fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


9 Ramadhan 1442  |  Rabu 21 April 2021

Right Issue dan Bukti Right

Right Issue dan Bukti RightFiqhislam.com - Bagi perusahaan publik (public company), akses untuk mendapatkan dana segar relatif lebih luas dibanding perusahaan tertutup (private company). Mengapa? Karena pemegang sahamnya adalah publik. Salah satu akses dana itu adalah berupa setoran modal baru dari pemegang saham.

Nah, karena pemegang sahamnya publik, maka akses dana itu tidak terbatas pada pemegang saham utama atau pendiri, tetapi juga pada pemegang saham publik, baik di dalam negeri maupun luar negeri, baik individu maupun institusi. Oleh karena itu, semakin besar jumlah pemegang saham, maka semakin luas pula akses dana yang dimiliki perusahaan.

Bagi perusahaan publik yang sahamnya sudah tercatat dan diperdagangkan di bursa efek, teknik untuk mendapatkan setoran baru dari pemegang saham adalah dengan cara menawarkan saham baru secara terbatas kepada pemegang saham. Cara ini lebih dikenal dengan nama penawaran umum (saham) terbatas (right issue). Artinya, perusahaan menerbitkan dan menawarkan saham baru hanya kepada pemegang saham yang tercatat. Soal apakah pemegang saham lama akan membeli atau tidak terhadap saham baru itu sepenuhnya adalah hak pemegang saham lama.

Yang jelas, setiap pemegang saham lama memiliki Hak untuk Memesan Efek Terlebih Dahulu  (HMETD) dalam right issue yang akan dilakukan. Hanya saja, tidak setiap investor memiliki minat yang sama untuk membeli saham tersebut. Ada investor yang berminat dan ada investor yang tidak berminat untuk membeli saham baru yang ditawarkan.

Alasannya tentu bermacam-macam. Ada yang beralasan karena tidak memiliki uang cukup untuk membeli dan ada juga yang beralasan karena saham baru yang ditawarkan tidak menjanjikan keuntungan. Bagi yang tidak berminat harus disadari bahwa hal itu akan menyebabkan terjadinya efek dilusi yakni berkurangnya komposisi kepemilikan investor tersebut di perusahaan.

Seperti disebutkan di atas, bahwa pemegang saham lama memiliki hak (right) untuk memesan efek terlebih dahulu. Namun, jika pemegang saham lama tidak membeli saham baru yang ditawarkan melalui right issue maka haknya bisa atau dapat dialihkan kepada orang atau pihak lain. Dalam praktik sehari-hari, hak investor itu berbentuk bukti right. Bukti right ini bisa dijual ke pasar. Pemegang saham lama bisa mendapatkan dana segar dari penjualan bukti right tersebut. Ini merupakan kompensasi terhadap dilusi yang dialami pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya.

Ilustrasinya begini. PT Indonesia Makmur Tbk memiliki total saham 1 miliar lembar. Harga di pasar Rp2.200 per lembar. Untuk kebutuhan ekspansi, PT Indonesia Makmur akan melakukan penawaran umum sebanyak 250 juta lembar saham dengan perbandingan pemegang 4 saham lama berhak untuk memesan terlebih dahulu 1 saham baru yang dijual dengan harga Rp2.000 per lembar. Dari penawaran umum ini, PT Indonesia Makmur Tbk mengantongi dana segar Rp500 miliar.

Investor X memiliki saham PT Indonesia Makmur Tbk sebanyak 1 juta lembar atau 0,1 persen. Tapi karena alasan tertentu ia tidak membeli saham baru yang ditawarkan. Karena memiliki 1 juta saham lama, maka investor X memiliki bukti right untuk membeli 250 ribu lembar saham baru. Misalkan bukti right terjual dengan harga Rp100, maka dari penjualan bukti right itu investor X mengantongi dana segar Rp25 juta. Sementara, investor yang membeli bukti right dari Investor X tadi – sebut saja investor Y –  bisa membeli saham PT Indonesia Makmur Tbk dengan harga Rp2.000, bukan Rp2.200. Modal total investor Y adalah Rp2.100 per saham. Jika harga saham PT Indonesia Makmur Tbk di pasar tetap diperdagangkan dengan harga Rp2.200, maka investor Y memiliki potensi gain Rp100 per saham.

Begitulah manfaat bukti right. investor tidak perlu khawatir mengalami dilusi akibat right issue yang dilakukan emiten. Dalam kasus-kasus penawaran umum seperti ini, yang dikhawatirkan adalah harga saham di pasar turun hingga lebih rendah dari harga right issue. Jika hal seperti ini terjadi, maka pembeli siaga (biasanya perusahaan penjamin emisi) akan tekor, alias rugi. Investor jelas tidak akan membeli saham baru yang ditawarkan karena saham lama di pasar lebih murah. (Tim BEI)

okezone.com