14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Strategi Investor Saat Pasar Terkoreksi

Strategi Investor Saat Pasar TerkoreksiFiqhislam.com - Ketika pasar saham sedang turun, investor sebaiknya tidak terlalu panik dan tetap fokus pada tujuan investasi sesuai profil dan risiko masing-masing. Termasuk strategi melakukan cost averaging (akumulasi secara bertahap) di saat bursa sedang tertekan.
Jika investor ingin mengurangi volatilitas yang cukup tinggi dan menghindari rugi yang dalam, sebaiknya melakukan rebalancing produk dengan memiliki beberapa produk yang saling menyeimbangkan sehingga jika salah satu produk returnnya terkuras, kerugian dapat ditutupi dengan naiknya produk lainnya. Rebalancing merupakan teknik investasi untuk mengurangi risiko volatilitas.                                                               
 
Misalnya, bila sebelum pasar saham turun portofolio investor 80% di saham dan 20 persen di obligasi, bisa diubah dengan lebih banyak porsi di obligasi.  Namun, jika investor merasa tidak aman, maka sebaiknya ke luar dulu, dengan melakukan cut loss atau menjual saham di harga rendah. Sebaliknya, jika masih merasa nyaman, dan menikmati tren gerakan pasar, investor bisa tetap bertahan menunggu pasar saham kembali recovery.        
 
Jika penurunan harga saham lebih disebabkan tekanan sentimen pasar, dan bukan fundamental emiten, investor seharusnya tidak perlu panik menjual. Kalau valuasinya masih murah dan harga sedang turun,  seharusnya investor malah melakukan pembelian. Saat harga saham sedang murah, bisa diibaratkan dengan waktunya great sale di mall. Kalau yakin barangnya bagus, ketika harga barang murah, maka akan menguntungkan membeli barang  tersebut.            
 
Diversifikasi aset untuk menyebar risiko adalah kunci agar berinvestasi bisa dilakukan dengan nyaman. Penyebaran risiko dengan memiliki beberapa jenis investasi disesuaikan dengan  profil risiko setiap orang. Di tengah turbulensi pasar,  menahan agresivitas di aset berisiko sambil memperbanyak aset di instrumen yang berisiko moderat bisa ditempuh. Porsi aset di saham dan instrumen pasar uang perlu diseimbangkan.       
 
Untuk tujuan investasi stu sampai dua tahun ke depan, porsi saham bisa dipertahankan sebesar 60 persen. Sisanya, di pasar uang dan produk lain seperti properti. Sedangkan untuk jangka panjang, porsi 80 persen di saham masih aman. Pilihan untuk bertahan juga didasarkan pada upaya menghindari adanya realisasi kerugian dengan harapan akan adanya perbaikan kondisi pasar.  Mereka yang bertahan menyadari, tujuan investasi di saham adalah untuk jangka panjang sehingga tetap mampu bersabar menunggu perbaikan kondisi ekonomi global dan kondisi pasar.
 
Pilihan membeli atau menambah investasi di saham berada di tangan investor yang menyakini bahwa penurunan harga saham yang terjadi bersifat sementara dan tetap menganggap pasar saham sebagai investasi yang menarik untuk jangka panjang.  Koreksi dan penurunan harga-harga yang terjadi justru menjadi kesempatan untuk membeli saham atau reksa dana saham pada harga yang lebih murah. Investor juga melihat potensi hasil investasi yang lebih menarik jika pasar kembali membaik.                                                
 
Bagi investor yang telah memiliki strategi untuk alokasi aset, penurunan harga-harga saham akan dimanfaatkan oleh investor untuk menambah investasinya sesuai strategi alokasi yang sudah ditetapkan. Hal ini sering disebut dengan proses rebalancing portfolio.
 
Sedangkan pilihan menjual kembali saham atau reksa dana yang dimiliki biasanya dilakukan investor untuk menghindari kerugian yang lebih besar lagi. Sebagian besar investor menyadari profit risiko sudah tidak sesuai dan berusaha untuk timing the market. Biasanya implikasi atas penjualan saham atau reksa dana ini adalah investor merealisasikan kerugiannya, melakukan switching ke instrumen lain, dan kehilangan kesempatan jika pasar kembali naik sebelum sempat membeli. [yy/okezone.com]