fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

January Effect, 'Tamu' Pasar Modal Tiap Awal Tahun

January Effect, 'Tamu' Pasar Modal Tiap Awal TahunFiqhislam.com - Seolah tidak mau kalah dengan alam yang memiliki pegantian siklus dan musim, dunia bisnis khususnya saham juga memiliki siklus dan musim tersendiri. Dalam satu tahun masa perdagangan (12 bulan), terdapat beberapa siklus yang biasanya terjadi di mana tidak selamanya harga-harga saham akan secara terus menerus naik (uptrend/bullish) atau secara terus menerus turun (downtrend/bearish).

Ada siklus bulanan di mana biasanya di bulan-bulan tersebut harga-harga saham naik dan ada bulan-bulan dimana di bulan tersebut biasanya harga-harga saham turun. Siklus ini terus berulang selama bertahun-tahun walaupun tidak selalu pasti terjadi.

Menjelang pergantian tahun menyambut tahun baru 2013, para investor dan para pelaku pasar modal kerap ramai membicarakan apa yang disebut dengan January effect. Seiring dengan semakin ramainya pembicaraan menganai fenomena January effect ini, banyak rekan-rekan yang bertanya kepada saya baik melalui akun twitter saya @pakarsaham maupun melalui media lainnya,

“Apakah January effect itu? Lalu, “Apakah January effect ini akan terjadi di tahun 2013?”

January effect adalah fenomena anomali pasar modal di mana harga-harga saham cenderung mengalami kenaikan pada dua pekan pertama di bulan Januari. Fenomena melonjaknya harga-harga saham ini disebabkan pada akhir tahun para investor maupun para fund manajer cenderung menjual saham-sahamnya untuk mengamankan dana atau merealisasikan capital gain serta untuk mengurangi beban pajak mereka.

Memasuki awal tahun, para investor, maupun para fund manager akan kembali lagi ke market dengan dana, optimisme, serta analisis outlook terbaru mereka. Analisis tersebut tentunya sudah memproyeksikan harga saham yang sudah tidak lagi memakai data tahun lalu dan biasanya proyeksi harga saham cenderung akan lebih tinggi lagi.

Pada mommen ini biasanya para investor mulai kembali melakukan aksi pembelian. Pada pekan pertama hingga ketiga bulan Januari, biasanya rally cukup tinggi. Namun pada pekan keempat Januari, para investor mulai melakukan profit taking sehingga biasanya indeks mengalami koreksi hingga pertengahan Februari.

Fenomena January effect ini memang terbukti terjadi sejak puluhan tahun yang lalu di dunia termasuk di Indonesia. Namun apabila kita me-review beberapa tahun ke belakang, fenomena Januari effect ini kadang terjadi kadang juga tidak.

Pada tahun 2008 yang lalu krisis Subprime Mortgage di AS berimbas pada tiadanya January effect tahun 2009, kemudian pada tahun 2010 lalu January effect tidak terjadi akibat dari masalah penyelesaian krisis di AS.

Pada tahun 2011 January effect juga terganggu oleh adanya masalah krisis Uni Eropa. Pada tahun 2012 January Effect cukup nampak pada 3 minggu pertama bulan Januari. Demikian pula tahun 2013 ini, January Effect nampak dengan adanya rally saham-saham di sektor konstruksi dan property.

Sejatinya dalam market share yang sangat dinamis segala kemungkinan bisa saja terjadi. Alangkah baiknya jika fenomena-fenomena seperti January effect ini tidak dijadikan sebagai pedoman utama atas keputusan investasi Anda.

Tetaplah waspada dan selalu berhati-hati terhadap segala kemungkinan, apapun yang terjadi slalu konfirmasikan dengan grafik dan analisis teknikal. Sebagai bahan pertimbangan, saya melihat saham-saham sektor konstruksi, property, dan saham-saham consumer yang berbasis dalam negeri masih berada dalam trend naiknya, hal ini bisa menjadi pilihan bagi investasi anda. [yy/detikFinance]

Ellen May
Penulis buku Best Selling Smart Traders Not Gamblers, praktisi pasar modal, @pakarsaham