fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


10 Ramadhan 1442  |  Kamis 22 April 2021

Suku Bunga & Inflasi

Suku Bunga & InflasiKebijakan moneter yang ditetapkan akibat krisis moneter dan prospek perusahaan yang semakin tidak jelas (uncertainly), secara langsung mempengaruhi perilaku pemodal dengan kinerja emiten. Setiap harinya harga saham di pasar sekunder selalu bergerak, terkecuali saham-saham yang telah dikategorikan tidur ataupun tidak ada yang menginginkan saham tersebut, perubahan ini disebabkan banyaknya perputaran saham atau frekuensi yang match (done) pada pasar sekunder.

Saat permintaan pada suatu saham tinggi dan penawaran relatif tetap ataupun hanya bertambah sedikit, maka harga saham akan bergerak naik. Begitu pula sebaliknya, jika permintaan rendah maka harga saham akan bergerak turun.

Tetapi kejadiannya tidak selalu berlangsung demikian, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi harga saham tersebut. Peningkatan jumlah dan frekuensi perdagangan juga merupakan indikasi akan terjadinya pergerakan saham, baik itu naik atau turun (pola trading harian).

Naiknya suku bunga berjangka akibat kebijakan moneter menyebabkan para pemodal mencari alternatif lain yang lebih menguntungkan, sehingga memberikan batas yang semakin sempit bagi peningkatan penanaman modal dalam saham-saham perusahaan yang dijual bursa efek.

Persoalan yang timbul adalah sejauh mana perusahaan mampu mempengaruhi harga saham di pasar modal, dan faktor atau variabel apa saja yang dapat dijadikan indicator sehingga memungkinkan perusahaan untuk mengendalikan sehingga tujuan perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan nilai saham yang diperdagangkan di pasar modal dapat tercapai.

Pemain saham atau investor perlu memiliki sejumlah informasi yang berkaitan dengan dinamika harga saham agar dapat mengambil keputusan tentang saham perusahaan yang layak dipilih. Untuk itu perlu adanya informasi yang sahih tentang kinerja keuangan perusahaan, manajemen perusahaan, kondisis ekonomi makro, dan informasi relevan lainnya untuk menilai saham secara akurat.

Factor fundamental perusahaan memegang peranan penting dalam proses pengambilan keputusan. Penilain saham secara akurat dapat meminimalkan resiko sekaligus membantu investor mendapatkan keuntungan wajar, mengingat investasi saham di pasar modal merupakan jenis investasi yang cukup beresiko tinggi meskipun menjanjikan keuntungan yang relatif besar.

Investasi di pasar modal sekurang-kurangnya perlu memperhatikan dua hal, yaitu keuntungan yang diharapkan dan resiko yang mungkin terjadi. Ini berarti investasi dalam bentuk saham menjanjikan keuntungan sekaligus resiko. Kelaziman yang sering dijumpai adalah bahwa semakin besar return yang diharapkan (expected), semakin besar peluang resiko yang terjadi.

Botten dan Weigand mengatakan bahwa ekspektasi untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar di masa mendatang berpengaruh positif terhadap harga saham. Studi dari Purnomo dan Topkis mengatakan bahwa earning per share berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham.

Pemilikan saham yang baik akan dilihat seiring berjalannya waktu dengan perbandingan pendapatan perusahaan (earning). Investor saham mempunyai kepeningan terhadap informasi antara lain tentang EPS, ROA, tingkat bunga deposito dalam melakukan penentuan harga saham. Silalahi mengatakan bahwa ROA mempunyai pengaruh yang dominan terhadap harga saham.

Dalam setiap perusahaan harus dapat mengelola aktivanya secara efektif agar aktiva yang dimilikinya tersebut dapat menghasilkan hasil yang optimal.

Sedangkan EPS, menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan lebih bersih per lembar saham yang merupakan indikator fundamental. Keuntungan perusahaan yang sering kali dipakai sebagai acuan untuk mengambil keputusan investasi dalam saham. Dan untuk fluktuasi tingkat bunga akan mempengaruhi keputusan investasi dalam saham apakah dalam bentuk deposito atau tabungan.

Berdasarkan fakta tersebut di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah:
(1). Apakah profitabilitas, suku bunga, inflasi, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika secara bersama-sama mempengaruhi harga saham badan usaha selama krisis ekonomi terjadi di Indonesia?
(2). Apakah profitabilitas, suku bunga, inflasi, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika secara parsial mempunyai pengaruh terhadap harga saham badan usaha selama terjadi krisis ekonomi di Indonesia?

Perubahan harga saham dipengaruhi oleh beberapa faktor, dimana Boedie, Kane dan Markus mengatakan ada tujuh faktor yang mempengaruhi, yaitu:
(1) Gross Domestic Product (GDP);
(2) Inflasi;
(3) tingkat pengangguran;
(4) suku bunga;
(5) nilai tukar;
(6) transaksi berjalan;
(7) defisit anggaran.

Sedangkan Weston dan Brigham juga mengatakan bahwa perubahan harga saham dipengaruhi oleh;
(1) proyeksi laba per saham,
(2) ketepatan waktu aliran laba,
(3) tingkat risiko dari laba yang diproyeksi,
(4) penggunaan hutang,dan
(5) kebijakan dividen.

Kelima faktor yang mempengaruhi perubahan harga saham berdasarkan rujukan dari Weston dan Brigham tersebut di atas tertuang dalam kinerja badan usaha karena sangat tergantung pada kebijakan manajemen badan usaha. Dengan demikian perubahan harga saham di pasar modal dapat dipengaruhi oleh delapan faktor yakni;
(1) GDP,
(1) inflasi,
(3) tingkat pengangguran,
(4) suku bunga,
(5) nilai tukar,
(6) transaksi berjalan,
(7) defisit anggaran dan
(8) kinerja badan usaha.

Namun tidak semua faktor tersebut dapat digunakan sebagai variabel penelitian; antara lain: GDP, tingkat pengangguran, transaksi berjalan dan defisit anggaran.

Yang paling besar dalam mempengaruhi perubahan harga saham adalah;
(1) variabel suku bunga;
(2) Selanjutnya diikuti oleh nilai tukar;
(3) Profitabilitas dan terakhir
(4) Inflasi.

Selain itu suku bunga dan
inflasi mempunyai hubunga negatif terhadap harga saham tetapi tidak demikian dengan profitabilitas dan nilai tukar rupiah terhadap dollar yang justru mempunyai hubungan
positif.

Ini berarti kenaikan suku bunga sebesar 1% dapat menurunkan harga saham sebesar 12.3%, atau sebaliknya.

Demikian juga turunnya inflasi sebesar 1% akan
meningkatkan harga saham sebesar 0.838%, atau sebaliknya.

Namun tidak demikian dengan profitabilitas dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, dimana naiknya profitabilitas badan usaha sebesar 1 % akan meningkatkan harga saham sebesar 5.125% atau sebaliknya.

Demikian juga meningkatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar sebesar 1% akan meningkatkan harga saham 11.6%, atau sebaliknya.

Berdasarkan derajat kesalahan sebesar 5%, menunjukkan bahwa secara terpisah (parsial) terbukti hanya suku bunga dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika menunjukkan pengaruh secara signifikan terhadap harga saham badan usaha sensitif selama krisis ekonomi di Indonesia.

Oleh karena itu secara parsial suku bunga atau nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang dapat digunakan untuk memprediksi perubahan harga.

 

***