fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


9 Ramadhan 1442  |  Rabu 21 April 2021

Netting & Margin Trading

Netting & Margin TradingOtoritas pasar modal diminta melarang aktivitas netting mirip short selling untuk menghindari gejolak berlebihan. Di AS, Inggris dan Eropa, short selling sudah dilarang menyusul kekacauan pasar finansial dunia.

Pelaku pasar menilai aktivitas netting bisa dikategorikan sebagai short selling dalam bentuk lain. Cara ini berpotensi membuat harga jatuh atau bergejolak tanpa bisa dikontrol. Di saat situasi pasar tidak menentu seperti saat ini netting jauh lebih merusak dibadingkan manfaat yang bisa diperoleh oleh pemodal.

Netting adalah aktivitas menjual saham, yang tidak dimiliki oleh sang penjual, pada sesi pertama perdagangan dan membelinya kembali pada perdagangan sesi kedua dengan harga yang sudah jatuh.

Selisih harga jual dan harga beli itulah yang diburu para spekulator. Secara teknis ini bisa disebut short selling, hanya bedanya tidak harus membeli saham yang sama pada satu hari perdagangan.

Short selling bisa menggairahkan pasar, namun belakangan cara ini justru menjerumuskan pasar ke jurang kehancuran karena tidak diawasi secara ketat. Di Wall Street, short selling sudah kelewatan sehingga membuat indeks harga saham merosot tajam.

Segera setelah Wall Street ambruk, otoritas pasar di sana langsung melarang perdagangan dengan cara ini. Langkah Securities and Exchange Commission (SEC) ini segera diikuti pengawas pasar di Inggris dan sejumlah negara Eropa.

Kebijakan ini sendiri dinilai terlambat untuk mengatasi masalah fundamental di pasar saham, yakni perdagangan dengan minim aturan. Bahkan untuk produk derivatif yang risikonya teramat besar sekalipun, aturan yang membatasinya dibuat sesedikit mungkin.

Kini, akibat yang ditimbulkannya telah memakan korban dan tidak dapat dipikul pasar, sehingga pemerintah AS terpaksa turun tangan dengan menyediakan uang dari pembayar pajak sebanyak US$ 700 miliar ditambah US$ 200 miliar untuk membeli Fannie Mae and Freddie Mac.

Jadi total jenderal US$ 900 miliar (Rp 8.100 triliun untuk kurs 9.000). Tidak mampu membayangkan besarnya uang itu? Coba bandingkan dengan nilai seluruh produksi yang dihasilkan oleh perekonomian Indonesi yang hanya mencapai US$ 490 miliar.

Margin trading juga berpotensi membuat gejolak pasar tidak terkontrol. Margin trading Bursa Efek Indonesia (BEI) masih diperbolehkan dengan rasio 1 berbanding 0,65 yang artinya jika Anda memiliki dana Rp 100 boleh melakukan pembeli saham Rp 165 dengan mendapat pinjaman dari broker. Rasio margin trading ini dinilai terlalu besar, karena itu sebaiknya diturunkan, misalnya menjadi 1:0,25

Margin trading terbukti telah menjatuhkan harga-harga saham di BEI beberapa pekan lalu, ketika para pemodal yang memakai fasilitas ini terpaksa menjual sahamnya untuk menghidari kerugian yang lebih besar ditambah mendekati masa jatuh tempo untuk melakukan pembayaran.

 

***