13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Lock Up

Lock UpISTILAH ini sudah cukup dikenal di pasar modal. Lock up berarti terkunci. Dalam konteks pasar modal, istilah lock up diartikan bahwa ada sejumlah saham yang tidak dapat diperjualbelikan hingga periode tertentu. Beberapa perusahaan BUMN pernah memberlakukan lock up sebagian saham yang dijual saat IPO seperti yang dilakukan oleh PT Telkom Tbk (TLKM). Mengapa begitu?

Sebagaimana diketahui peran pasar modal bisa dilihat dari dua sisi kepentingan. Dari kacamata masyarakat atau investor, pasar modal adalah alternatif investasi untuk mengembangbiakkan kekayaan atau aset. Tapi dari sisi perusahaan – yang membutuhkan dana untuk ekspansi atau keperluan lain – kehadiran pasar modal adalah sumber baru untuk memenuhi kebutuhan dana atau modal ekspansi. Pasar modal adalah lahan untuk mencari dana segar yang murah dan fleksibel. Dengan adanya pasar modal, peluang terhadap akses dana menjadi kian terbuka.

Dalam perkembanganya, tidak sedikit yang menjadikan pasar modal sebagai ajang untuk memberikan apresiasi bagi karyawan lewat program ESOP (employee stock option program), bahkan untuk menyalurkan warisan oleh pihak pendiri kepada sang buah hati. Nah, dalam konteks ini, istilah lock up sering digunakan. Di samping itu, melakukan lock up atas sebagian saham saat IPO dianggap mampu mengurangi tekanan jual saham di hari-hari pertama saat listing perdana. Dengan lock up, investor dan karyawan yang membeli saham di pasar perdana tidak bisa menjual saham yang dimilikinya.

Misalnya sebuah perusahaan akan go public dengan melakukan penawaran umum ke publik sebesar 20 persen dari modal disetor. Di samping itu, perusahaan juga merencanakan akan mengalokasikan sekitar lima persen untuk jatah ESOP dan 5 persen lagi akan diberikan kepada ahli waris pendiri. Komposisi alokasi saat penawaran umum (initial public offering/IPO) ditetapkan bahwa yang 10 persen—yang merupakan bagian ESOP dan warisan sebesar 5 persen --  tidak dapat diperjualbelikan selama 12 bulan terhitung sejak IPO.  Begitu juga dengan 70 persen saham pendiri juga tidak akan diperdagangkan dalam kurun waktu tersebut. Praktis dalam masa satu tahun IPO, jumlah saham yang ditransaksikan hanya 20 persen saham yang ditawarkan tadi.

Dari kaca mata investor, ada tidaknya ketentuan saham yang di-lock up ini merupakan informasi penting. Sebab, penetapan masa lock up ini cukup menentukan dalam perkembangan harga saham dan likuiditas saham di lantai bursa. Bisa saja selama masa lock up harga saham naik karena besarnya permintaan di satu sisi dan terbatasnya suplai di sisi lain.

Karena itu, sebagai pemegang saham publik kapan periode lock up tersebut dibuka juga perlu diingat dan diperhatikan sebagai tambahan informasi. Misalnya, 12 bulan kemudian setelah IPO,  investor perlu memperhatikan apakah saham tersebut dijual atau tidak oleh karyawannya. Perlu dilihat juga bagaimana mekanisme penjualan atas saham-saham yang di lock up tadi.

Dengan mengetahui waktu kapan saham lock up dibuka, maka investor bisa menghitung atau mengantisipasi efeknya di bursa. Pada contoh di atas, jika lock up diberlakukan untuk saham pendiri, karyawan dan ahli waris yang totalnya mencapai 80 persen, maka itu berarti di atas kertas ada tambahan atau suplai barang di pasar. Jika sebelumnya, selama 12 bulan setelah IPO, jumlah saham yang bisa diperdagangkan hanya 20  persen saja, maka kini ada tambahan sehingga saham yang bisa diperdagangkan menjadi 100 persen.

Di lantai bursa sendiri tiap penjualan saham hasil lock up ini akan diinformasikan kepada publik,. Tujuannya adalah agar investor, pemilik saham mengetahui dan bisa mengambil keputusan investasi. Karena itu setelah membeli saham di pasar perdana, disarankan jangan jauh-jauh dari  bursa saham, tetap keep in touch sehingga sebagai investor Anda tidak pernah ketinggalan informasi. Terlebih lagi informasi tersebut terkait dengan investasi, monitor terus aktivitas pasar modal. (Tim BEI)

economy.okezone.com