21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Obligasi & Ancaman Inflasi

Obligasi & Ancaman InflasiFiqhislam.com - Tak cuma pasar saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI), pasar obligasi menjadi salah satu indikator perdagangan yang perlu dicermati. Atau menjadi pilihan investasi para investor.  Bagaimana perkiraan pasar obligasi di BEI tahun ini? Apa saja faktor yang mempengaruhi pasar obligasi atau pasar surat utang?

Kondisi pasar surat utang di dalam negeri sangat erat kaitannya dengan kondisi makroekonomi Indonesia. Konsumsi domestik masyarakat masih menjadi kekuatan terbesar PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Indonesia. Ditunjang  pertumbuhan kelas menengah Indonesia dan demografi Indonesia yang didominasi usia produktif, menjadikan ekonomi domestik makin kuat. Faktor tersebut menjadi kekuatan perekonomian Indonesia.

Persoalannya, meski perekonomian di dalam negeri terbilang lebih stabil, ada pengaruh dari perekomian global  yang belum sembuh dari krisis. Kondisi perekonomian Italia, Spanyol, dan Prancis masih menyimpan bom waktu. Ditambah lagi, China mengerem pertumbuhan ekonominya.

Perlambatan ekonomi China, ikut menyebabkan perlambatan ekonomi Indonesia juga. Karena sampai saat ini, China merupakan konsumen terbesar komoditas dunia. Jika ekonomi China belum tumbuh sampai sembilan persen di 2013, maka ekonomi dunia belum ada perbaikan. Karena China adalah konsumen komoditas terbesar dunia.

Di dalam negeri, tantangan terbesar di 2013 muncul dari perkiraan lonjakan inflasi. Lantaran rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan juga kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Ekonomi domestik dihadapkan pada kondisi kenaikan BBM, sehingga subsidi turun. Akibatnya, kenaikan inflasi bisa terjadi. Indonesia juga dihadapkan pada periode mendekati Pemilu 2014, sehingga tekanan meningkat, demo ada dimana-mana. Ini bisa mempengaruhi uncertainty atau ketidakpastian.

Faktor BBM dan TDL ini, menurut beberapa kajian menyumbang peningkatan angka inflasi di atas dua persen. Bagi pasar obligasi, naiknya inflasi berpotensi meningkatkan Yield to Maturity. Yield to Maturity Surat Utang Negara atau SUN saat ini sudah sangat rendah, sehingga ke depan Yield to Maturity berpotensi akan meningkat seiring dengan kenaikan BBM.

Kepemilikan investor asing di surat utang negara (SUN), saat ini merupakan salah satu indikator baik. Tren peningkatan kepemilikan asing menunjukkan peningkatan kepercayaan pasar terhadap surat berharga negara. Mayoritas investor asing merupakan long term investor. Terlihat dari kepemilikan asing atas surat berharga negara di tenor panjang.

Meskipun menunjukan kepercayaan asing, besarnya porsi asing ini bisa pula membawa ancaman. Besarnya minat asing di SUN berpotensi menyebabkan bubble atau gelembung semu. Yield to maturity SUN sudah sangat rendah saat ini. Di SUN ada potensi bubble karena porsi asing besar. Suatu saat, pasti ada siklus asing keluar. Itu akan membuat yield to maturity naik. Apalagi bila inflasi juga naik.

Sedangkan untuk obligasi korporasi diperkirakan pada 2013 akan semakin bertumbuh. Baik di pasar perdana, dengan penambahan emisi obligasi baru, maupun transaksi di pasar sekunder. Di 2013 diperkirakan penerbitan obligasi korporasi akan lebih tinggi dibandingkan dengan 2012. Apalagi peringkat utang Indonesia semakin baik.

Pada 2013, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan emisi obligasi korporasi mencapai 50 dan obligasi negara mencapai 60 seri. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target 2012 yang hanya 42 obligasi korporasi dan 46 obligasi negara. (TIM BEI/yy/okezone)