14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Fraud

FraudFiqhislam.com - Potensi terjadinya "kenakalan" di pasar modal selalu saja ada. "Kenakalan" itu bisa dilakukan oleh siapa saja, baik pelaku pasar ataupun emiten. Salah satu bentuknya yang kerap dilakukan oleh emiten adalah fraud.

Biasanya fraud ditemukan atau terdeteksi melalui penyajian laporan keuangan emiten. Untuk mendeteksinya pun tidak gampang, dibutuhkan keterampilan khusus dan kejelian. Istilah fraud lebih dekat dengan masalah akuntansi. Fraud sendiri berarti tindakan curang atau penipuan.

Dalam kaitannya dengan akuntansi, maka jelas kecurangan atau penipuan itu berkaitan dengan masalah keuangan perusahaan, apakah itu terkait dengan prosedur pencatatan dan atau metode pencatatan. Yang jelas fraud berkonotasi negatif dan cenderung melanggar norma yang berlaku umum.

Ia biasanya dilakukan dengan tujuan agar performance perusahaan kelihatan kinclong, bersinar kemilau. Tapi ada kalanya, fraud dilakukan untuk menghindari pajak. Perusahaan yang semestinya mencetak profit tinggi dibuat sedemikian rupa sehingga profit-nya jauh berkurang atau bahkan rugi.

Fraud harus dibedakan dengan istilah financial engineering yang juga bertujuan agar laporan keuangan perusahaan bisa tampil lebih cantik dan aduhai. Financial engineering dilakukan dengan tetap berada di jalur normatif, sesuai dengan kaidah standar akuntansi (PSAK) yang berlaku.

Pertanyaannya, apakah fraud merugikan investor, terutama minoritas? Jawabnya pasti. Dalam banyak kasus, bentuk-bentuk fraud berupa upaya untuk menaikkan pendapatan (revenue) yang pada gilirannya akan mendongkrak laba bersih perseroan.

Nah, jika laba bersih perusahaan kelihatan tinggi atau bagus maka hal ini mampu menggiring persepsi investor publik untuk membeli sahamnya di bursa. Jika minat beli naik maka harga saham juga akan naik. Padahal faktor yang menjadi dasar kenaikan itu tidak benar.

Contoh sederhananya begini. Ada pendapatan perusahaan yang semestinya tidak boleh dibukukan pada 2012. Berdasarkan kontrak, pendapatan ini baru akan diterima pada tahun buku 2013 sehingga ia harus dibukukan pada 2013. Tapi demi memoles agar laporan keuangan 2012 kinclong, maka pendapatan yang mestinya dibukukan pada 2013 dimasukkan dalam pendapatan 2012. Akibatnya terjadi kenaikan pendapatan yang mencolok dari 2011 ke 2012.

Perbandingan kinerja antara 2012 dengan 2011 tidak didasarkan oleh fakta yang sebenarnya. Andai saja model pencatatan begini dibolehkan oleh PSAK maka hal itu tidak problem. Tapi jika metode pencatatan itu tidak sesuai PSAK maka itu termasuk bentuk fraud yang diharamkan.

Kecurangan yang disengaja seperti ini jelas merugikan investor publik. Analisa fundamental yang dilakukan investor didasari oleh data yang keliru. Praktis, pengambilan keputusan investasi, beli atau jual, juga didasarkan oleh informasi yang salah. Akibatnya harga saham yang sudah naik, sewaktu-waktu, jika tindakan curang ini terbongkar, akan turun drastis. Disinilah investor akan menderita rugi yang sebenarnya.

Sayangnya untuk mendeteksi terjadinya fraud, bukanlah hal yang gampang. Jarang sekali pelaku fraud ini tertangkap basah, apalagi digiring ke pengadilan. Pelaku pasar hanya bisa waspada dan selalu berhati-hati dalam membaca laporan keuangan emiten.

Investor perlu menyikapi secara hati-hati jika ada lonjakan atau penurunan yang material pada pendapatan emiten. Investor harus tahu dan yakin betul, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya lonjakan atau penurunan pendapatan yang signifikan tersebut?

Apakah kenaikan itu riil ataukah ada unsur fraud di balik lompatan pendapatan tersebut. Untuk itulah investor memang perlu menguasai teknik membaca dan menganalisa laporan keuangan emiten. (Tim BEI/yy/okezone)