14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Mengapa Orang Membeli Saham

Mengapa Orang Membeli SahamTulisan ini akan menguraikan mengapa orang membeli saham yang mungkin terdengar klise, terutama ketika pasar saham mengalami tingkat penurunan yang jauh nilainya dari harga awal ketika dibeli, tapi selama saham jangka panjang adalah investasi yang baik. Angka-angka yang ada untuk membuktikannya. Catatan masa lalu pasar saham telah membuktikan memberikan hasil imbal balik yang melebihi bentuk-bentuk investasi lainnya.
 
Mengapa Orang Membeli Saham
Mengapa berinvestasi di pasar saham sementara menempatkan dana dalam rekening Tabungan atau Deposito mungkin lebih aman dan memiliki tingkat bunga tinggi? Instrument keuangan saham memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan produk Tabungan dan Deposito, walaupun demikian,  menempatkan dana pada instrumen keuangan saham, sekalipun memiliki risiko, sampai saat, tingkat pengembalian atau hasil imbal balik instrumen saham sangat jauh dibandingkan dengan hasil imbal balik yang diperoleh dari tingkat bunga Tabungan dan Deposito, bahkan Properti sekalipun.

Risiko dapat diatasi dengan Anda memiliki portofolio saham seimbang dan Anda memegang saham tersebut dalam jangka panjang – misalnya lima sampai tujuh tahun. Bagaimana dengan kondisi pasar pada tahun 2010 yang lalu atau semester pertama tahun 2011 ini, banyak orang mengatakan keadaan pasar naik turun seperti “roller coaster.”  Pada kondisi ini banyak orang menempatkan dana mereka pada instrumen obligasi bahkan Tabungan dan Deposito. Menempatkan dana pada instrumen yang berbeda ini merupakan tindakan menyeimbangkan portfolio investasi untuk menyebar risiko berinvestasi. Ketika tingkat Bunga yang diterima dari obligasi sangat kecil demikian pula dengan tingkat bunga Tabungan dan Deposito yang lebih rendah dari tingkat inflasi, maka memilih saham yang berbeda untuk menyeimbangkan risiko dalam suatu portfolio merupakan pilihan investasi yang dapat memberikan hasil imbal balik yang terbaik.
 
Naik Turun di Pasar Saham.
Pasar Saham dapat digambarkan dengan pasar atau supermarket. Tentunya Anda sering membandingkan harga ikan, atau daging, atau sayur-mayur, hal yang sama juga terjadi dengan saham. Pasar melakukan tugas dasar yang sama dimana terdapat pembeli sesuai dengan penjual dan harga yang ditentukan oleh persediaan dan permintaan. Dengan mengambil contoh harga makanan dipasar, dimana harga dengan potongan atau diskon terbaik dan jenis ikan atau daging yang paling segar akan menjadi ikan atau daging atau sayur-mayur yang paling laris dan karena itu harga akan menjadi yang tertinggi. Di pasar saham, pendorong utama harga saham adalah prospek keuntungan dan risiko yang berkaitan dengan investasi. Jadi jika pasar memperhitungkan laba sebuah perusahaan akan tetap atau meningkat selama beberapa tahun ke depan, sahamnya akan lebih dicari dari saham dalam kelompok yang laba diperkirakan akan turun.
 
Seperti juga ikan dan daging, maka informasi mengenai jenis ikan atau daging yang terbaik sangat diperlukan, demikian juga dengan saham; informasi mengenai jenis saham adalah dominan yang sangat menentukan pengaturan harga saham.
Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui setiap detail tentang perusahaan, atau memprediksi pasang surut harga saham. Misalnya berita tentang nasib perusahaan adalah penting dalam menentukan apakah akan membeli atau menjual saham. Harga saham akan naik dan jatuh sangat bergantung pada berita-berita. Pastinya, berita yang baik akan meningkatkan harga, dan sebaliknya harga akan turun jika beritanya buruk.

Lebih jauh mengenai turun dan naik harga saham.
Jangan membuat kesalahan dengan percaya bahwa valuasi saham didasarkan pada harga saham. Ada perhitungan sederhana yang mengukur nilai perusahaan. Hal ini dikenal sebagai rasio harga laba, atau P / E.

Contoh: P / E saham Perusahaan A adalah 14 menurut Media A. Ini berarti harga saham tersebut bernilai 14 kali dari laba per saham (Earning per Share) periode bersangkutan. Sementara itu, saingannya saham perusahaan B memiliki P / E 23 - atau 23 kali dari pendapatan per saham periode yang sama. Jadi apa yang kita pelajari dari hal ini? Sederhananya, harga pasar saham B lebih tinggi dibanding A. Namun demikian, perlu diperhatikan karena P / E  bervariasi dari satu sektor ke sector lainnya.
    
Berikut adalah contoh salah perusahaan “Go Public” yaitu perusahaan Telekomunikasi Indonesia. Data perhitungan Revenue menunjukan angka yang akan terus meningkat sejak tahun 2005 sampai diperkirakan tahun 2013. Sementara itu di tahun 2011 EPS-nya cenderung turun. Namun dengan perkiraan revenue tahun-tahun akan datang meningkat, sementara harga saham TLKM yang sempat terkoreksi selama beberapa bulan terakhir, maka saham emiten ini berpotensi diburu investor lagi dan meningkatkan lagi harganya di tahun mendatang.

 

Bernhard Sumbayak
Founder & Chairman Vibizconsulting

vibiznews.com | lintasberita.com