18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Undervalued

UndervaluedISTILAH murah (undervalued ) menunjuk pada sebuah angka, harga atau nilai. Ia juga menunjukkan sebuah perbandingan antara satu dengan yang lain. Jika sebuah barang dinilai undervalued, berarti ia sedang diperbandingkan dengan sebuah standar atau ukuran tertentu.

Tanpa adanya standar atau ukuran yang bisa dijadikan tolok ukur, maka  tidak mungkin bisa mengatakan sebuah barang itu undervalued, normal (wajar) atau overvalued.  Sebuah aset disebut undervalued,  hanya jika nilainya atau harganya di bawah harga wajar atau harga normal.

Begitupun jika kita melakukan investasi di saham atau instrumen pasar modal lainnya. Siapapun orangnya, jika hendak membeli barang (termasuk saham) pasti akan mencari yang harganya murah, tapi punya kualitas. Sekali lagi, istilah murah disini pasti diasosiasikan dengan sebuah tolok ukur atau standar tertentu. Contoh riilnya begini.
Misalnya X membeli mangga manalagi di pasar seharga Rp 5.000 per kg. Padahal harga normal atau rata-rata di pasar untuk mangga manalagi untuk jenis, ukuran dan kualitas yang sama  adalah Rp 6.000 per kg. Itu artinya X telah membeli mangga manalagi dengan harga murah.

Begitupun jika investor hendak membeli (baca : investasi) saham di Bursa Efek. Secara instingtif investor akan membeli saham yang harganya murah. Jika di bursa terdapat 10 saham sektor pertambangan maka investor akan mencari saham pertambangan yang harganya murah. Ini sudah merupakan naluri investor, karena saham yang harganya murah mempunyai potensi besar menghasilkan keuntungan (capital gain)

Fabozzi (1999) seorang pakar investasi,  dalam bukunya tentang investasi menyebut saham yang diperdagangkan pada harga murah (undervalued),  maka harga saham itu cenderung akan bergerak mendekati nilai intrinsiknya. Yang dimaksud nilai intrinsik disini adalah nilai wajar saham tersebut. Fabozzi juga menyebut, jika saham diperdagangkan pada harga mahal (overvalued),  maka saham tersebut akan cenderung turun mendekati harga wajarnya.  Dengan karakter seperti itu, insting investor di pasar saham selalu mencari saham yang undervalued karena memiliki kemungkinan naik jauh lebih besar dibandingkan saham lain.

Pertanyaannya apa tolok ukur sebuah saham disebut undervalued atau tidak? Apa parameternya yang bisa dipertanggung jawabkan. Tolok ukur itu bisa macam-macam, misalnya book  value dari saham yang diperdagangkan. Bisa juga menggunakan ukuran price earning ratio (PER), dividen pay out ratio (DPR), pertumbuhan revenue, laba bersih per saham (earning per share) atau indikator-indikator lainnya.

Kembali ke contoh di atas, soal 10 saham sektor pertambangan. Misalnya setelah dihitung dari seluruh data 10 emiten diketahui ternyata rata-rata harga saham sektor pertambangan diperdagangkan pada harga 3 (tiga)  book value. Jadi misalnya ada saham ABCD yang bergerak di bidang pertambangan ditransaksikan pada harga atau kurs Rp 4.200. Harga itu mencerminkan 2,5 kali book value. Itu artinya, saham ABCD ditransaksikan pada harga yang murah (undervalued), karena masih di bawah rata-rata. Seperti disampaikan Fabozzi, saham yang undervalued cenderung akan bergerak menuju harga wajar.

Meski begitu perlu dipahami bahwa memilih atau membeli saham di Bursa Efek tidak semata-mata didasarkan pada harga murah, tetapi ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi investor mengambil keputusan. Pada contoh di atas, misalnya ternyata dibandingkan dengan saham sejenis lainnya, saham ABCD kurang likuid sehingga tidak banyak investor yang menanamkan uangnya di saham ABCD. Dalam hal ini, meskipun harga saham ABCD undervalued,  tapi karena tidak likuid maka tidak banyak investor yang investasi  di saham tersebut. Jadi murah saja ternyata tidak cukup.
(Tim BEI)

economy.okezone.com