Hakim: Aset Sitaan dari Abu Tours Dikembalikan ke JamaahFiqhislam.com - PT Amanah Bersama Umat (Abu Tours) dijatuhi pidana denda Rp 1 miliar terkait tindak pidana pencucian uang. Hakim secara tegas menyebut seluruh barang bukti yang disita dikembalikan ke jemaah melalui kurator.

"Barang bukti Hamzah Mamba, berupa rekening dan barang sitaan, berdasarkan ketetapan ketua PN Makassar, dikembalikan ke jemaah melalui kurator," kata hakim ketua Denny Lumban Tobing di PN Makassar, Jalan Kartini, Makassar, Sulsel, Rabu (27/11/2019).

Tidak hanya aset milik Hamzah Mamba, aset milik Cheruddin, Nursyariah Mansur, juga diminta untuk dikembalikan kepada jemaah.



"Barang bukti Chaeruddin 1 sampai 176, dikembalikan ke yang berhak melalui kurator," kata dia.

Denny juga sempat menyinggung adanya aset berupa tabungan yang tersimpan di dalam bank. Aset ini, menurut dia, juga dikembalikan ke jemaah.

"Barang inventaris Abu Tours dikembalikan yang berhak melalui kurator," ujarnya.

Seperti diketahui, keseluruhan aset Abu Tours, termasuk Hamzah Mamba, masih berada di tangan kejaksaan. Kejaksaan Tinggi Sulsel sempat menyebut nilai aset yang disita berjumlah Rp 250 M. [yy/news.detik]


Lika-liku Pengembalian Aset Jamaah First Travel


Fiqhislam.com - Putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi putusan aset PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel disita negara memenggal asa ribuan korban yang terus berharap uangnya untuk beribadah ke Tanah Suci kembali.

Putusan kasasi Mahkamah Agung yang memerintahkan aset First Travel disita untuk negara tercantum dalam putusan nomor 3096 K/Pid.Sus/2018. Salah seorang korban First Travel, Asro Kamal Rokan, menolak hasil lelang harta kekayaan pemilik travel itu diserahkan ke negara.

Asro dan keluarganya yang berjumlah 14 orang merugi sekitar Rp 160 juta. Ia merasa putusan itu sangat menyakitkan.

Ia mempertanyakan mengapa korban yang dirugikan, tetapi negara yang merampas aset First Travel. Kajari Depok Yudi Triadi setelah putusan Mahkamah Agung, menyatakan sudah memperjuangkan hak korban First Travel dengan banding pada 15 Agustus 2018, tetapi putusan Pengadilan Tinggi Bandung menguatkan putusan hakim tingkat pertama.

Upaya selanjutnya berupa kasasi ke Mahkamah Agung pun tetap menguatkan putusan pengadilan negeri yang menyatakan barang bukti Nomor 1-529 tetap dirampas untuk negara. Dalam tuntutan, jaksa meminta barang bukti dikembalikan ke korban melalui Paguyuban Pengurus Pengelola Aset Korban First Travel, tetapi putusan pengadilan berkata lain.

Dengan adanya perbedaan itu, Kejagung selanjutnya memerintahkan Kejaksaan Negeri Depok menunda eksekusi aset pada kasus First Travel hingga selesai dilakukan kajian tindak lanjut kasus itu. Batas waktu penundaan eksekusi itu tidak ditentukan sembari kejaksaan mencari solusi mengembalikan aset nasabah yang mengalami kerugian.

Dari sisi putusan, Komisi Yudisial menilai majelis hakim yang diketuai Andi Samsan Nganro dengan anggota Eddy Army dan Margono tidak menyalahi aturan dan etik. Sebabnya, dalam undang-undang yang mengatur tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU), saat kasus terbukti, aset yang menjadi barang bukti harus dikembalikan atau disita negara.

Oleh karena itu, keputusan yang diambil oleh hakim secara hukum tidak dapat disalahkan. Walaupun hakim diharapkan melakukan terobosan dengan pertimbangan aset yang disita merupakan uang rakyat.

Sebelum kasus itu kembali mengemuka karena putusan Mahkamah Agung, penipuan pemilik First Travel Andika Surachman beserta istrinya Anniesa Desvitasari Hasibuan terhadap puluhan ribu calon jamaah umrah mendapat sorotan secara nasional.

Pada Juli 2017, Satgas Waspada Investasi memintan kegiatan First Travel dihentikan karena tidak memiliki izin usaha dalam menawarkan produk entitas serta berpotensi merugikan masyarakat. Saat itu, First Travel diminta menghentikan penawaran perjalanan umrah dengan tawaran promo yang dipatok dengan harga Rp 14,3 juta, harga yang cukup miring dibandingkan dengan harga umrah pada umumnya di atas Rp 20 juta.

Modus penipuan First Travel dengan merekrut agen melalui sejumlah biaya tertentu, kemudian agen diminta mencari calon jamaah umrah. Namun, setelah para calon jamaah menyetorkan bayaran, mereka tidak kunjung diberangkatkan.

Penipuan terbongkar setelah calon jamaah terus mendesak untuk diberangkatkan oleh agen, kemudian agen melaporkan PT First Anugerah Karya Wisata ke polisi. Polisi kemudian menangkap Andika dan Anniesa di Kompleks Kementerian Agama pada 9 Agustus 2017. Korban penipuan First Travel kurang lebih 63 ribu orang dengan total kerugian mencapai Rp 905,33 miliar.

Pengguna layanan paket promo umrah yang ditawarkan sejak Desember 2016 hingga Mei 2017 tercatat 72.682 orang. Dalam kurun tersebut sekitar 10 ribu orang diberangkatkan.

Perkara First Travel selanjutnya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Depok pada 9 Februari 2018, kemudian dilakukan penuntutan pada 7 Mei 2018. Jaksa menyiapkan 96 saksi dalam persidangan tersebut. Di antara para saksi itu, artis nasional Syahrini dan Vicky Veranita Yudhasoka alias Vicky Shu yang telah memberikan kesaksiannya di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat.

Dalam kesaksiannya, Syahrini mengatakan tidak menerima dana dari First Travel. Ia membayar Rp 167 juta untuk memberangkatkan 12 anggota keluarganya umrah selama sembilan hari pada Maret 2017.

Sebagai Duta Merek First Travel, Syahrini mengaku tidak menerima bayaran. Sebagai gantinya, penyanyi itu mendapat fasilitas paket umrah VVIP sembilan hari yang mencakup kunjungan ke Makkah dan Madinah di Arab Saudi serta Istanbul di Turki.

Vicky Shu dalam kesaksiannya mengatakan pertama kali bertemu dengan Anniesa Hasibuan pada acara peragaan busana di New York, Amerika Serikat. Dari perkenalan tersebut, Vicky Shu menjadi jamaah umrah First Travel untuk pertama kali pada Maret 2015 dengan membayar Rp 34 juta.

Saat keberangkatan umrah yang kedua pada Maret 2017, Vicky Shu mengaku tidak membayar, tetapi mempunyai kewajiban melakukan aktivitas foto-foto dan video sarana-sarana yang dipakai First Travel.

First Travel menggunakan tiga artis untuk menarik konsumen berangkat umrah, yakni Syahrini, Vicky Shu, dan Julia Perez (almarhumah). Setelah serangkaian sidang, Direktur Utama First Travel Andika Surachman terbukti melakukan penipuan perjalanan umrah dan tindak pidana pencucian uang dari uang setoran calon jamaah tersebut sehingga divonis hukuman 20 tahun penjara.

Istri Andika, Anniesa, dijatuhi hukuman selama 18 tahun penjara. Keduanya diharuskan membayar denda, masing-masing Rp 10 miliar.

Direktur Keuangan sekaligus Komisaris First Travel Siti Nuraida Hasibuan yang merupakan adik Anniesa, dijatuhi hukuman penjara 15 tahun dan denda Rp 5 miliar. Majelis hakim tersebut juga memvonis aset First Travel dikuasai negara sehingga menimbulkan polemik serta keberatan dari para korban. [yy/ihram]