fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


11 Ramadhan 1442  |  Jumat 23 April 2021

Floating Share dan Likuiditas Saham

Saat ini ada sekitar 425 saham perusahaan yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).Sektor usaha dari perusahaan yang tercatat juga bermacam- macam. BEI telah mengklasifikasi sektor usaha itu dalam 10 saham sektor usaha, dan setiap sektor dikelompokkan lagi menjadi subsektor.

Dari sekian banyak jenis saham tadi,yang terbagi dalam sektor dan subsektor, ternyata memiliki tingkat likuiditas yang berbeda-beda.Ada saham yang likuiditasnya tinggi, ada yang sedang atau biasa-biasa saja, ada yang rendah sekali atau jarang ditransaksikan, bahkan ada yang sangat jarang ditransaksikan. Saham yang sangat jarang sekali diperdagangkan itu dikenal sebagai ”saham tidur”.

Tingkat likuiditas saham tidak ditentukan oleh jenis sektor usaha saham tersebut. Artinya,saham sektor properti tidak bisa disebut lebih likuid dibandingkan sektor perbankan, begitu juga sebaliknya. Likuiditas sektoral ini sering kali ditentukan oleh momentum, informasi terbaru, atau kejadian penting yang terjadi di sektor tersebut. Saham sektor pertambangan, misalnya, tiba-tiba sangat likuid di pasar.

Setelah dirunut, ternyata penyebabnya adalah kenaikan harga komoditas tambang. Saham sektor biro wisata misalnya, likuiditasnya meningkat ketika tiba musim liburan. Jangan pernah menduga bahwa saham yang berasal dari sektor yang sama selalu memiliki tingkat likuiditas yang sama di pasar.

Dua jenis saham A dan B misalnya, yang samasama bergerak di sektor telekomunikasi, belum tentu memiliki likuiditas yang sama di pasar. Bisa jadi saham A lebih digemari investor, sehingga ada saja investor yang ingin membelinya dan karena itu selalu mencatat transaksi setiap hari.

Sementara itu,saham B dari sektor yang sama tidak diminati investor.Investor enggan menginvestasikan uangnya di saham B,sehingga saham B jarang ditransaksikan. Kalaupun ada transaksi, volumenya kecil. Pertanyaannya, faktor apa sebenarnya yang menentukan likuiditas saham di bursa? Cukup banyak faktor yang berpengaruh terhadap likuiditas saham di pasar.

Salah satu faktor yang cukup dominan adalah jumlah saham beredar di masyarakat (floating share). Pengertian floating share di sini sama sekali berbeda dengan jumlah saham yang ditawarkan ke publik. Saat perusahaan baru go public(IPO),jumlah saham yang ditawarkan ke publik memang mencerminkan porsi floating share dari perusahaan itu.Namun, fakta mengungkapkan bahwa porsi floating share sering kali berkurang pasca-IPO.

Artinya, saham yang ditawarkan ke publik tadi saat IPO di-buy back sehingga porsi di masyarakat semakin berkurang. Ini yang menyebabkan banyak emiten di BEI yang floating share-nya semakin minim sehingga likuiditas di pasar juga semakin rendah. Sudah banyak penelitian oleh kalangan akademisi yang membuktikan bahwa floating share berpengaruh signifikan terhadap likuiditas saham di bursa.

Semakin besar jumlah floating share maka saham tersebut semakin likuid. Karena itu, jika disimak saham-saham yang likuid di BEI,pada umumnya adalah saham perusahaan yang memiliki floating sharecukup tinggi seperti saham PT Telkom Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bumi Resources Tbk (BUMI),PT Bakrie Brother Tbk (BNBR), PT Bank BRI Tbk (BBRI), PT Bank BCA Tbk (BBCA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM. Hal ini sangat logis.

Logikanya,semakin tinggi floating share, maka semakin besar kemungkinan investor yang memiliki.Semakin besar jumlah investor yang memiliki,maka semakin tinggi terjadinya mutasi saham dari satu investor ke investor lainnya. Betapa besar pengaruh floating share terhadap likuiditas saham di pasar, juga bisa disimak terhadap perubahan peraturan tentang tender offer.

Peraturan sebelumnya mewajibkan bagi pihak yang melakukan pembelian saham emiten sebesar 25% atau sebesar 20% dengan tujuan ingin mengendalikan perusahaan, agar melakukan penawaran tender (tender offer). Harga tender offer harus lebih tinggi dari rata-rata harga tertinggi di pasar selama 90 hari sejak pengumuman tender.

Umumnya, harga tender offer adalah harga premium sehingga banyak pemegang saham publik yang bersedia melepas sahamnya. Tanpa disadari hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah saham beredar (floating share) di masyarakat, sehingga likuiditas saham di pasar juga merosot drastis.

Contoh kasus untuk ini bisa disimak pada performa saham sebuah perusahaan rokok terkenal setelah digelar tender offer oleh perusahaan rokok besar dari luar negeri. Kini untuk mencegah merosotnya likuiditas saham dan mempertahankan kepemilikan saham publik (floating share) di pasar, pada pertengahan 2008 lalu Bapepam- LK merevisi peraturan itu. Pihak yang diwajibkan melakukan tender offer jika mengakuisisi lebih dari 50% saham perseroan.

Dan jika kepemilikan pihak tadi lebih dari 80%, dia wajib menjual kembali ke masyarakat sebesar 20% dari modal disetor. Dengan begitu, porsi kepemilikan publik tetap bertahan sebesar 20%. Masalah floating share ini juga menjadi perhatian BEI. Peraturan pencatatan BEI saat ini menyebutkan untuk perusahaan yang IPO minimal menawarkan 10% atau 35 juta lembar sahamnya ke publik.

Peraturan ini akan direvisi menjadi minimal 20%. Meski peraturan ini belum efektif, kini BEI sudah mengimbau kepada emiten baru agar minimal saham yang dilepas ke publik minimal 20% dari modal disetor. Berkaitan dengan floating share ini, pemerintah juga memberikan insentif perpajakan berupa potongan pajak PPh sebesar 5% terhadap emiten yang floating share-nya 40% ke atas.

Kebijakan ini menunjukkan betapa pentingnya likuiditas pasar dan betapa besar pengaruh floating share terhadap likuiditas saham di bursa.

Tim BEI

seputar-indonesia.com