fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

BI Rate

BI RateBank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin dari 6,75 persen menjadi 6,5 persen.

Fiqhislam - Keputusan ini bagaikan semilir angin segar di tengah gejolak pasar keuangan yang membuat pelaku pasar dalam dua bulan ini merasa tegang. Mudah-mudahan hembusan yang semilir itu tidak hilang begitu saja tanpa makna.

Penurunan BI Rate ini merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ancaman perlambatan ekonomi nasional akibat krisis di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Lantas apa kaitannya dengan kondisi pasar saham di bursa efek? Ada hubungan apa antara besaran BI Rate dengan indeks saham di bursa? Sebenarnya BI Rate memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan indeks harga saham di bursa.

Ketika ada kepastian penurunan BI Rate menjadi 6,5 persen, pasar seolah-olah seperti mendapat suntikan energi baru dan sekonyong-konyong situasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi semarak.

Investor, baik asing maupun domestik, antusias memasuki pasar. Aksi beli terjadi hampir di semua saham unggulan. Pada Selasa 11 Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI ditutup naik 80,669 poin (2,34 persen) ke posisi 3.531,753.

IHSG bahkan sempat menguat lebih dari 110 poin ke 3.563. Minat beli berlanjut hingga perdagangan Rabu 12 Oktober. IHSG kembali meningkat sebesar 104,178 poin atau 2,95 persen ke titik 3.635,931.

Tak pelak, nilai transaksi pun ikut melonjak hingga nyaris mencapai Rp6 triliun, persisnya Rp5.969 triliun. Bagaimana menjelaskan benang merah yang menghubungkan BI Rate dengan gerakan IHSG di pasar.

Di atas kertas, pergerakan indeks saham (tentu juga harga saham) memang berbanding terbalik dengan nilai tingkat suku bunga bank. Jika bunga bank naik, maka indeks saham turun. Sebaliknya, jika suku bunga turun maka indeks saham naik.

Meskipun faktanya teori itu tidak selalu berjalan linier, namun begitulah teorinya. Penjelasannya begini. Perlu diketahui bahwa BI Rate adalah bunga acuan bagi perbankan. Nah, jika BI Rate turun, maka sudah semestinya biaya kredit (cost of fund) yang disalurkan perbankan ke perusahaan juga menjadi turun.

Perusahaan akan lebih mudah mendapatkan kredit komersial dengan biaya yang lebih rendah. Dengan turunnya cost of fund, maka dengan sendirinya perusahaan bisa mencetak laba bersih (nett profit) yang lebih tinggi.

Begitu pun jika BI Rate naik, maka suku bunga kredit perbankan juga akan naik. Dari sisi perusahaan yang memperoleh kredit, hal itu berarti peningkatan beban biaya, sehingga konsekuensi selanjutnya akan menurunkan nilai laba bersih perseroan. Oleh karena itu, ketika bunga bank tinggi, investasi di saham menurun dan dialihkan ke deposito.

Saat ini bunga kredit perbankan bergerak di kisaran 15 persen hingga 20 persen. Bunga kredit ini dinilai terlalu tinggi. Dengan turunnya BI Rate menjadi 6,5 persen, diharapkan bunga kredit turun ke kisaran 10 persen hingga 12 persen.

Di sini tampak jelas ada penghematan biaya kredit. Dari sisi kinerja emiten atau perusahaan publik, pemotongan biaya kredit sebesar lima persen hingga delapan persen merupakan penghematan yang signifikan, dan karenanya diharapkan bisa meningkatkan kinerja keuangan si emiten.

Tentu saja peningkatan kinerja emiten harus diapresiasi oleh pasar. Jika kinerja keuangan semakin membaik, maka harga saham di pasar juga akan semakin bagus. Di sinilah benang merah antara perubahan BI Rate dan perubahan indeks saham terlihat jelas.

Oleh karena itu, wajar sekali jika harga saham naik akibatnya turunnya BI Rate. Kita berharap ini sebagai titik awal menuju pemulihan pasar. (Tim BEI)

economy.okezone.com