19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Bubble Property

Bubble Property Suatu Bubble Property atau Penggelembungan Property adalah keadaan dimana terjadi kenaikan harga-harga property secara tidak wajar. Kewajaran dari peningkatan harga berlaku secara bertahap seiring dengan meningkatnya tingkat inflasi atau pendapatan secara merata. Jika cepatnya pergerakan harga terus dibiarkan terjadi akan ada kondisi terjadi pecahnya "Bubble Property" yang menjadikan harga-harga property jatuh diikuti dengan ambruknya ekonomi secara menyeluruh sehingga akan menimbulkan masalah nasional berupa resesi ekonomi.

Penggerak Bubble Property

Bubble Property terjadi saat pasca krisis ekonomi yaitu keadaan yang umumnya merupakan sebab akibat dari suatu resesi ekonomi yang mana akan mengalir masuk secara deras aliran modal baru atau Capital Inflow. Capital inflow yang umumnya berbunga murah ini merupakan dana-dana import yang masuk untuk investasi jangka panjang.

Sebelum kondisi Bubble Property terjadi sangat perlu dilalukan tindakan waspada guna menghindari kesulitan pemulihan ekonomi. Masuknya modal dari luar dalam waktu bersamaan akan menjadikan Indonesia kelimpahan akan dana. Kelimpahan modal ini yang merupakan suatu peluang bagi para pelaku investasi. Dan investasi yang paling cepat daya serapnya adalah industri Property baik dari sisi perumahan maupun perkantoran tak ketinggalan daerah komersial seperti Mall.

Penunjang Bubble Property

1. Supply tanah yang masih banyak tersedia dengan harga yg relatif murah akan menjadi peluang yang menarik untuk berinvestasi di industri Property. Membuat tumbuhnya banyak developer-developer baru.

2. Pendapatan hasil sewa yang didapat khususnya dari Commercial Property , yaitu pendapatan berupa hasil sewa property berlaku untuk semua jenis properti. Dengan tingkat resiko pasar yang masih relatif kecil. Dikarenakan occupancy perkantoran dan property masih tinggi.

3. Perkembangan teknologi dan desain bangunan yang sangat menarik sehingga mampu menarik masyarakat untuk memiliki property baru.

4. Harga-harga bahan bangunan yang ikut meningkat seiring dengan bertambah banyaknya bangunan, hal ini pun menambah percepatan meningkatnya harga.

5. Kompetisi antar pengembang, membuat banyak bangunan-bangunan yang sama dan perang harga menambah maraknya persaingan pasar.


Kendala Bubble Property

Dibanding dengan kawasan Asia Pacific, perkembangan property di Indonesia termasuk lambat demikian dikatakan Handa Sulaiman, Excecutive Director Cushman and Wakefield. Hal ini dikarenakan :

• Suku bunga yang tinggi, 5% diatas SBI masih tinggi untuk mendapatkan pinjaman kredit investasi. Namun peluang yang ada tidak disia-siakan oleh pengembang yang jeli dan tahu cara mendapat modal murah.

• Infrastruktur yang belum berkembang, membuat tambahan dana yang harus dikeluarkan pengembang, alhasil juga meningkatkan harga bangunan dan sewanya.

• Regulasi yang belum kuat, terutama pada aspek kepemilikan warga asing akan apartemen maupun perumahan.

Semua ini menahan perkembangan property di Indonesia. Bersamaan dengan ruwetnya transportasi kota Jakarta yang tiada lepas dari kemacetan.

Dampak Bubble Property

Pernyataan Mentri Keuangan, Agus Martowardoyo, untuk waspada akan terjadinya Bubble Property di Indonesia telah meresahkan para Investor. Dimana statement ini dapat menjadikan para perbankan memperketat peraturan untuk melepaskan kredit Investasi Property. Hal ini akan berdampak pada melambatnya perkembangan property dan memperlambat perputaran dana modal yang masuk melalui industri property yang akan berdampak juga tidak meningkatkan pendapatan masyarakat yang terkait dengan pembangunan property.

Namun demikian tindakan pemerintah untuk tetap waspada merupakan suatu kebijakan yang perlu dilakukan guna mencegah terjadinya bola salju yang biasa disebut Bubble Property dikarenakan kondisi masuknya aliran modal masih akan berlanjut hingga pada fase Overheating .

Bubble Proeprty itu perlu diwasapadai? Betul , guna menghindari terjadinya over supply dan kredit yang terlalu banyak keluar pada sektor industri properti yang dapat berakibat seperti apa yang pernah terjadi di tahun 1997 , kasus krismon. Namun dari data dan informasi yang ada kekhawatiran akan terjadinya Bubble Property, sementara ocupancy perkantoran dan Apartemen serta shopping mall masih relatif terlalu dini, masih banyak ruang dan peluang yang bisa diambil dari industri property, terutama mendekati keluarnya peraturan bahwa akan diijinkannya warga asing memiliki aset di Indonesia.

Oleh Juanita Batubara
vibiznews.com