fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Investor Institusi, Individu, Asing & Lokal

Investor Institusi, Individu, Asing & LokalFiqhislam.com - Ada dua pengelompokan investor di pasar modal. Pertama, pengelompokan investor  berdasarkan stastus  asing dan  domestik. Dilihat dari jumlahnya, investor asing  yang bertransaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya sekitar 4 persen dari total investor, selebihnya investor domestik. Tetapi dari jumlah nilai transaksi perdagangan,   total portofolio investor asing justru lebih besar yaitu 60% berbanding 40 persen.

Dengan dominasi nilai transaksi investor asing tersebut,  peranan  investor asing dalam menggerakkan harga saham dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI masih sangat besar.  Investor asing di bursa juga umumnya memiliki kemampuan analisis saham yang lebih baik. Untuk itu perlu upaya untuk terus mendorong peningkatan jumlah investor domestik.

Pengelompokan kedua, investor saham dibagi menjadi investor institusi dan individu. Per awal tahun ini, komposisi  investor institusi  ada sekitar 60 persen asing dan 40 persen domestik. Berbeda dengan nilai portofolio investor saham individu yang rata-rata hanya ratusan juta rupiah, investor institusi mengelola miliaran hingga triliunan rupiah.

Yang termasuk dalam investor institusi adalah perusahaan asuransi, dana pensiun, manajer investasi reksa dana, holding company, dan hedge fund asing. Dana yang diinvestasikan oleh investor institusi umumnya adalah dana kumpulan milik peserta. Dana pensiun menghimpun dana peserta pensiun. Reksa dana berisi dana kelolaan investor pemegang unit reksa dana.

Sementara asuransi mengalokasikan dana investasi milik para pemegang polis.
Semua investor institusi perlu mempertanggungjawabkan pengelolaan dananya, biasanya setiap bulan sekali atau tiap tiga bulan. Sementara investor individu karena berinvestasi untuk diri sendiri  tak memiliki kewajiban ini. Karena adanya pertanggungjawaban, biasanya  investor institusi lebih berhati-hati terhadap  risiko. Sedangkan investor individu lebih fleksibel dibandingkan investor institusi.

Investor individu yang aktif bertransaksi di bursa harus memiliki pemahaman yang cukup mengenai cara bertransaksi dan mengetahui mengenai karakter instrumen-instrumen investasi terutama risiko. Investor yang tak memiliki pemahaman cukup tidak disarankan untuk berinvestasi secara langsung.

Untuk individu yang ingin bertransaksi tapi tidak punya pengetahuan cukup dan waktu yang cukup, bisa berinvestasi melalui investor institusi yang tadi disebutkan. Misalnya, dengan membeli reksa dana yang dikelola manajer investasi. Manajer investasi adalah profesional yang telah mendapatkan izin dari otoritas pasar modal dalam mengelola portofolio investasi.

Investor bisa memilih jenis reksa dana yang sesuai dengan kebutuhan dan risiko investasi yang bisa ditolerir oleh investor individu. Ada jenis reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran dan reksa dana pasar uang.

Apabila investor ingin berinvestasi sekaligus memperoleh perlindungan asuransi, maka pilihannya adalah berinvestasi melalui perusahaan asuransi. Ada produk unit link yang serupa dengan reksa dana, tetapi ada tambahan asuransi. Sedangkan untuk investor yang ingin menginvestasikan dan untuk kebutuhan pensiun, bisa berinvestasi melalui dana pensiun.

Ada dua jenis dana pensiun, yaitu Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dan Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK). Siapa saja dapat membeli produk DPLK yang biasanya ditawarkan melalui bank. Sementara DPPK biasanya hanya untuk peserta yang menjadi karyawan di satu perusahaan yang memiliki DPPK. [yy/tim bei/
okezone.com]