fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Operation Twist

Operation TwistFiqhislam.com - Amerika Serikat saat ini ibaratnya sebuah mobil yang mogok karena akinya soak. Sejak krisis kredit perumahan melanda pada tahun 2008, segala macam upaya telah dilakukan untuk membangunkan aktivitas ekonominya.

Suku bunga terus diturunkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Saat ini suku bunga Treasuries 10 tahun telah berada di level yang sangat rendah, yaitu 1,95%. Sampai dengan saat ini sepertinya tidak ada tanda-tanda perbaikan.

Tingkat pengangguran tetap tinggi di level 9% dan masyarakat masih berharap-harap cemas. Tingkat kepercayaan masyarakat benar-benar telah runtuh dan terus-menerus memburu emas yang dianggap sebagai safe heaven. Dengan cepat harga emas terus melambung ke level yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Pandangan mata dunia keuangan terus tertuju pada The Fed yang jumpalitan melakukan akrobat untuk menyelamatkan ekonomi AS. Setelah menurunkan suku bunga ke titik nadir, The Fed meluncurkan kebijakan QE (Quantitative Easing) untuk membeli obligasi federal yang mulai membusuk dengan mencetak uang baru.

Pada episode kali ini, The Fed mengerahkan jurus terbarunya, yaitu Operation Twist. Seperti namanya, operasi ini dilakukan dengan menukar surat utang jangka pendek dengan surat utang jangka panjang. Setelah meluncurkan kebijakan QE, saat ini The Fed telah memiliki obligasi federal yang bernilai sekitar $1,65 triliun.

Sebagian besar obligasi tersebut berdurasi menengah (medium-term) yang akan jatuh tempo dalam satu atau dua tahun. Jadi, The Fed berencana untuk menukarkan obligasi yang dimilikinya tersebut dengan obligasi yang lebih panjang masa jatuh temponya. Hal inilah yang membedakan Operation Twist dengan QE.

Pada Operation Twist, The Fed membeli surat berharga jangka panjang dengan cara trade-in (menukar) yang berbeda dengan QE di mana pembelian dilakukan dengan mencetak uang baru.

Apa maksud dari operasi ini?

Suku bunga surat berharga jangka panjang akan berkaitan dengan suku bunga KPR (Kredit Kepemilikan Rumah), belanja perusahaan (Capital Expenditure / Capex), ataupun suku bunga KPM (Kredit Kepemilikan Mobil). Dengan kata lain, surat berharga jangka panjang berkaitan erat dengan bergeraknya roda perekonomian. Sementara itu, suku bunga surat berharga jangka pendek berkaitan dengan perputaran valas ataupun kebutuhan modal kerja (working capital).

Saat operasi tersebut dijalankan, permintaan atas surat berharga jangka panjang akan meningkat sehingga harganya akan naik. Dengan demikian, yield (imbal hasil) akan menurun. Kok bisa? Ya bisa lah. Hal tersebut sama saja seperti apabila kita membeli saham dengan harga yang mahal, potensi imbal hasil kita akan menurun juga. Yield merupakan perbandingan antara bunga dengan harga. Apabila harga naik otomatis yield-nya akan turun. Yield berkaitan dengan suku bunga. Apabila yield turun, maka suku bunga juga turun.

Jadi, inti dari kebijakan ini serupa dengan yang sudah-sudah yaitu menurunkan suku bunga untuk merangsang laju pertumbuhan ekonomi. Sebenarnya kebijakan ini pernah dilakukan pada masa pemerintahan John F. Kennedy pada tahun 1961. Saat itu ekonomi AS sedang lesu dan operasi ini dilakukan untuk menambah darah. Sayangnya saat itu efeknya tidak terlalu terasa karena hanya mampu sedikit menurunkan tingkat suku bunga. Nama Operation Twist sendiri diilhami oleh lagu yang dinyanyikan oleh Chubby Checker dengan judul “Twist”.

Pernahkan Anda mencoba menstarter mobil yang mogok karena akinya soak? Sampai berkali-kali pun mesin tetap tidak mau menyala. Jika memang kondisinya seperti itu, mungkin bukan ide yang buruk untuk mencoba cara lain. Kita bisa mencoba ‘memancing’ mobil agar menyala dengan menyambungkannya dengan aki lain atau malahan mengganti akinya.

Saat ini policy untuk memperbaiki kondisi ekonomi lebih ditekankan pada sisi moneter. Ada baiknya mazhab Keynesian mulai ditengok kembali. Pemerintah harus berperan lebih aktif untuk memacu tingkat kepercayaan masyarakat dan menurunkan tingkat pengangguran.

Operation Twist dan Harga Emas

Emas merupakan instrumen yang unik. Kita bisa melakukan analisis dan valuasi terhadap saham dengan bantuan angka-angka yang ada di laporan keuangan. Lalu apa yang bisa kita jadikan pegangan untuk mengetahui harga wajar emas? Emas memang tidak seperti mata uang yang selalu dibuntuti oleh suku bunga. Nilai emas selalu tetap sementara nilai mata uang selalu melemah karena adanya inflasi. Yang bisa kita lakukan adalah memantau kaitan pergerakan emas dengan parameter lainnya seperti tingkat inflasi ataupun pertumbuhan GDP.

Sejujurnya, harga emas lebih dipengaruhi oleh kondisi politik dan ekonomi. Semakin buram gambarannya, semakin tinggi harga emas. Lalu bagaimana efek Operation Twist terhadap harga emas? Umumnya harga emas akan melonjak ketika kondisi ekonomi menjadi tidak menentu di mana suku bunga terus menurun untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

Sebuah pancingan yang berhasil terhadap pertumbuhan ekonomi akan memicu The Fed untuk menaikkan suku bunga yang berakibat kurang bagus terhadap harga emas. Hal ini pernah terjadi ketika Volcker menjadi gubernur Fed. Saat ini suku bunga sudah teramat sangat rendah dan peluru yang dimiliki untuk menurunkannya semakin menipis.

Jika memang ekonomi bangkit, sebuah keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga akan menimbulkan spekulasi yang membuat harga emas mengalami erosi. Saat ini terdapat ruang yang teramat luas bagi suku bunga untuk naik.

Oleh Parahita Irawan, Penulis Buku 'Investing Ideas'
parahita.wordpress.com