14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

2 Wanita Jabat Posisi Teratas Kepresidenan Dua Masjid Suci

2 Wanita Jabat Posisi Teratas Kepresidenan Dua Masjid Suci

Fiqhislam.com - Dua wanita Saudi telah ditunjuk untuk menduduki posisi teratas di Kepresidenan Umum Urusan Dua Masjid Suci. Penunjukan ini merupakan sebuah langkah ambisius untuk memberdayakan wanita yang berkualitas.

Presiden lembaga negara tersebut, Sheikh Abdulrahman Al-Sudais, menunjuk Dr. Al-Anoud Al-Aboud dan Dr. Fatima Al-Rashoud sebagai asisten kantornya, Ahad (8/8). Mereka menjadi bagian dari serangkaian perubahan administratif.

Dilansir di Arab News, Senin (9/8), jabatan senior lainnya diberikan kepada Dr. Kamelia Al-Daadi, yang ditunjuk sebagai asisten sekretaris untuk urusan administrasi dan pelayanan wanita. Selanjutnya, Dr. Ibtehab Al-Jeaid ditunjuk sebagai wakil presiden untuk perpustakaan dan penelitian ilmiah.

Tak hanya itu, ia Sheikh Al-Sudais juga menunjuk Dr. Norah Al-Thuwaibi dan diangkat sebagai wakil presiden untuk urusan ilmiah, intelektual dan bimbingan perempuan.

Jabatan baru tersebut datang bersamaan dengan keputusan baru-baru ini, yaitu menunjuk asisten wakil sekretaris untuk pemberdayaan perempuan, serta bersamaan dengan perayaan penghargaan 20 perempuan dengan gelar master dan doktor baru-baru ini.

Dr. Kamelia Al-Daadi mengatakan perubahan struktural baru ini akan mendukung keberhasilan dan perkembangan pemerintahan. Ia menyebut hal ini merupakan cerminan sejati dari lingkungan kerja yang penuh kemajuan, serta kelanjutan dukungan kepemimpinan Saudi untuk Kepresidenan Umum.

"Tanggung jawab menjadi berlipat ganda ketika datang ke Dua Masjid Suci, karena mereka adalah tujuan jutaan Muslim. Melayani mereka adalah masalah kehormatan besar yang dicari semua orang," kata dia.

Dia menambahkan, strategi ambisius yang sedang dikerjakan Kepresidenan Umum mencerminkan tujuan meningkatkan kapasitas jemaah dalam waktu dekat. Saudi berupaya menampung 60.000 jamaah sehari sambil menerapkan standar kesehatan dan keselamatan tertinggi.

Setiap pihak di Kepresidenan Umum disebut sedang mempersiapkan metodologi kerja yang terintegrasi. Semua upaya dikerahkan, yang memungkin menjadi model kerja institusional, tata kelola, kualitas, mendukung perempuan dan membangun lingkungan kerja yang kreatif, yang akan berkontribusi pada pengembangan dan efisiensi dalam waktu singkat.

Wakil presiden untuk urusan perencanaan dan pembangunan, sekaligus asisten sekretaris untuk urusan Masjidil Haram, Abdul Hamid Al-Maliki, mengatakan struktur organisasi baru memiliki empat pilar utama.

“Pilar-pilar ini didasarkan pada beberapa tolok ukur, yang dengannya struktur organisasi baru Presidensi Umum dibentuk,” katanya.

Sheikh Abdulrahman Al-Sudais juga disebut telah bekerja untuk mempromosikan dan mengkonsolidasikan tolak ukur ini, selama masa jabatannya selama lebih dari 10 tahun.

Menurut Al-Maliki, tolok ukur pertama berfokus pada pemberdayaan pemuda. Pemimpin muda dalam struktur organisasi baru mewakili 90 persen gelar master dan doktor.

Tolok ukur kedua berfokus pada pemberdayaan perempuan, selanjutnya tentang pengembangan, teknologi, kecerdasan buatan, transformasi digital, serta penerjemahan.

“Hal ini akan berdampak pada cara penyampaian pesan Dua Masjid Suci, sistem operasional pelayanan yang diberikan di Dua Masjidil Haram, tata kelola, serta pengukuran kinerja,” kata dia.

Tolak ukur terakhir adalah investasi, keberlanjutan keuangan, privatisasi dan dana abadi. Setiap poin ini akan mendukung berbagai program dan proyek yang termasuk dalam rencana strategis dan eksekutif Presidensi Umum, menuju tujuan Visi Kerajaan 2030. [yy/ihram]