fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Keberanian Mengambil Keputusan

Keberanian Mengambil KeputusanSaat ini kita banyak berpikir apakah sudah saat yang tepat untuk masuk kepasar atau harus menunggu konfirmasi tambahan dan merasa lebih aman saat memutuskan untuk masuk. Kalau anda ingin menjadi trader sukses mulailah hari ini menyederhanakan cara transaksi anda, anda tidak akan bangkrut dengan membeli saham2 seperti BUMI dan Just Buy, karena nyali anda juga dibutuhkan dalam membuat keputusan, kalau membeli 1 lotnya saja harus mempertimbangkan berjuta2 pertimbangan dan menggunakan ratusan indikator dan teori maka nantinya dapat dipastikan anda hanya bisa jadi pengamat pasar modal bukan berkembang menjadi pedagang besar.

Belajar TA bukan akhirnya membuat anda menjadi pengecut dalam membuat keputusan tetapi membantu anda memperkuat keputusan anda, SALAH jangan takut karena kalau anda sudah membuat satu sampai seratus kesalahan maka saya yakin anda sudah dijalur yang tepat tetapi kalau anda takut salah maka performance trading anda juga akan terlihat biasa2 saja apalagi hasilnya tentunya juga biasa2 saja.

Kalau anda suka V30 Fokus pada apa yang bisa membuat anda berhasil dengan kesederhanaanya, Jiika anda senang dengan MA maka perdalam fenomena yg tersembunyi didalammnya. Bila Parabolic SAR favourite anda maka lakukan saja sehingga suatu saat anda punya TRADING STYLE dengan masing2 indikator andalan anda. Jangan belajar terlalu banyak tetapi melakukan sedikit sekali transaksi karena itu sama dengan anak TK yang suka jajan tetapi tidak tau manfaatnya.

FOKUS pada satu indikator yg anda suka dan MAKING MONEY setiap hari karena itu tujuan pedagang ! Karena kalau tidak berarti anda hanya ingin keren2an aja di saham tetapi tidak menghasilkan.

JANGAN CEPAT PANIK

Di tengah situasi bursa yang tidak menentu, para pemodal membutuhkan pegangan. Bisnis mewawancarari Dirut PT Bursa Efek Indonesia.

Apa yang bisa Anda jelaskan mengenai gambaran situasi bursa saat ini?

Namanya juga pasar saham, pasar obligasi memang selalu ada up and down. Ini juga sebagai fokus kita, khususnya bagi investor lokal yang harus dengan hati yang jernih dan rasional.

Dalam beberapa waktu terakhir pasar keuangan dunia memang sangat berfluktuasi karena kasus subprime mortgage yang membawa masalah di Amerika ke sini.

Sebenarnya pasar kita kan tidak ada masalah. Dan juga kita lihat bahwa pasar kita masih cukup solid karena banyak ditunjang beragam perusahaan dan banyak yang bergerak di bidang komoditi. Tapi memang setelah harga komoditi mulai menurun itu membawa dampak terhadap emiten-emiten kita yang mendukung pertumbuhan pasar bursa kita dua tahun belakangan ini.

Namun itu fenomena biasa, tidak ada masalah. Nah ini yang harus dimengerti oleh investor. Jangan cepat panik!

Bagaimana tidak panik kalau dari hari ke hari indeks terus mengalami koreksi?

Mereka memang butuh likuiditas dan selama enam tahun ini pasar kita naik terus dari indeks 400 sampai 2.700.

Di saham mereka mengambil keuntungan yang cukup besar, mungkin mereka pikir karena mereka butuh uang, mereka mesti mencari investasi yang lebih menguntungkan. Makanya mereka mulai melepas saham. Itu kan suatu fenomena biasa, tapi jangan sampai kebablasan. Lokal masih stabil bahkan mudah-mudahan bisa tetap berkelanjutan.
Kita lihat terjadi net subscribtion di reksa dana karena terjadi migrasi dari obligasi ke saham. Pasar obligasi kita terpengaruh oleh inflasi.

Pada saat harga obligasi yang semakin tinggi, mereka juga melihat apa yang terjadi dengan APBN. Mereka melihat subsidi BBM seperti apa, kalau subsidi naik, lalu bagaimana kemampuan pemerintah menalangi subsidi tersebut. Nah ini yang menyebabkan mereka berspekulasi. Lalu ditambah inflasi bulan Maret yang diluar ekspektasi banyak orang. Tadinya mereka mau jual, tetapi mereka tahan dengan harapan inflasi di Maret stabil atau sesuai dengan perkiraan mereka.

Begitu keluar data inflasi mencapai 0.95, mereka lalu lepas obligasi dan merembet kemana-mana, termasuk merembet ke pasar saham. Di pasar saham juga banyak rumor seperti soal saham Bakrie Brothers dan Bumi Resources. Lalu masih ada beberapa saham yang terkena fluktuasi harga komoditi. Nah itu semua yang menyebabkan dalam beberapa hari terakhir ini pasar kita mengalami anomali, semua bursa yang lain rebound, tetapi masih terjadi koreksi di sini.

Apa alasan yang sebenarnya pemodal lokal sering disetir oleh investor asing. Apakah karena jumlah pemodal lokal kita masih rendah?

Kalau kita lihat sebenarnya investor kita cukup stabil, apalagi sejak 2007 jumlah investor kita berimbang antara investor lokal dengan investor asing, 50% berbanding 50%. Pemicu kejadian kemarin adalah investor asing yang mencari likuiditas, sementara investor lokal terkena margin call.

Yang saya selalu sampaikan bahwa kita dari bursa selalu mendorong investor lokal untuk investasi di reksa dana. Ternyata reksa dana tidak ada masalah dan ini cukup menggembirakan.

Dan memang bagi investor individu yang menggunakan fasilitas margin sangat berat. Misalnya kalau saham turun 10%, mereka lalu bisa menutupinya berapa. Nah itu lah kita tetap memerlukan investor individu yang kuat melalui reksa dana. Kita ingin pemodal lokal menjadi besar sehingga bisa berperan sebagai katalisator. Di Jepang komposisi asing di sana mencapai 70% dari total investor. Memang hasilnya likuiditas di Jepang besar sekali, namun besar kecil sama saja, yang penting pasarnya ada atau tidak.

Apakah bursa tidak memiliki target untuk menambah jumlah pemodal dalam negeri?

Kami tidak memiliki target angka untuk memperbesar jumlah investor lokal, namun kami perlu terus-menerus memberikan perhatian bagaimana masyarakat menempatkan dana mereka di pasar modal baik itu di saham, obligasi, maupun di produk-produk derivatif.

Tentu saja tidak mudah untuk terjun ke produk derivatif karena itu bukan sesuatu yang mudah. Tetapi mereka harus berkeyakinan bahwa dengan inflasi sudah sekian tinggi, bunga bank sudah tidak lagi berharga lagi, produk deposito habis. Dalam keadaan demikian, capital market tetap menjadi tumpuan.

Bagaimana aktivitas sosialisasi pasar modal dari perusahaan sekuritas yang memang seharusnya menjadi ujung tombak di industri ini?

Ya memang sosialisasi harus lebih banyak dilakukan oleh BEI. Selain itu, banyak juga anggota bursa yang menjalankan sosialisasi dan buka cabang. Tetapi kalau kita lihat lebih banyak dari mereka yang tidak buka cabang dan itu yang harus kita perbaiki ke depan. Karena ujung tombak dari pasar modal ada di tangan broker. Mereka yang seharusnya lebih gencar mempenetrasi pasar.

Kalau mereka enggak pernah punya cabang bagaimana? Atau mereka cuma buka cabang di Jakarta, susah juga. Apalagi saat ini dengan adanya otonomi daerah maka uang banyak di daerah, apalagi di luar Jawa. Nah ini yang kita harapkan. Namun memang ada masalah juga ketika mereka akan membuka cabang di luar Jakarta, mereka membutuhkan tenaga yang berlisensi.

Harus ada kerja sama tiga pihak, yaitu bursa, Bapepam, dan anggota bursa sehingga perusahaan sekuritas bisa mudah membuka cabang. Karena dari segi infrastruktur sudah tidak ada masalah, orang bisa bertransaksi dari mana saja.

Bagaimana dengan aksi-aksi korporasi di bursa, apakah semua mundur karena pasar yang tidak kondusif?

Penundaan aksi korporasi sampai saat ini belum ada, juga belum ada perusahaan yang menyatakan resmi mundur dari rencana IPO. Kebanyakan dari mereka hanya memperpanjang proses saja. Buat mereka kalau mereka mundur harus butuh waktu lagi untuk mengulang kembali proses dari awal. Apalagi pasar tidak bisa ditebak. Karena ketika pasar rebound, mereka akan ketinggalan momentum kalau baru mulai lagi dari awal. Jadi yang kita lihat mereka mengatur waktu untuk masuk.

Apa pelajaran penting yang bisa dipetik dari krisis finansial global yang terjadi akhir-akhir ini?

Untuk pasar keuangan, pasar tidak dapat dibiarkan bebas begitu saja, mesti ada pengaturan. Karena kita saksikan ketika Amerika membiarkan pasar bebas begitu saja ternyata pasar bebas itu mengakibatkan bencana.

Untuk kita di Indonesia apa yang diberlakukan sudah cukup bagus, kita mengatur semuanya. Ke depan kita harus lebih berhati-hati dan belajar dari pengalaman Amerika. Amerika bilang risk management bagus, ternyata jeblok juga karena terlalu besar.

Untuk kita, karena pasar kita masih kecil dan sedang tumbuh jangan terlalu bebas tapi jangan juga terlalu kaku. Kalau terlalu kaku pasar tidak akan tumbuh, tetapi kalau terlalu bebas kita lihat contohnya Amerika. Mesti ada pengaturan dari pemerintah dalam batas-batas tertentu yang membuat pasar tidak terkekang namun tidak liar, contohnya seperti pengaturan margin dan short selling.

JANGAN RAGU UBAH PORTOFOLIO

Fluktuasi pasar terkadang tak bisa diprediksi. Adakalanya ketika investor berharap pasar naik, yang terjadi justru pasar mengalami penurunan. Hal-hal seperti itu merupakan faktor yang tak bisa dihindari. Ibaratnya investor membuat prediksi tapi pasar yang menentukan. Karena itu yang dapat dilakukan investor adalah berupaya menekan risiko penurunan pasar dengan mengelola portofolio sebaik mungkin agar imbal hasil dari sebuah investasi tetap menghasilkan pendapatan yang optimal.

Banyak cara yang bisa dilakukan investor dalam mengelola portofolio saham ini, misalnya dengan terus memantau harga saham yang terdapat di portofolio. Bagi investor yang telah yakin bahwa isi portofolio saham investasinya jangka panjang (invesment), saham disimpan untuk jangka waktu yang lama terkadang fluktuasi pasar bukan menjadi kendala. Tapi bagi mereka yang berinvestasi untuk trading sudah pasti fluktuasi pasar yang berubah dari waktu ke waktu menjadi barometer mereka untuk mengoptimalkan pendepatan. Bagi fund manager atau pengelola dana, memadukan dua potensi pendapatan tersebut (dividen dan capital gain) adalah upaya yang terus menerus mereka lakukan dari hari ke hari. Sebab hanya dengan cara demikian pertumbuhan investasi bisa mereka optimalkan dan pada gilirannya akan memberikan nilai tambah bagi pemilik dana pemegang unit penyertaan reksa dana. Fund manager ini setidaknya mengisi portofolionya dengan berbagai instrumen investasi, kalau investasinya selalu saham maka saham yang dibeli hampir pasti bervariasi.

Ambil contoh fund manager yang memproyeksikan pendapatan sekitar hingga 13 persen per tahun dengan sendirinya ia akan memilih sasaran investasi dan mengoleksi instrumen investasi yang bisa mendukung berkembang biaknya modal sesuai dengan besaran tersebut. Untuk instrumen obligasi yang kebetulan mematok tingkat sukubunga sebesar itu, hampir pasti pendapatan tersebut akan bisa dicapai. Tapi bagi saham yang harganya fluktuatif tentunya memperoleh pendapatan 11 persen hingga 13 persen per tahun itu perlu diupayakan karena karakterisitik yang berbeda antara saham dan obligasi ini. Kalau pada instrumen obligasi biasanya memberikan pendapatan fixed sedangkan saham tidak karenanya perlu dikelola, terlebih lagi likuiditas saham cukup tinggi sehingga ada kalanya pendapatan jauh melebihi angka patokan dan tidak sedikit pula pendapatan justru ini bawah proyeksi.

Guna mensiasati karakteristik investasi pada saham yang perlu dilakukan oleh investor adalah berinvestasi pada beberapa jenis saham. Koleksi beberapa jenis saham itu disebut dengan portofolio. Dengan memiliki portofolio ini memungkinkan pengelola dana bisa mengelola modal tersebut dengan pendapatan yang melebihi patokan, setidaknya jika mengalami kerugian menjadi minimal dan jika untung maka akan selalu optimal. Walhasil membentuk portofolio dalam investasi di Pasar Modal hukumnya menjadi wajib. Kendati demikian portofolio itu tidak mesti banyak, asalkan lebih dari satu jenis instrumen investasi. Lalu aspek apa yang harus diketahui investor setelah memiliki portafolio.

Di awal tulisan telah disebutkan berinvestasi tidak bisa berdiam diri, hanya memungut keuntungan dari dividen saja. Sebab bisa jadi ada saham karena ekspektasi pasar justru selisih nilai beli dan nilai jualnya melebihi pendapatan dari dividen yang ditunggu setahun itu, atau bisa jadi juga sebaliknya, di mana dividen ternyata melebihi pendapatan dari capital gain tadi. Untuk itu investor harus terus mencermati pergerakan harga saham yang menjadi isi dari portofolio itu. Langkah yang harus dilakukan investor adalah melakukan revisi atas portofolio ini. Revisi atas portofolio memang harus dilakukan agar hasil investasi optimal. Ketika indeks harga saham turun, hasil investasi yang dilakukan fund manager ternyata tidak selalu berbanding lurus.

Apalagi bila dibandingkan dengan instrumen fixed income lainya. Indikasi itu bisa dilihat dengan perolehan Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang umumnya di atas rata-rata fixed income, seminal obligasi dan bunga deposito. Kalau deposito dewasa ini hanya memberikan bunga sekitar 7 persen per tahun dan bunga obligasi sekitar 11 hingga 12 persen maka investasi di pasar modal hasilnya bisa melebihi itu. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir mengacu pada besaran indeks harga saham gabungan nilainya bisa mencapai di atas angka tersebut. Sedangkan bila mengacu pada performa industri reksa dana, khususnya reksa dana saham imbal hasil yang diperoleh bahkan tidak sedikit yang melebihi 50 persen. Optimalisasi yang dilakukan fund manager itu tidak lain karena mereka melakukan revisi atas isi portofolio

FAKTOR PENTING DALAM REVISI

Telah kita pahami bersama bahwa perlunya melakukan revisi atas portofolio menjadi bagian terpenting dalam sebuah investasi. Revisi dengan cara mengubah, menukar, menambah atau mengurangi koleksi instrumen investasi, secara periodik harus terus menerus dilakukan investor agar imbal hasil investasi menjadi optimal. Suatu jenis saham misalnya yang akan masuk pada portofolio harus diketahui terlebih dulu kinerjanya harganya, begitu pula dengan saham yang akan 'dibuang' dari portofolio harus dipastikan benar-benar saham tersebut layak sebagai penukar, penganti atau ditambah.

Untuk itu faktor yang perlu diperhatikan dalam merevisi tetap pada faktor fundamental, teknikal dari saham serta faktor ekonomi dan jenis industri. Hal ini perlu mendapat prioritas pertama karena bukan tidak mungkin akibat banyaknya investor lain yang melakukan revisi atas saham yang sama mengakibatkan harga saham menjadi turun akibat supply yang tinggi. Dengan kata lain faktor kondisi pasar saat melakukan revisi perlu juga diperhatikan dengan seksama. Jangan sampai sentimen pasar menyebabkan saham untuk koleksi jangka panjang hilang dari koleksi karena tergesa-gesa menjual akibat faktor sentimen pasar ingat penjualan satu jenis saham dalam jumlah besar menyebabkan harga turun, dan kondisi ini secara psikologis biasanya mempengaruhi keputusan investasi.

Prioritas kedua adalah menyangkut biaya. Biaya yang dimaksud adalah dengan membandingkan biaya yang mesti dikeluarkan dengan potensi keuntungan yang akan dicapai. Seperti yang kita ketahui untuk membeli saham investor berkewajiban membayar biaya transaksi. Apabila biaya yang terdiri dari biaya transaksi, penurunan atau kenaikan harga dari saham yang akan ditransaksikan itu masih lebih kecil dari proyeksi keuntungan, tentunya revisi tidak perlu dilakukan. Akhirnya agar tak salah pilih dalam merevisi koleksi investasi (portofolio) kedua prioritas tersebut perlu menjadi pedoman penting bagi investor sebelum memutuskan untuk melakukan revisi. Kedua prioritas perlu dimanfaatkan terutama bila berhadapan dengan aspek pasar yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

 

***