24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Analis: Likuiditas Saham Syariah Bermasalah

Liukuiditas Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dinilai bermasalah. Padahal, investor yang berorientasi syariah, lebih bersifat jangka panjang sehingga butuh likuiditas yang cukup. Head of Research Division PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, indeks saham syariah sedikit bermasalah. Sebab, ISSI tidak mencantumkan aspek likuiditas dalam menentukan kriteria saham-saham yang masuk dalam kategori indeks saham syariah (ISSI).

Akibatnya, saham-saham yang likuiditasnya tidak terlalu bagus, juga masuk ke ISSI. Padahal, saya melihat, orang yang masuk ke saham dengan tujuan syariah lebih ke arah investasi bukan trading jangka pendek. “Sedangkan investasi, investor harus yakin kondisi fundamental emiten cukup bagus dan likuiditasnya cukup,” katanya, di Jakarta, Kamis (16/6).

Satrio menyayangkan ISSI yang berbeda dengan JII yang masih mementingkan aspek likuiditas. Karena itu, kalaupun segmen investor baru terbentuk dari kalangan Muslim tradisional ke bursa saham, menurutnya, tidak bisa langsung terjun bertransaksi.

“Jika mereka terjun langsung dengan saham syariah yang likuiditasnya rendah justru berbahaya,” tukasnya. Satrio mengingatkan, likuiditas merupakan aspek penting dalam transaksi saham.

Hingga saat ini, PT BUrsa Efek Indonesia (BEI) melaporkan, nilai kapitalisasi ISSImencapai Rp1.639 triliunatau 42% dari nilai kapitalisasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebesar Rp3.341 triliun.

Sebelumnya, BEI bekerja sama dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) meluncurkan fatwa Mekanisme Syariah Perdagangan Saham dan ISSI.

Fatwa Nomor 80 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek, telah disahkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Utama Indonesia (DSN-MUI) pada 8 Maret 2011.

Satrio Utomo

pasarmodal.inilah.com