fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Resiko

ResikoResiko, selalu ada dan hadir di setiap sisi kehidupan manusia, kapanpun dan dimanapun ia berada. Di sisi lain, manusia tidak bisa menghilangkan resiko. Yang bisa dilakukan adalah menghindari resiko dan atau mengurangi efek atau dampak dari resiko yang mungkin terjadi.

Coba kita telisik lebih detil dari sisi kehidupan atau kegiatan yang paling sederhana hingga yang cukup rumit. Kegiatan ringan seperti tidur misalnya, sekilas adalah kegiatan sangat sederhana yang sama sekali tidak beresiko.

Coba tanyakan kepada siapapun yang terlalu banyak tidur, apakah badannya nyaman atau tidak? Juga rasakan, bagaimana Anda terlambat naik pesawat, yang jadwalnya tidak bisa diubah, hanya gara-gara ketiduran. Contoh ini hanya sebagai ilustrasi bahwa resiko selalu hadir di setiap sisi kehidupan manusia.

Apa kaitannya dengan investasi? Pada dasarnya setiap investasi selalu mengandung resiko. Tidak ada investasi yang bebas resiko (risk free invesment). Sekecil apapun resiko itu pasti ada. Besar kecilnya resiko tergantung dari jenis atau instrumen investasinya.

Semakin besar resiko yang dihadapi semakin tinggi potensi keuntungan yang bisa diperoleh, begitu sebaliknya. Investasi di bank, dalam bentuk tabungan atau deposito, resikonya kecil sekali, tapi dari sisi imbal hasil atau keuntungan juga kecil. Sebaliknya investasi di saham resikonya besar, tapi sebanding dengan potensi keuntungan yang juga besar.

Kata kuncinya adalah: high risk high return. Artinya, keuntungan dari investasi yang dilakukan tergantung pada seberapa besar jenis resiko yang berani kita tanggung. Jika kita berani menanggung resiko yang lebih besar, maka potensi keuntungan yang bisa kita nikmati juga semakin besar.

Jika dikaitkan dengan investasi di pasar modal terutama saham, apa saja resikonya? Apakah resiko itu bisa dihilangkan atau diminimalkan ? Secara garis besar ada dua jenis resiko yakni resiko sistematis (systematic risk) dan resiko tidak sistematis (unsystematic risk). resiko sistematis bersifat sistemik dan karenanya tidak bisa dihindari. Misalnya resiko pasar, resiko nilai tukar, resiko melemahnya ekonomi makro dan sebagainya.

Sedangkan unsystematic risk adalah jenis resiko yang bisa dikelola dan dihindari. Misalnya resiko turunnya fundamental perusahaan, resiko likuiditas dan sebagainya. Berkaitan dengan transaksi jual beli saham, dikenal juga adanya resiko gagal serah dan gagal bayar.

Berbagai resiko itu akan mempengaruhi naik turunnya harga saham di bursa. Sehingga jika ditarik ke ujung, maka resiko investasi di saham bisa dibedakan menjadi dua, yakni resiko penurunan harga (capital loss) dan resiko tidak memperoleh dividen.

Dalam aktivitas perdagangan saham, investor tidak selalu mendapatkan capital gain alias keuntungan atas saham yang dibelinya. Ada kalanya pemodal harus menjual saham dengan harga jual lebih rendah dari harga beli.

Dengan demikian seorang pemodal mengalami capital loss. Misalnya seorang pemodal memiliki saham PT XYZ dengan harga beli Rp9.000, namun beberapa waktu kemudian dijual dengan harga per saham Rp8.500, yang berarti pemodal tersebut mengalami capital loss Rp500, untuk setiap saham yang dijual.

Dalam jual beli saham, terkadang untuk menghindari potensi kerugian yang makin besar seiring dengan terus menurunnya harga saham, maka seorang investor harus rela menjual saham dengan harga rendah. Istilahnya stop loss atau cut loss.

resiko tidak mendapat dividen. Umumnya perusahaan akan membagikan dividen jika perusahaan berhasil membukukan laba atas operasi perusahaan. Tapi hal ini tidak selalu, karena ada juga perusahaan yang untung tapi karena kebutuhan ekspansi, ia tidak membagikan dividen ke pemegang saham.

Lain halnya jika perusahaan mengalami kerugian maka perusahaan hampir dipastikan tidak akan membagi dividen kepada para pemegang saham. Jadi, harapan untuk mendapatkan income atas kinerja perusahaan tidak terpenuhi karena kinerja perusahaan yang tidak memuaskan.

Di samping resiko di atas, resiko lain yang mungkin terjadi adalah perusahaan bangkrut atau dilikuidasi. Jika perusahaan bangkrut, maka akan berdampak langsung terhadap saham perusahaan tersebut. Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi, posisi pemegang saham lebih rendah dibanding kreditur atau pemegang obligasi.

Artinya hasil penjualan aset perusahaan, terlebih dahulu dibagikan kepada para kreditur atau pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa, baru dibagikan kepada pemegang saham. Begitulah resiko yang perlu dipahami oleh investor.

Tim BEI | okezone.com