fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Stop Loss

Stop LossBukan rahasia lagi bahwa saham dikenal sebagai instrumen berisiko karena sifatnya yang naik turun, fluktuatif, sehingga mengesankan imbal hasil investasi di saham bersifat tidak pasti.

Karakter itu tidak bisa disangkal, dan semua orang mengakui bahwa sifat saham yang nilainya naik turun itulah yang membuat banyak orang tidak berani dan tidak punya nyali menanamkan uangnya di sana.

Daripada tidak ada kepastian berapa nilai keuntungan atau imbal hasil atas investasi di saham, para investor lebih baik menyimpan uangnya dalam bentuk deposito di bank.

Memang harus dipahami bahwa investasi saham di pasar modal tidak menjamin untung. Jika seseorang membeli saham saat ini misalnya, di mana harga saham sedang turun, tidak menjamin pasti untung karena harga bisa turun lagi.

Jika pasar sedang lesu (bearish), sangat mungkin sekali dana investasi semakin kecil karena rugi (loss) atau potensial loss. Begitu juga jika investor membeli saat pasar sedang naik, juga belum tentu untung karena bisa saja ketika ia beli justru pasar sedang mengalami profit taking.

Investasi di saham tidak memberikan kepastian untung dan seberapa besar tingkat untungnya. Namun, di balik karakter negatif itu, investasi di saham memberikan potensi keuntungan yang berlimpah, bahkan kadang tidak terbayangkan.

Hanya instrumen saham-lah yang memberikan keuntungan tanpa batas. Jika pasar sedang semarak (bullish) harga satu saham bisa tumbuh di atas 100 persen dalam hitungan hari.

Oleh sebab itu, bukan hal yang mustahil jika ada orang atau investor yang bisa meraih keuntungan atau pertumbuhan dananya lebih dari 100 persen dalam satu tahun. Hal seperti itu hanya dimungkinkan jika berinvestasi pada saham.

Karena itu yang perlu dilakukan adalah bagaimana membatasi kemungkinan kerugian yang bisa terjadi akibat risiko yang melekat pada saham. Dalam salah satu strategi investasi, yang juga banyak diterapkan di pasar modal lain di dunia, ada istilah bagi investor untuk membatasi tingkat kerugian yang mungkin timbul atau terjadi. Istilahnya stop loss.

Dari sisi etimologi, jelas sekali pemahaman dari istilah tersebut. Stop berarti berhenti, loss berarti rugi. Jadi di sini stop loss artinya menghentikan tingkat kerugian atau lebih tegasnya membatasi tingkat kerugian.

Pertanyaannya, berapa batas kerugian itu? Batasan itu tergantung sikap masing-masing investor atau pelaku pasar. Ada yang membatasi sebesar lima persen, ada yang menetapkan 10 persen, tapi ada juga yang mematok hingga 20 persen.

Stop loss dengan batas lima persen berarti tingkat kerugian yang bisa diterima oleh investor adalah lima persen. Jika harga saham yang dibeli mengalami penurunan hingga lebih dari lima persen maka wajib hukumnya saham tersebut dilepas, apapun alasannya.

Begitu pun jika stop loss ditetapkan sebesar 10 persen, berarti tingkat kerugian yang bisa diterima maksimal 10 persen. Karena itu, jika harga saham terkoreksi hingga lebih dari 10 persen, maka saham itu harus segera dijual (cut loss).

Biasanya strategi membatasi kerugian seperti ini dikombinasikan dengan strategi switching, yakni melepas saham yang dianggap tidak prospektif dan beralih ke saham lain yang dinilai lebih potensial.

Dalam strategi switching, keputusan melakukan cut loss bukanlah hal yang tabu. Jika memang pasar dinilai masih rawan, investor bisa melakukan konsolidasi sambil menunggu saat yang tepat untuk membeli kembali.

Ilustrasinya begini. Misalnya investor X membeli saham ABCD di harga Rp5.000 per lembar. Di sisi lain investor X menetapkan kebijakan stop loss sebesar 10 persen. Artinya, jika saham ABCD itu, dengan sebab apapun, mengalami penurunan sebesar 10 persen, misalnya menjadi Rp4.500 maka investor X akan melepas saham ABCD.

Investor X bisa mengganti saham ABCD dengan saham lain yang lebih prospektif atau melakukan konsolidasi terlebih dulu sambil menunggu momen yang tepat untuk masuk pasar kembali.

Persoalannya, untuk membatasi kerugian seperti itu kadangkala sulit dilakukan. Secara psikologis, besarnya potential loss yang diderita investor akan tertanam kuat di pikiran.

Apalagi jika dibayangi dengan kekhawatiran, jika saham yang sudah dijual ternyata harga naik. Bayang-bayang seperti ini yang membuat banyak investor tidak punya nyali untuk melakukan stop loss sehingga potential loss-nya semakin besar.

Tim BEI
okezone.com