fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Memahami Rating Obligasi

Memahami Rating ObligasiFiqhislam.com - Rating merupakan indikator penting dalam membeli obligasi, terutama obligasi korporasi, atau obligasi yang diterbitkan perusahaan. Mengapa penting? Karena rating merupakan penilaian atas  kemampuan suatu perusahaan dalam membayar utang-utangnya.

Obligasi adalah surat utang, atau bukti utang dari perusahaan yang dipegang oleh investor. Artinya, kualitas obligasi sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan penerbit obligasi dalam membayar obligasinya pada saat jatuh tempo, dan kemampuannya membayar bunga atau kupon selama jangka waktu penerbitan obligasi tersebut.

Rating obligasi diberikan oleh perusahaan pemeringkat. Perusahaan pemeringkat ini harus mendapat izin resmi dari regulator di industri keuangan masing-masing negara. Ada yang berdiri sendiri, ada pula lembaga rating internasional yang beroperasi di negara lain.

Di Indonesia, perusahaan yang mendapat izin sebagai lembaga rating adalah PT Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia),  Fitch Rating Indonesia yang merupakan lembaga rating internasional yang membuka jaringannya di Indonesia dan ICRA (Indonesia Credit Rating Agency).

Ada standarisasi rating yang diberikan lembaga rating di seluruh negara. Sehingga meskipun simbol atau angka penilaiannya berbeda, ada kesetaraan penilaian antar satu lembaga rating dengan lembaga rating lain. Suatu rating terdiri dari dua bagian, yakni Rating dan Outlook.

Rating adalah kemampuan membayar utang, sedangkan Outlook adalah pandangan dari perusahaan pemeringkat apakah rating akan naik, turun atau tetap pada periode penilaian berikutnya.

Rating obligasi biasanya terdiri dari dua atau tiga huruf yang disertai dengan tanda atau angka tergantung perusahaan pemeringkat. Sebagai contoh urutan dari yang paling tinggi hingga paling rendah secara umum adalah sebagai berikut:

• Investment Grade.
o AAA atau Aaa.
o AA+, AA dan AA- atau Aa1, Aa2, dan Aa3.
o A+, A, dan A- atau A1, A2, dan A3.
o BBB+, BBB dan BBB- atau Baa1, Baa2, dan Baa3.

Non Investment Grade (junk bond) dengan rating di bawah BBB atau Baa.
o BB+, BB dan BB- atau Ba1, Ba2, dan Ba3.
o B+, B dan B- atau B1, B2, dan B3.
o CCC+, CCC dan CCC- atau Caa1, Caa2, dan Caa3.
o CC+, CC dan CC- atau Ca11, Ca2, dan Ca3.
o C+, C dan C- atau C1, C2, dan C3.
o Default.

Investment Grade adalah kategori suatu perusahaan memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi utangnya. Investor yang mencari investasi yang aman, umumnya  memilih rating Investment Grade.

Sementara Non Investment Grade adalah kategori perusahaan dianggap memiliki kemampuan yang meragukan dalam memenuhi kewajibannya. Perusahaan yang masuk kategori Non Investment Grade ini biasanya cenderung sulit memperoleh pendanaan.

Supaya bisa berhasil umumnya mereka memberikan kupon atau imbal hasil yang tinggi sehingga disebut juga dengan High Yield Bond. Investor yang memilih jenis obligasi ini biasanya cenderung memiliki sifat spekulatif. Sebab jika ternyata perusahaan berkomitmen melunasi seluruh kewajibannya, imbal hasil yang diterima bisa sangat tinggi.

Pada prinsipnya, semakin rendah rating, berarti semakin tinggi risiko gagal bayar dan berarti semakin besar pula imbal hasil (return) yang diharapkan oleh investor. (TIM BEI/yy/okezone.com)