19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

4 Permasalahan Sosial terkait Daging Kurban

4 Permasalahan Sosial terkait Daging Kurban

Fiqhislam.com - Peneliti lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Ahsin Aligori, menyampaikan empat permasalahan sosial seputar daging hewan kurban pada momentum Idul Adha.

Pertama, dia menjelaskan, yaitu belum ada pemerataan kurban antarwilayah. Ahsin memproyeksikan ada 3 juta hewan kurban pada Idul Adha tahun ini dan 30 persennya atau 1 juta hewan kurban berada di wilayah Jabodetabek.

"Wilayah Jabodetabek menjadi pusat hewan kurban," paparnya dalam agenda daring bertajuk 'Tebar Hewan Kurban' yang digelar Dompet Dhuafa, Rabu (23/6).

Kedua, adalah ketidakmerataan pembagian hewan kurban. Dia menyampaikan, setiap daerah memiliki karakter masing-masing. Jumlah kelompok yang kaya di satu daerah juga berbeda dengan daerah lain. Kondisi ini berdampak pada pendistribusian sehingga ada daerah yang surplus dan defisit daging kurban.

"Misalnya, karena Jabodetabek adalah sentra pekurban, otomatis daging kurban itu menumpuk di sana. Sedangkan wilayah selatan Pulau Jawa khususnya itu sangat minus. Maka ini PR kita bersama bagaimana melakukan rekayasa sosial untuk melakukan pemerataan," ujarnya.

Ketiga, Ahsin mengungkapkan, yakni ketersediaan hewan ternak antarwilayah. Semua ternak diproduksi di pedesaan, sedangkan pasarnya ada di perkotaan khususnya di ibu kota provinsi. Hal inilah yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama terkait ketersebaran pasar daging hewan.

Keempat, lanjut Ahsin, soal tingkat konsumsi. Dia menjelaskan, tingkat konsumsi protein hewani di tengah masyarakat itu masih rendah. Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap protein hewani hanya 0,6 kilogram per tahun. Padahal standar asupan protein hewani yakni sekitar 6 kilogram per tahun yang harus dipenuhi.

"Ini jomplang banget apalagi ketika kita melihat data konsumsi antara kota dengan desa. Maka diharapkan dengan adanya Idul Adha, minimal masyarakat desa itu bisa mengonsumsi protein selama 1 bulan atau satu pekan dengan pendistribusian secara merata berkecukupan setiap keluarga," ungkapnya.

Dengan meratanya pembagian daging kurban, Ahsin menambahkan kelompok kurang mampu bisa memperoleh asupan protein hewani dengan cukup. Apalagi, jika dikaitkan dengan fakta di lapangan, pembagian daging kurban di pedesaan itu hanya setengah kilogram.

"Berbeda dengan daerah perkotaan yang bisa mencapai 6 kilogram per keluarga. Ini menjadi tantangan kita, bagaimana merekayasa sosial sehingga empat masalah ini bisa terselesaikan," ujarnya. [yy/ihram]