutnya Rasulullah  memulai sa'i dari Bukit Shafa, yang dari ketinggiannya dapat melihat Kabah dan menghadap kiblat lalu beliau bertakbir 3x dan membaca doa:

"Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalaa, lahulmulku walahul hamdu wahuwa alaa kulii sya in qadiir. Laa ilaaha illalah wahdah anjaza wa'da wanashara 'abdah wa hazamal ahzaaba wadah."

Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa. Tiada sekutu bagi_nya. Milik-Nya-lah kerjaan (kekuasaan) dan segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah, satu-satunya yang Maha Menepati janji-Nya dan menolong para hamba-Nya dan menghancurkan musuh-musuhNya sendirian."

Setelah itu Rasulullah turun dari Bukit Shafa ke Marwah dan setibanya di Bathul Waadi (daerah tersebut sekarang ditandai dengan dua lampu neon hijau). Kemudian Beliau bersa'i dengan jalan cepat sampai ke bagian yang agak naik (disunahkan jalan cepat bagi jemaah pria), selanjutnya berjalan biasa sampai ke Bukit Marwah, dan di atas bukit itu Rasulullah menghadap kiblat dan bertakbir serta membaca doa seperti yang dilakukannya di Bukit Shafa. Demikianlah Rasulullah melakukan sa'i dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah bolak balik sebanyak tujuh kali. Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabat yang ikut sa'i:

"Kalau seandainya Kuhadapi persoalan (ini) seperti yang pernah Kuhadapi dahulu, niscaya Aku tidak membawa binatang qurban, dan akan Kujadikan ibadah-Ku ini sebagai umrah. Oleh karena itu, barang siapa di antara kamu yang tidak membawa qurban, hendaklah tahallul, dan jadikanlah ibadahmu itu sebagai umrah."

Sahabat Suraqah bin Malik bertanya:
"Wahai Rasul, apakah hal seperti itu (perbuatan umrah di bulan haji) khusus untuk tahun sekarang ini saja atau untuk selamanya."

Nabi menjawab:
"Umrah telah masuk dalam haji dua kali, tidak! Bahkan untuk seterusnya."

Selama empat hari Rasulullah berada di Mekah untuk menyelesaikan tawaf dan sa'i bersama isteri dan para sahabat, berarti Rasulullah telah melakukan sebagian Haji Ifrad bersama-sama seratus lebih para sahabat, sedang yang lainnya atas petunjuk Rasulullah melakukan haji Tamattu.

Pada hari Tarwiyah, tanggal 8 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah dengan berihram untuk haji, Rasulullah ikut para sahabat meninggalkan Mekah menuju Mina dengan mengendarai unta yang bernama Al-Qashwa yaitu selama satu hari satu malam. Setiba di Mina, Rasulullah mengerjakan salat dzuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh, kemudian istirahat sambil menunggu matahari terbit.

Setelah salat subuh Rasulullah menunggu sebentar hingga matahari terbit, lalu Beliau memerintahkan para sahabat membentangkan kemah di Namirah dekat Arafah, kemudian pagi itu berdekatan dengan Hari Arafah (9 Dzulhijjah Tahun 10 Hijriyah) Rasulullah meninggalkan Mina menuju Arafah. Dalam perjalanan Rasulullah berhenti di Muzdalifah seperti yang dikerjakan orang-orang Quraisy di zaman jahiliyah.

Rasulullah tidak langsung masuk Arafah, akan tetapi tinggal beberapa saat di Namirah yaitu di sebuah kemah hingga waktu wukuf (matahari tergelincir), lalu Rasulullah berangkat dengan mengendarai  Al Qashwa ke lembah Wadi Aranah (Bathnul Wadi) di dekat Arafah. Di tempat ini Rasulullah menyampaikan khutbah wada:

"Sesungguhnya darahmu dan harta bendamu adalah terpelihara atau haram atas kamu, sebagai haramnya hari ini di bulan ini dan tempat ini, ketahuilah! Semua persoalan yang terjadi di zaman Jahiliyah yang selama itu masih di bawah telapak kaki-Ku, mulai hari ini dihapuskan, dan darah-darah Jahiliyah pun hari ini dihapuskan, dan pertama darah yang Kuhapus ialah darah Ibnu Rabi'ah bin Al Harist, dia adalah anak cucu Bani Sa'ad bin Abdul Muthalib, semua itu telah dihapus. Kemudian berhati-hatilah terhadap perempuan, karena mereka itu telah kamu ambil dengan amanat Allah, farjinya menjadi halal untukmu dengan kalimah Allah, karena itu tidak akan mempunyai hak atas mereka, yaitu: hendaklah mereka itu tidak akan mempersilakan seorang pun yang kamu benci untuk menginjak tempat tidurmu. Kalau mereka sampai berbuat demikian, maka pukullah dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Tetapi mereka pun mempunyai hak atas kamu, yaitu kamu berkewajiban untuk memberi makan dan pakaian kepada mereka dengan baik. Sungguh aku telah tinggalkan di tengah-tengah kamu sesuatu  yang kamu tidak akan sesat sesudahnya, jika kamu berpegang teguh pada dia, yaitu Kitabullah."

Selesai khutbah, Rasulullah kemudian bertanya:
Apakah kaliam mempunyai pertanyaan tentang sesuai dari Ku, sekarang apa yang hendak kalian katakan? Katakanlah?

Mereka menjawab:
Kami menyaksikan Engkau telah menyampaikan menunaikan dan menasihati kami.

Maka berkatalah Rasulullah sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah langit menunjuk ke hadapan orang banyak:
Allahumma syhad 3x
Ya Allah, saksikanlah ini


Setelah itu Rasulullah menyuruh Bilal azan karena waktu salat Dzuhur tiba. Pada saat inilah Rasulullah melaksanakan salat Jamak Taqdim, yaitu salat Ashar dibawa ke Dzuhur dengan dua iqamat. Rasulullah tidak salah apapun antar dua salat tersebut. Seusai salat, Rasulullah menaiki unta Al Qashwa menuju tempat wukuf di tengah-tengah Arafah di kaki Jabal Rahmah. Di sinilah Rasulullah wukuf sambil menghadap kiblat, berdoa dan berzikir yang terus dilakukan hingga matahari terbenam.

Sehabis wukuf, Rasulullah meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Saat itu Rasulullah menarik tali kendali unta Al Qashwa, lalu mengangkat tangan kanan untuk memberikan isyarat berangkat, sambil bersabda:

Assakinah, assakinah
Hai manusia, tenanglah, tenanglah.


Rasulullah berkata demikian karena melihat para sahabat berebut agar lebih cepat meninggalkan Arafah menuju Mina. Setibanya di Muzdalifah sebuah lembah sepanjang 4 km yang terletak antara lembah Muhassir sebelah barat dan Al-Ma'zamin sebelah timur, Rasulullah melakukan salat jamak tak'khir maghrib dan isya dengan satu azan, dua iqamat dan tidak salat sunah apapun di antara keduanya.

Selesai menjalankan salat jamak, Rasulullah bermalam sampai terbit fajar untuk mempersiapkan tenaga menjelang pelaksanaan lempar jumrah di Mina. Seusai salat subuh, dengan mengendarai Al Qashwa, Rasulullah menuju Mina. Di tengah perjalanan, persisnya di suatu tempat yang disebut Al-Masy'aril Haram (sebuah bukit yang terletak di perbatasan  Muzdalifah) Rasulullah berhenti dan menghadap kiblat lalu berdoa dan bertakbir:

"Allahu Akbar, Laa illa ha illalah, wahdahuu laa syarikalah"

Sebelum matahari terbit pada hari yang sama, Rasulullah tiba dan berhenti di Muhassir, Mina. Tempat ini lebih dekat dari lokasi lempar jumrah. Jumrah Aqabah yang dalam hadis disebut 'Jumrah Indas-Syajarah'. Karena dulu di sana ada pohon, sehingga disebut 'jumrah dekat pohon', dan disinilah dahulu pasukan gajah Raja Abrahah terkapar karena serangan burung Ababil.

Rasulullah melempar jumrah Aqabah tujuh kali dengan diselingi takbir Allahu Akbar, yang dilakukan dari arah Bathnul Wadi Mina. (Catatan: lokasi jumrah Aqabah tidak berada di lembah Muhassir, tidak termasuk daerah Mina, sehingga tidak sah untuk bermalam).

Selesai melontar jumrah Aqabah, Rasulullah pergi ke tempat pemotongan qurban yang letaknya tidak jauh dari jumrah tersebut. Rasulullah mengorbankan 100 ekor, 63 ekor di antaranya disembelih sendiri oleh Beliau, sedang 37 ekor sisanya diserahkan ke Ali bin Abu Thalib. Rasulullah lalu menyuruh para sahabat mengambil sepotong daging dna setiap qurban unta yang dibawa Ali dari Yaman.

Selesai melaksanakan pemotongan qurban, Rasulullah kemudian mengendarai untanya dan meninggalkan Mina menuju Masjidil Haram, Mekah, untuk melaksanakan tawaf Ifadah yang juga disebut tawaf rukun karena merupakan bagian dari Rukun Haji yang tidak boleh ditinggalkan.

Rasulullah melaksanakan salat dzuhur di Masjidil Haram kemudian mendatangi dan dijamu minum oleh Bani Abdul Muthalib yang mengurus air zamzam. [yy/viva]

Disadur dari Buku Pintar Haji dan Umrah (hal 33-38), HM Iwan Gayo

 

Tags: haji wada | haji | umrah