fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

ROE-EG-EPS-PER-DPR

ROE-EG-EPS-PER-DPRPilih perusahaan dengan RETURN ON EQUITY (ROE) lebih dari 15%. Hal ini menggambarkan bagaimana kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang dimilikinya. Kalau ROE hanya berkisar 8-9%, maka berinvestasi di perusahaan tersebut sama saja dengan menabung dalam bentuk deposito.

Selanjutnya, pilih perusahaan yang PERTUMBUHAN LABA (EARNING GROWTH) stabil berkisar antara 20% atau lebih. Pilih juga perusahaan yang memiliki rasio utang terhadap modal yang relatif rendah dan rasio harga per free cashflow rendah. Artinya, perusahaan bisa menghasilkan kas dalam jumlah besar untuk membiayai operasional perusahaan dan melakukan ekspansi tanpa perlu mengandalkan pinjaman dari luar yang berbiaya tinggi. Rasio debt/capital yang rendah juga memungkinkan perusahaan menghasilkan cashflow yang lebih sehat dan tak terlalu sensitif dengan pergerakan suku bunga.

Asumsikan Anda sudah menemukan 10-15 perusahaan terbaik menurut Anda. Lalu, bagaimana cara untuk menentukan harga wajar saham tersebut? Pertama, tentukan EARNING PER SHARE (EPS) dan tren pertumbuhannya untuk 5 tahun ke depan. Kalau pertumbuhannya di atas 15%, gunakan rate 15%; sementara bila pertumbuhannya di bawah 10%, gunakan rate 10%. Kalikan untuk melihat future value pada akhir tahun kelima.

Setelah menemukan EPS pada akhir tahun kelima, kalikan dengan PRICE EARNING RATIO (PER) pada tahun tersebut. PER pada tahun tersebut dihitung dengan aturan sederhana; bila PER kurang dari 20%, gunakan rate 12%; bila PER lebih dari 20%, gunakan rate 17%. Selama ini, penelitian menunjukkan sangat jarang perusahaan membukukan PER tinggi lebih dari 17% selama bertahun-tahun. Setelah dikalikan, Anda akan menemukan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima.

Selanjutnya, tentukan berapa value sebenarnya saham tersebut. Caranya, tambahkan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima dengan dividen yang diperoleh. Dividen dihitung dengan menjumlahkan EPS selama lima tahun dikalikan dengan DIVIDEN PAYOUT RATIO (DPR). Setelah ketemu FAIR VALUE saham tersebut pada akhir tahun kelima, tinggal mendiskontokan ke nilai sekarang dengan target (hurdle rate) yang kita inginkan.

SIMULASI FAIR VALUE SAHAM
Perhatikan contoh berikut. Dengan menggunakan hurdle rate 15%, yaitu mengasumsikan saham perusahaan akan memberikan return 15% secara kontinu, saham TLKM bisa dibeli di bawah harga Rp 10.500. Sementara dengan hurdle rate 20%, saham TLKM harus dibeli di bawah harga Rp 8.500. Nah, bila harga saat ini Rp 9.700, kalau mengharap return setidaknya 15% per tahun, Anda boleh membeli sekarang. Namun, bila Anda mengharapkan return setidaknya 20%, Anda harus menunggu sampai harganya turun ke Rp 8.500.

Tentu saja perhitungan tersebut masih sangat kasar. Saya juga menghitung hanya dengan corat-coret. Selain itu, rate yang saya gunakan sangat konservatif karena banyak dari saham tersebut memiliki pertumbuhan EPS dan PER sangat tinggi. Bisa jadi, harga yang nantinya terbentuk jauh melampaui perhitungan tersebut. Tapi setidaknya simulasi di atas bisa jadi acuan untuk menaksir harga wajar suatu saham.

Setelah menemukan 5-7 saham terbaik yang memenuhi hurdle rate Anda dan diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, buy as much as you can. Hold untuk waktu yang lama. Insya Allah 4-5 tahun investasi Anda mulai menunjukkan hasil.

BV, PER, ROE, ROA, DER DIKATAKAN NORMAL/MURAH
Ada standarisasi masing masing dari setiap rasio tersebut, semua juga tergantung orangnya masing masing yang menganalisis.

Untuk PBV dikatakan murah jika kurang dari 1, artinya harga sekarang masih lebih kecil dari nilai book valuenya

Untuk PER bisa dilihat industri sejenis…. ada yang ketat PER murah jika dibawah 5, tapi ini juga masih relatif dikatakan murah jika industri rata-rata PER nya 15 dan ada satu perusahaan dengan industri sama pernya cuma 10 itu juga bisa dikatakan murah.

Untuk ROE,ROA yang bagus jika bisa lebih dari 20% minimal 15% atau lebih besar dari bunga ORI/Deposito

DER diaktakan sehat jika kurang dari 1, jika lebih dari 1 beban hutang lebih besar dari total aset, bisa bahaya… ini juga relatif, jika utang bisa dikelola dengan baik sehingga bisa menumbuhkan cash flow ga masalah, warning jika DER diatas 3 buang saja….. kecuali pada sektor perbankan…. DER memang biasanya relatif besar…. masih ditoleransi, selain itu lupakan saja.

Untuk deviden memang tergantung perusahaanya… jika bisnis usahanya udah mature, biasanya deviden diberikan cukup tinggi…. tapi untuk perusahaan berkembang yang sedang sibuk ekspansi usahanya biasanya tidak membagikan devidenya…. contohnya BNBR, atau bahkan Barkshire Hataway pun ga pernah bagi deviden…..ga masalah jika deviden ga dibagikan tapi ekspansi usaha tumbuh pesat.

 

***