12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Ngobrol Tentang Capex

Ngobrol Tentang CapexFiqhislam.com - Kali ini kita akan berdiskusi tentang Capex (Capital Expenditure). Untuk mengingatkan, yang disebut dengan Capex adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh ataupun meng-upgrade aset tetap seperti tanah, bangunan, dan mesin produksi.

Secara langsung nilai dari capex akan berpengaruh terhadap besarnya pos PPE (property, plant & equipment) di bagian non current assets. Pada umumnya, agar dapat berekspansi, perusahaan harus mengeluarkan capex untuk memperbesar kapasitas produksi. Besar kecilnya capex bergantung pada perkembangan usaha ataupun target yang ingin dicapai oleh manajemen.

Andaikan sebuah perusahaan yang memproduksi kecap memiliki kapasitas produksi 10.000 botol kecap per hari. Saat ini perusahaan tersebut rata-rata memproduksi 9.500 botol kecap per hari atau dengan kata lain utilisasinya mencapai 95%. Jika perusahaan merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi ini, maka dapat dikatakan bahwa produksi botol kecapnya cukup efisien.

Lain halnya jika ternyata manajemen melihat ada peluang untuk menjual 2.000 botol kecap tambahan per harinya.  Tentu saja, dengan kapasitas produksi yang ada saat ini, perusahaan tidak akan mampu untuk menangkap peluang tersebut.  Jika ingin dapat memproduksi lebih banyak botol kecap, perusahaan harus membeli mesin tambahan. Dana yang digunakan untuk membelinya inilah yang disebut dengan capex.

Perlu diingat bahwa pada kondisi tidak berekspansi pun, perusahaan tetap harus mengeluarkan biaya untuk mengganti mesin-mesin yang sudah habis masa pakainya ataupun rusak. Biaya ini dikenal dengan nama maintenanc capex. Karena biaya yang dikeluarkan digunakan untuk mengganti mesin lama, maka tidak ada penambahan kapasitas. 

Bagaimana cara menghitung maintenance capex? Pendekatan yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan menyamakan nilainya dengan depresiasi. Hal ini berangkat dari pemikiran bahwa depresiasi secara pembukuan menyatakan berkurangnya nilai aset tetap atau dengan kata lain pengurangan kapasitas.

maintenance capex = depresiasi

Sebagai contoh, pada tahun 2010 besarnya depresiasi AUTO adalah 127 miliar rupiah. Berdasarkan definisi di atas, maka besarnya maintenance capex adalah 127 miliar rupiah juga. Permasalahan dari metode ini adalah adanya perbedaan perhitungan depresiasi (stright line atau double declining) sehingga penggunaan depresiasi sebagai acuan penentuan maintenance capex cenderung misleading.

Cara lain yang lebih akurat adalah dengan menghitung persentase PPE terhadap sales/revenue dan kemudian mencari rata-rata persentase tersebut selama beberapa tahun terakhir. Dengan demikian kita dapat mengetahui seberapa besar fixed asset yang dibutuhkan untuk nilai penjualan tertentu.

Kalikan persentase tersebut dengan pertumbuhan/penurunan penjualan dari tahun sebelumnya untuk memperkirakan besarnya growth capex. Kurangkan total capex dengan growth capex dan kita akan memperoleh estimasi nilai maintenance capex. Metode perhitungan maintenance capex ini diperkenalkan oleh Bruce Greenwald.

Mari kita melihat contoh dari AUTO.

Terlihat bahwa rata-rata perbandingan antara PPE terhadap revenue adalah 15,76%. Dengan angka tersebut kita dapat memperkirakan kebutuhan capex untuk maintenance alat produksi.

Dari contoh AUTO, terlihat bahwa pada tahun 2010, berdasarkan cara pertama maintenance capex-nya adalah 127 miliar sementara dengan menggunakan cara kedua estimasi maintenance capex-nya adalah 274 miliar. Terlihat bahwa nilai berbeda sangat jauh. 

Mengapa bisa begitu? Nilai depresiasi telah ditetapkan di awal, baik dengan menggunakan stright line method ataupun double declining method sementara pada kenyataannya, nilai maintenance capex bergantung pada perkembangan bisnis. Seandainya kondisi ekonomi memburuk sehingga penjualan menurun, maka mesin produksi yang sudah habis masa pakainya kemungkinan tidak perlu diganti karena masih cukup untuk mengakomodir permintaan.

Menghitung maintenance capex berguna bagi kita untuk mengetahui apakah suatu perusahaan benar-benar tumbuh ataukah hanya sekedar bertahan hidup. Jika dari tahun ke tahun maintenance capex-nya sangat kecil sementara penjualan terus naik.

Ada kemungkinan bahwa sebelumnya banyak sekali kapasitas produksi yang tidak terutilisasi dengan baik. Kondisi terburuk terjadi ketika sales terus menurun dan maintenance capex sangat kecil. Hal ini menandakan adanya kemungkinan perusahaan sudah berada pada masa senjanya.

Perusahaan yang baru tumbuh akan memiliki growth capex yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan maintenance capex-nya. Perusahaan seperti ini sedang giat-giatnya berekspansi. Hanya saja, tetap waspadai apabila tidak terjadi pertumbuhan revenue yang signifikan karena ada kemungkinan perusahaan hanya burning money.

Oleh Parahita Irawan, Penulis Buku 'Investing Ideas'
parahita.wordpress.com